Sebelum Digarap Kepala Desa, Korban Dicekoki Minuman di Ruangan Karaoke

Redaksi Redaksi
Sebelum Digarap Kepala Desa, Korban Dicekoki Minuman di Ruangan Karaoke
ilustrasi.net
PEKANBARU, riaueditor.com - Perkenalannya dengan Erni, yang belakangan diketahui sebagai mucikari dilokalisasi Bukit Mas Desa Gading Sari, Kecamatan Tapung Hulu, Kampar berujung derita bagi Sa (18) warga asal Desa Suram Kecamatan Tapung Hulu, Kampar.

Diceritakan Su (32) kakak korban, hubungannya dengan Erni pun cepat akrab dan kerap terjadi komunikasi baik dengan Sa dan kami. "Erni itu, awalnya baik dan sikapnya juga sopan. Kami tak menaruh curiga, belakangan setelah kejadian, kami baru tahu jika dia seorang mucikari," kata Su.

Sekitar bulan Juni tahun 2013 lalu, Erni pamitan ke saya, hendak mengajak korban untuk menemaninya ke Pekanbaru, untuk sesuatu urusan. "Dia malas pergi sendirian," lanjut Su.

Rupanya, dari cerita Sa, dirinya dibawa ke sebuah tempat karoeke yang ada di Pekanbaru. Waktu itu, Sa diajak masuk ke dalam ruangan karaoke dan diajak nyanyi sambil diberikan minuman.

Namun, setelah dirinya meminum minuman yang diberikan oleh Erni kepadanya, tiba-tiba ia agak terhoyong dan hilang kesadarannya. Saat sadar, ternyata Sa sudah berada di dalam kamar yang ada di lokalisasi Bukit Mas Desa Gading Sari, Kecamatan Tapung Hulu, Kampar.

"Sejak saya disana, saya hanya dikurung dalam sebuah kamar yang dikunci dari luar. Sementara Hp milik saya ditahan oleh Erni," ujar Sa didampingi kakaknya, Su.

Diceritakan Sa, sewaktu dirinya berada didalam lokalisasi Bukit Mas tersebut, tiba-tiba seorang oknum kepala Desa Suram bernama SABARUDDIN, alias TABE datang dan meminta saya untuk melayaninya berhubungan badan layaknya suami istri.

"Saya menolaknya, namun bapak itu terus memaksanya agar saya mau melakukan hubungan badan. Saya ditamparnya, karena takut, saya akhirmya menurutinya," ujar Sa sambil menangis.

"Tak hanya sekali, hampir tiap hari saya ditampar dan ditendang apabila tidak mau melakukan hubungan intim dan melayani bapak itu," terang Sa, terisak menahankan penderitaan yang dialaminya.

Setelah puas selama sebulan bapak itu menikmati tubuh saya, kemudian saya disuruh secara paksa untuk melayani Sihombing, seorang preman yang bekerja sebagai keamanan dilokalisasi tersebut. "Saya terus dikurung, kalau mandi ataupun ke kamar mandi selalu ditunggu, kalau lama saya langsung dipukuli mereka," ujar Sa.

"Sampai saya hamil tujuh bulan, saya tetap dipaksa untuk melayani para pria hidung belang yang datang dengan kondisi mabuk tanpa memperdulikan kondisi saya," ujar Sa.(dm)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini