Direktur PT Buana Sinar Lestari Ditahan di Lapas Kelas II A Pekanbaru

Redaksi Redaksi
Direktur PT Buana Sinar Lestari Ditahan di Lapas Kelas II A Pekanbaru
bermadah
Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Riau Subekhan, saat memberikan keterangan pers, Selasa (27/3/2018).

PEKANBARU - Direktur PT Buana Sinar Lestari Wayan Subadi yang merupakan terpidana kasus dugaan korupsi pengadaan pupuk di Perusahaan Daerah Sarana Pembangunan Kabupaten Siak, Selasa (27/3/2018) sore resmi ditahan di Lapas Kelas II A Pekanbaru.

Terpidana yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) ini tiba di Pekanbaru dari Bandara Internasional Halim Perdana Kusuma sekitar pukul 15.25 WIB dari Jakarta melalui jalur udara Batik Airline.

"Telah menangkap Direktur PT Buana Sirna Lestari oleh Tim Intelijen Kejagung RI. Hari ini tiba di Kejati Riau dan akan ditahan di Lapas Kelas II A Pekanbaru," kata Asisten Tindak Pidana Khudus Kejati Riau, Subekhan.

Terhadap terpidana yang sebelumnya DPO ini, Subekhan menjelaskan sudah dilakukan beberapa kali pemanggilan. Namun dirinya tidak mengindahkan permintaan penyidik dan ditetapkan sebagai DPO.

"Pernah dipanggil. Sudah disidik tahun 2014 dan putusan Pengadilan ditahun 2015 karena tidak kuat masuk kedalam hukum perdatanya. Kemudian putusan Mahkamah Agung Kasasi masuk lagi ditahun 2016," sambungnya.

Saat diwawancara Direktur PT Buana Sinar Lestari, Wayan Subadi merasa heran atas penangkapan dan ditetapkannya sebagai DPO.

"Tidak ada dari saya upaya untuk melarikan diri. Karena pekerjaan saya saat itu berpindah tempat sebagai suplayer pupuk," terangnya.

Dilanjutkan Wayan, saat itu dirinya dikasih kredit makanya diambil pupuk tersebut.

"Pupuk sudah saya angsur. Dan sudah berjanji dibawah surat. Kalau lewat dari tempo pembayarannya, ya baru saya salah. Sedangkan ini aja bayar tepat waktu," akunya lagi.

Dalam pemberitaan sebelumnya, tersangka atas kasus dugaan korupsi tersebut diamankan di Tebet Jakarta, Senin (26/3/2018) semalam.

Hal tersebut, berdasarkan atas putusan dari Mahkamah Agung RI Nomor 154K/Pid.Sus/2016 tanggal 29 Agustus 2016. Dan divonis selama 5 tahun kurungan penjara. Dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi terkait pengadaan Pupuk di PD SPS, yang merugikan negara Rp870 juta lebih.

Kemudian, Wayan dikenakan denda Rp200 juta subsider 6 bulan dan membayar pengganti sebesar Rp930.414.860 dikompensasikan  dengan yang sudah dikembalikan sebesar Rp60 juta. 

(bermadah.co.id)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini