Masjid Sidi-Uqba. (iStockphoto/Denis Kabanov)Pusat peradaban
Selama penguasaan Aghlabiyah, Kairouan disulap menjadi kota termegah dan pusat peradaban.
Sebuah masjid didirikan, yang kini menjadi masjid tertua di Afrika. Masjid itu pula dijadikan sebagai sebuah universitas yang mendidik baik dalam pengembangan pemikiran Islam maupun ilmu umum.
Peran universitas itu dapat dibandingkan dengan University of Paris pada abad pertengahan. Sehingga, pada abad ke-9, kota ini menjadi pusat perkembangan budaya Arab dan Islam yang menarik para ilmuwan untuk datang belajar.
Banyak ulama dan tokoh besar yang muncul dari kota ini, salah satunya adalah Imam Suhnun bin Malik yang merupakan pengarang kitab Al-Mudawwanah yang mempunyai peran besar dalam mazhab Maliki.
Selain itu juga ada Imam Zayid Al-Qayrawani, Yahya bin Salamah Al-Bashri, dan tokoh ahli dalam bidang kedokteran, yaitu Ibnul Jazzar.
Dari kota ini juga, lahir seorang perempuan dan muslimah pertama dalam sejarah peradaban Islam yang mendirikan universitas, yaitu Universitas Al-Qarawiyin di Maroko.
Dia adalah Fatimah al-Fihri, seorang perempuan yang lahir dari kota yang penuh dengan sejarah, yang kemudian mendirikan sebuah universitas yang sangat bersejarah.
Pada tahun 893, Abdullah al-Mahdi memulai penaklukan Tunisia atas nama Syiah Fatimiyah dan berhasil menguasai seluruh wilayah dinasti Aghlabiyah yang beraliran Sunni pada tahun 909.
Selama masa pemerintahan Fatimiyah, Kairouan mulai diabaikan dan kehilangan perannya. Ibukota Ifriqiyah berpindah ke Raqqada lalu ke Al-Mahdiyah, sebuah kota di pinggiran pantai.
Setelah berhasil menguasai wilayah Maghrib, dinasti Fatimiyah memindahkan pusat kekuatannya ke timur di Mesir dan menjadikan Kairo sebagai ibukota. Pada saat itu juga seluruh kejayaan Kairouan dipindahkan.
Untuk menggantikan peran masjid Uqbah bin Nafi sebagai pusat universitas, Fatimiyah membangun sebuah masjid di Kairo yang juga berfungsi sebagai universitas.
Wilayah Ifriqiyah, termasuk Kairouan, kemudian diserahkan kepada Zirid yang mulai mengembalikan kejayaan kota itu, terutama dalam bidang kesenian, perdagangan dan pertanian.
Sekolah dan universitas berkembang pesat, hasil pertanian tinggi, serta perdagangan yang berskala internasional.
Namun setelah Zirid menyatakan kemerdekaan dari Kairo dan berpindah ke Sunni pada tahun 1045, Khalifah Fatimiyah, Mustansir Billah mengirim sepasukan penuh Bani Hilal dan Bani Sulaim untuk menyerang Ifriqiyah. Kairouan hancur pada tahun 1057.
Kairouan terus tumbuh dan tumbang bersama dinasti-dinasti Islam yang datang. Hingga pada tahun 1881 kota itu dijajah oleh Prancis. Keberadaannya sebagai pusat peradaban Islam pun mulai hilang seiring berjalannya waktu.
Namun kota ini dengan kegigihannya tetap mempertahankan berbagai peninggalan yang bisa ditemukan hingga hari ini.
Kota Kairouan telah masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 7 Desember 1988.
(sumber: CNNIndonesia.com)