Waspada DBD, Kadiskes Pelalawan Sebut Tahun Ini Puncak Siklus Demam Berdarah 5 Tahunan

Redaksi Redaksi
Waspada DBD, Kadiskes Pelalawan Sebut Tahun Ini Puncak Siklus Demam Berdarah 5 Tahunan
Kadiskes Pelalawan dr Endid R Pratiknyo
PELALAWAN, riaueditor.com - Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Pelalawan dr Endid R Pratiknyo menyebutkan bahwa pada tahun 2016 ini merupakan puncak siklus Demam Berdarah Dengue (DBD) ditandai dengan peningkatan jumlah kasus penyakit tersebut di sejumlah daerah.

Masyarakat pun diimbau waspada dan aktif mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang menularkan penyakit tersebut. Berdasarkan data yang ada, kasus demam berdarah naik setiap lima tahun sekali.

"Masyarakat diminta lebih waspada dikarenakan sejak awal 2016 sudah masuk puncak siklus DBD 5 tahunan. Untuk Kabupaten Pelalawan sejak awal Januari hingga pertanggal 19 Oktober 2016 sudah terdapat 83 kasus DBD," papar Kadiskes kepada riaueditor, Kamis (20/10/2016).

Disinggung soal meningkatnya kasus DBD pada tahun ini,Kadiskes menyebutkan pihknya telah melakukan berbagai antisipasi dengan meminta kepada seluruh sentra pelayanan kesehatan seperti puskesmas, klinik dan rumah sakit sejak awal Januari 2016 untuk Lebih waspada Dan melakukan pengawasan terhadap gejala dan kasus DBD dan tentunya melakukaan penyuluhan akan bahaya DBD.

Termasuk dalam perawatan pasien DBD,penangananya juga dilakukan dengan intensif dan penanganan khusus. "Jika tidak diantisipasi sejak awal maka kasus DBD di Pelalawan bisa diangka 200 Lebih kasus DBD. Ini kita sudah lakukan upaya untuk menekan kasus DBD di Pelalawan," papar dr Endid.

Status DBD di Pelalawan saat ini yang telah memakan korban bocah 7 tahun di Ibukota Pangkalan Kerinci, Kadiskes menyampaikaan bela sungkawanya. Memang sudah dibawa puskesmas dan pihak puskesmas akan melakukan peninjauan lokasi namun sudah didapat kabar dari keluarga bahwa anaknya yang terkena DBD sudah meninggal.

"Status kita adalah waspada DBD, ada tentunya kriteria untuk ditingkatkan menjadi status Kondisi Luar Biasa (KLB) seperti tahun 2011 di Desa Langkan Langgam yang pada saat Itu Jumlah kasus DBD tinggi daan menyebabkan 3 warga meninggal," ungkapnya.

Kembali dr Endid Pihak mengajak masyarakat pro aktif untuk membawa keluarganya yang terserang penyakit seperti demam, panas tinggi, pilek lainnya ke sentra pelayanan kesehatan masyarakat ke puskesmas, klinik atau rumah sakit. Diskes juga sudah menginstruksikan seluruh puskesmas untuk tetap siaga 1x24 jam," paparnya.

Kadiskes juga meminta  warga kembali ke pola hidup sehat dan gotong royong. Terutama sekali gerakan 3 M plus yakni menguras, menutup dan mengubur barang-barang yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Sedangkan plus yakni antisipasi seperti menggunakan loution anti nyamuk, racun nyamuk atau menggunakan kelambu," tutupnya. (zul)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini