Polda Riau Tangkap 3 Tersangka Perdagangan Organ Harimau Sumatera di Inhu

Redaksi Redaksi
Polda Riau Tangkap 3 Tersangka Perdagangan Organ Harimau Sumatera di Inhu
riaueditor

PEKANBARU, riaueditor.com - Tiga pelaku perdagangan satwa liar berinisial MN (45), warga Desa Balai Rajo, Kecamatan Tujuh Ilir, Tebo, Jambi, RT (57), warga Jorong Koto Baru, Desa Sisawah, Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatera Barat dan AT (43) Desa Seresam, Siberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, ditangkap aparat Polda Riau, Sabtu (15/2/2020) siang sekitar pukul 11.00 Wib.


Para tersangka kedapatan menjual organ harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang dilindungi oleh undang-undang.


Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi SH SIK M.Si melalui Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto mengatakan, para tersangka ditangkap saat akan mengantarkan bagian tubuh dari harimau sumatera yang sudah mati untuk diperjual belikan. 


"Tersangka ditangkap saat akan membawa bagian tubuh harimau sumatera dari daerah Muara Tebo, Jambi menggunakan mobil Toyota Avanza nopol D 1606 ABK untuk diantarkan ke pembelinya di daerah Air Molek, Inhu, setelah mendapat informasi dari masyarakat," kata Sunarto, Minggu (16/2/2020).


Polisi mengamankan barang bukti pastik dan karung yang berisikan 1 lembar kulit, 4 taring, dan 1 karung berisi tulang-belulang harimau sumatera dari para tersangka.


Ketiga pelaku merupakan kurir yang diupah Rp 2 juta untuk mengantar kulit dan tulang harimau dari Tebo Jambi atas perintah AT.


Selanjutnya organ tubuh raja hutan itu akan diserahkan ke HN di Air Molek, Kabupaten Inhu, Riau. 


"AT dan HN saat ini berstatus daftar pencarian orang (DPO) dan sedang dalam buruan petugas," ujarnya. 


Dijelaskan Sunarto, maraknya praktek perdagangan illegal kulit dan organ satwa yang dilindungi tersebut karena tingginya harga jual organ harimau di pasar gelap.


Selembar kulit harimau bisa dijual dengan harga sekitar Rp 30 juta - Rp 80 juta, taring harimau Rp 500 ribu- Rp 1 juta perbuah, dan tulang harimau laku di jual Rp 2 juta perkilo di pasar gelap.


Harga tinggi itu disinyalir menjadi alasan para penyelundup untuk nekat melakukan aksi kejahatannya.


Indonesia sebagai bagian dari dunia internasional, akan menghentikan kejahatan penyelundupan satwa tersebut, mengingat satwa itu sudah dalam kategori terancam punah.


Dari kejadian ini, para pelaku disangkakan dengan Pasal 40 Ayat (2) Jo 21 Ayat (2) huruf (a) Pasal 33 Ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pelaku terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara.


"Ini bentuk kejahatan terorganisir dengan sistem terputus. Satu dengan lainnya memiliki tugas dan perannya masing-masing. Polda Riau akan terus perangi dan ungkap perdagangan illegal ini," tegasnya. (dri) 


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini