PSI: Saatnya Pemko Pekanbaru Beralih ke Pengelolaan Sampah yang Bernilai Jual

Redaksi Redaksi
PSI: Saatnya Pemko Pekanbaru Beralih ke Pengelolaan Sampah yang Bernilai Jual
Parlindungan Hasibuan, S.Ip.(Foto: Ist)

PEKANBARU - Berbicara tentang penanganan sampah di masa ini, kita sudah harus merubah paradigma dari hanya berbicara soal pengangkutan dari rumah warga ke tempat penampungan hingga ke tempat pembuangan akhir. Tapi harus berubah kepada konsep pengelolaan dan pemanfaatan sampah.

Pengelolaan sampah di era maju saat ini adalah bagaimana menjadikan sampah tidak sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai sesuatu yang berguna, bernilai jual dan pastinya harus ramah lingkungan.

Di Indonesia umumnya dan khususnya di Pekanbaru selama berpuluh-puluh tahun masih menggunakan sistem landfill atau sistem tanam hingga saat ini. Suatu Sistem yang sudah tidak layak lagi dipertahankan karena banyak menimbulkan dampak negatif. Salah satunya dampak pencemaran lingkungan di mana terjadinya pencemaran tanah.

Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Pekanbaru Bidang Lingkungan Hidup, Parlindungan Hasibuan. S. IP kepada riaueditor.com menyampaikan, perlunya suatu terobosan pengelolaan sampah. Ada pertimbangan dari berbagai aspek yang mendorong kita harus segera merubah kebijakan dalam pengelolaan sampah, khususnya aspek kelestarian lingkungan, aspek ekonomi serta pertambahan jumlah penduduk yang pesat yang membuat volume sampah terus bertambah banyak.

"Pengelolaan sampah yang diterapkan Pemko saat ini kami lihat bukanlah solusi yang benar atas berbagai permasalahan yang terjadi. Di mana yang dilakukan saat ini, hanya sebatas pengangkutan dan pembuangan saja. Padahal bukan hanya itu yang menjadi substansi permasalahan sampah di kota ini," kata Parlindungan.

Di tengah perkembangan kota yang kian pesat, sepatutnya Pemko mengadopsi pola pengelolaan sampah yang menggunakan teknologi sederhana dengan mempertimbangkan nilai positif terhadap lingkungan serta berpotensi menghasilkan PAD. Di mana sampah yang dikelola bisa berkontribusi terhadap anggaran yang dibutuhkan untuk penanganannya.

Memanfaatkan teknologi sederhana yang sebenarnya jika dilakukan justru dapat menguntungkan, seperti memilah sampah organik, dan non organik termasuk sampah yang harus dimusnahkan serta sampah yang bisa didaur ulang untuk diolah menjadi benda yang bernilai jual.

Pemerintah sering berfikir untuk berinvestasi membeli teknologi modern serta berbiaya tinggi seperti yang digunakan negara-negara maju. High technologi tentunya akan berbanding lurus dengan high cost. Sementara, kondisi keuangan Pemko Pekanbaru bisa dipahami cukup terbatas untuk itu.

"Pemko Pekanbaru tak perlu berfikir terlalu rumit ingin menerapkan pola pengelolaan sampah seperti di negara maju yang sudah modern, high technology tentunya juga high cost. Di negara maju umumnya didukung lagi dengan kesadaran masyarakat yang juga cukup tinggi. Situasi ini tentu sangat berbeda dengan Indonesia dan Pekanbaru secara khusus," papar Wakil Ketua DPDS PSI Pekanbaru yang juga Caleg PSI Dapil Pekanbaru VI ini.

Memang sebut Parlindungan, perubahan pola ini tak semudah membalikkan telapak tangan, perlu berproses dan butuh waktu dan penyempurnaan terus-menerus. Namun jika tak dimulai, tentunya tak akan tahu seperti apa untung ruginya dan tidak akan tahu pola pengelolaan sampah yang ideal di Kota Pekanbaru.

Yang pasti, ketika konsep baru pengelolaan sampah kota ini dijalankan, maka harus ada evaluasi berkala untuk ke depannya terus semakin disempurnakan.

Parlindungan juga menggambarkan munculnya peluang komersial dan kesempatan kerja bagi masyarakat. Mulai dari awal pengangkutan sampah ke tempat penampungan sementara. Yang ditempatkan secara terdistribusi di Kecamatan-kecamatan.

Di penampungan sementara, apakah nantinya di tingkat kelurahan atau kecamatan, dengan menggunakan teknologi-teknologi sederhana seperti silo dan conveyer belt (ban berjalan), secara manual sampah dapat dipilah menjadi beberapa jenis untuk kemudian dibawa ke lokasi pengolahan sesuai jenis sampah yang dihasilkan.

"Dalam pemilahan sampah ini sudah terbuka kesempatan bagi warga untuk bekerja. Belum lagi pada proses berikutnya, misalnya pada proses recycling sampah organik dan non organik yang memanfaatkan teknologi sederhana tadi," papar Parlindungan.

Lagi, Parlindungan Hasibuan menilai pengelolaan sampah dengan cara landfill yang masih umum dilakukan di Indonesia saat ini, sudah tak pantas lagi untuk diterapkan di Pekanbaru. Aspek kerusakan lingkungan menjadi salah satu pertimbangan utama serta daya dukung alam yang semakin menurun untuk menampung limbah yang terus menerus dimasukkan ke dalam tanah.

Sudah saatnya pengelolaan sampah di Kota Pekanbaru beralih ke pola-pola dengan memanfaatkan teknologi yang sifatnya menghasilkan cuan dan tentunya juga ramah lingkungan. Pola ini tentunya berproses dan dilakukan bertahap.

Pemerintah di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Pekanbaru yang saat ini melibatkan kontraktor sebagai pihak ketiga, turut disinggung oleh Parlindungan. "Ketika terjadi persoalan, pemerintah menunjuk pihak ketiga yang bertanggung jawab. Seolah-olah tanggung jawab pemko ini hanya mengumpulkan uang untuk membayar para kontraktor, " cetusnya.

Dia menilai penanganan sampah seperti yang dilakukan di masa mantan Walikota Almarhum Herman Abdullah sudah tepat. Di mana pengelolaan sampah pada masa itu melibatkan unsur pemerintahan hingga ke tingkat RT.

"Hanya sekarang sistem pengelolaannya saja yang diubah, yakni memanfaatkan sampah yang dianggap sebagai Limbah, menjadi benda yang memiliki nilai jual. Tentunya sistem ini tetap harus melibatkan unsur masyarakat, seperti RT dan RW. Di sanalah opportunity akan terbuka," ujar Parlindungan mengakhiri.(Andi)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini