Bau Kandang Babi Cemari Pelabuhan Kuala Asam

Redaksi Redaksi
Bau Kandang Babi Cemari Pelabuhan Kuala Asam
azw/riaueditor.com
Bau Kandang Babi Cemari Pelabuhan Kuala Asam.
SELATPANJANG, riaueditor.com - Bau kandang Babi yang menyengat hidung membuat warga Kuala Asam, Kelurahan Teluk Belitung Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti mengeluh. Pasalnya sejumlah kandang babi yang berdekatan dengan pelabuhan Kuala Asam tersebut menimbulkan bau yang menyengat hingga di area pelabuhan.

"Masalahnya, mereka membangun kandang babi berdekatan dengan pelabuhan, jaraknya hanya sekitar kurang lebih 30 meter dari pelabuhan. Bau busuknya itu sampai ke pelabuhan," ujar Andi Saputra, seorang pemuda Teluk Belitung, Kamis (15/10/15).

Kata Andi, pelabuhan Kuala Asam tersebut merupakan tempat bersandarnya kapal fery dan speedboat tujuan Selatpanjang dan Bengkalis. Akibat kandang babi, dan menurut Andi, pelabuhan Kuala Asam tersebut berbau kotoran babi.

Tidak hanya Andi, bau busuk kandang Babi juga dikeluhkan oleh Suriman, warga Kuala Asam yang berprofesi sebagai nelayan ini juga mengaku terganggu, akibatnya Suriman terpaksa harus melaut lebih jauh ke tengah laut untuk menghindari bau yang menyengat tersebut. Selain menimbulkan mual, Suriman juga kerap pusing saat angin membawa aroma bau busuk ke arahnya.

"Apalagi kalau belum sarapan, dalam keadaan perut kosong tercium bau busuk, kepala saya langsung pening," ujar Suriman.

Suriman mengungkapkan, kandang babi milik peternak memang sangat menganggu kenyamanan masyarakat di sekitar sini, karena menimbulkan bau yang sangat menyengat hidung terlebih pada musim hujan atau musim surut, sebab kotoran babi yang jatuh ke tepian laut tidak hanyut ke tengah lautan.

"Kami merasa tidak nyaman. Apalagi pada musim hujan bau menyengat yang bersumber dari kandang babi membuat warga tidak tahan,"ujarnya.

Tidak hanya itu, Suriman juga mengungkapkan, tidak tertibnya kandang ternak babi tersebut juga mengundang datangnya lalat hijau. Suriman juga khawatir dengan virus flu Babi yang sewaktu-waktu ditimbulkan oleh hewan tersebut.

Sementara itu, Lurah Teluk Belitung, Khasmiatun, S.Hum mengatakan, pihak kelurahan beserta Camat Merbau telah menegur sejumlah peternak babi yang berada di tepian laut agar memindahkan kandang babi mereka ke kawasan yang tidak mengganggu lingkungan. Namun kendalanya para peternak babi tidak memilki lahan untuk tempat dibangun nya kandang babi mereka.

Padahal tak satupun dari mereka yang memiliki hak atas tanah tersebut. Menurut Khasmiatun, pada umumnya para peternak hanya memakai lahan tersebut. Khasmiatun juga mengungkapkan, keberadaan kandang babi tersebut telah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Beternak babi bagi masyarakat suku tionghoa menurut Khasmiatun merupakan usaha turun temurun yang dilakoni masyrakat tersebut.

"Ada 6 peternak babi yang saat ini berada di sekitar pelabuhan, selebihnya sudah pindah. Sebelum dibangun pelabuhan itu, kami sudah sampaikan ke RT dan RW agar merelokasi kandang-kandang itu, namun peternak babi belum mampu membeli lahan baru," ungkapnya.(azw)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini