Buta Aksara Alquran di Riau Memprihatinkan, Harus Jadi Perhatian Bersama

Redaksi Redaksi
Buta Aksara Alquran di Riau Memprihatinkan, Harus Jadi Perhatian Bersama
Edy Natar Nasution.(Foto: Ist)

PEKANBARU - Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, buta aksara membaca Alquran di Indonesia mencapai 53,57 persen, sedangkan di Kota Pekanbaru di tahun 2012 sebesar 35 persen.

Gubernur Riau (Wagubri) Edy Natar Nasution mengatakan bahwa kondisi tersebut cukup memprihatikan, sebab Indonesia merupakan negara berpenduduk Islam terbesar di dunia.

"Ini harus menjadi keprihatinan dan perhatian kita semua, bagaimana ke depannya kita hidup di Bumi Melayu yang identik dengan keIslaman ini tentunya boleh dikatakan buta aksara Alquran tidak boleh terjadi," kata Wagubri saat menghadiri dan membuka kegiatan MTQ tingkat kelurahan di wilayah Kelurahan Tangkerang Tengah Kecamatan Marpoyan Damai Kota Pekanbaru, di Masjid Khairunnas, Jalan Kereta Api Ujung, Senin (16/1/2023).

Jika menyandang status sebagai orang Melayu yang identik dengan Islam, Wagubri menilai keprihatinan tersebut harus menjadi tugas bersama, sehingga angka buta huruf membaca Alquran bisa semakin berkurang di Provinsi Riau khususnya Pekanbaru.

Adapun langkah yang harus dilakukan, menurut Edy Nasution, yakni melakukan pembinaan secara terus menerus yang dimulai dari rumah ibadah atau masjid.

"Rumah-rumah ibadah harus menjadi tempat yang ramah dan nyaman terutama bagi anak-anak, dan rumah ibadah juga harus terbuka," jelasnya.

Wagub melihat buta aksara membaca Alquran tidak hanya terjadi pada kalangan orang dewasa saja, namun generasi muda juga mengalami hal tersebut.

Untuk itu, dengan adanya pembinaan yang dilakukan di masjid-masjid diharapkan semakin banyak masyarakat yang ingin belajar dan menahami kitab suci Alquran.

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini