Terbukti Malpraktek, Wawan Akan Ke Meja Hijau

Buntut Kematian Pasien Operasi Caesar
Redaksi Redaksi
Terbukti Malpraktek, Wawan Akan Ke Meja Hijau
anje/riaueditor.com
Wawan dan keempat anaknya sesalkan penanganan dokter yang menyebabkan kematian istrinya.

SELATPANJANG, riaueditor.com – Wawan Putra (34) suami dari almarhumah, Suprihartina yang meninggal dunia di RSUD Kabupaten Kepulauan Meranti, belum lama ini. Ibu muda tersebut diduga meninggal setelah gagal dalam menjalani operasi caesar.

"Saya ikhlas dengan Allah yang telah mengambil nyawa istri saya, namun saya belum bisa menerima tindakan yang dilakukan oleh pihak RSUD yang menurut saya asal-asalan, kenapa mereka tetap melakukan operasi tanpa ketersediaan darah, ini yang saya kesalkan," tutur Wawan kepada sejumlah wartawan, Senin (9/12) siang.

Kabar duka itu diawali pada, Rabu (4/12) sekitar pukul 12.30 WIB. Suprihartina mulai merasakan nyeri diperutnya. Semula keluarga menduga ini adalah tanda-tanda korban akan melahirkan. Wawan berbegas membawa istrinya ke RSUD. Setiba di RSUD Wawan langsung mendaftarkan istrinya untuk rawat inap.

"Sehari sebelumnya saya sudah memeriksakan kandungannya ke sebuah klinik, hasil USG menyatakan bahwa posisi bayi melintang dan harus dioperasi. Oleh karena itu, ketika istri saya mulai sakit saya bawa ke RSUD.," sebut Wawan.

Setelah menandatangani surat pernyataan, kemudian dokter meminta saya agar segera mencarikan matrai 6 ribu, tiga jenis obat dan mencari darah A+ sebanyak dua kantong sebagai persiapan operasi yang dijadwalkan pukul 18.00 WIB.

"Namun saya tidak tahu kalau saat itu istri saya langsung dioperasi. Saya pikir pastilah harus menunggu persediaan darah," ucapnya mengenang kejadian tersebut.

Diakui Wawan dirinya sangat sulit untuk mendapatkan pendonor darah, meski sudah mencari kesana kemari, bahkan beberapa keluarga dan rekan-rekannya silih berganti datang ke RSUD untuk dilakukan tes, namun tak ada yang cocok dengan tipe istrinya.

"Sempat ada 2 orang rekan saya dinyatakan oleh bagian labor golongan darahnya cocok dengan tipe darah istri saya, namun  satu dari mereka ragu, karena rekan saya itu selama ini meyakini golongan darahnya bukan A+. Sedangkan satunya lagi awalnya bersedia mendonorkan darah, namun ketika akan diambil darahnya tidak bersedia," sebut Wawan.

Mendekati jadwal operasi, Wawan tak juga kunjung mendapatkan pendonor. Sekitar pukul 17.30 Wib ketika hendak melihat kondisi istrinya ternyata istrinya sudah dibawa ke ruang operasi.

"Saja merasa kaget, karena darah belum didapat kenapa operasi terus dijalankan," katanya yang kala itu sempat melihat istrinya sedang dioperasi dari kejauhan, tak tega ia pun melaksanakan sholat Mahgrib.

"Usai sholat maghrib itulah saya diberi tahu bahwa bayi saya selamat, tapi kondisi istri saya drop dan shock akibat pendarahan. Saya sempat emosi saat itu, tubuh saya gemetaran saat itu. Sempat dengan suara tinggi saya tanyakan kepada dokter itu, kenapa istri saya bisa shock, dokternya hanya diam," tutur Wawan.

Diceritakan Wawan, salah seorang dari dokter sempat mendonorkan darah untuk istrinya. Namun sesaat setelah istrinya keluar dari ruang operasi dan dimasukkan ke ICU, istrinya menghembuskan nafas terakhir.

"Saya benar-benar kesal dan marah dengan pihak dokter yang kerjanya asal-asalan, tanpa persiapan darah mereka melakukan operasi. Masalah darah inilah yang saya persoalkan, dan kalau memang terbukti ada malpraktek, saya akan bawa permasalahan ini ke meja hijau," ujar Wawan.

Wawan menambahkan, "memang saya menandatangani surat pernyataan tapi bukan berarti mereka bisa seenaknya, soalnya sewaktu dicek darah istri saya sangat rendah dan cuma 7 Hb dan tak sampai 12 Hb, kok dipaksakan juga operasi sebelum darah datang," ungkap Wawan kesal.(anje)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini