Antara Ditolong atau Diancam, Ini Pengakuan Ninoy Karundeng dan Klaim PA 212

Redaksi Redaksi
Antara Ditolong atau Diancam, Ini Pengakuan Ninoy Karundeng dan Klaim PA 212
(KOMPAS.COM/ RINDI NURIS VELAROSDELA)
Ninoy Karundeng di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (7/10/2019).

JAKARTA - Kasus penganiayaan dan penculikan pegiat media sosial yang juga relawan Joko Widodo saat Pilpres 2019, Ninoy Karundeng hingga kini belum menemui titik terang. 

Sejumlah keterangan berbeda-beda dari berbagai pihak muncul belakangan. 

Berdasarkan pengakuan Ninoy, ia dianiaya oleh sekelompok orang tak dikenal di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Senin (30/9/2019) lalu. 

Dia dianiaya lantaran merekam demonstran yang sedang mendapatkan pertolongan ketika terkena gas air mata. 

Usai dianiaya, Ninoy mengaku dibawa masuk ke Masjid Al-Falaah untuk diinterogasi dan sempat kembali dianiaya. 

Sekelompok orang tak dikenal itu juga disebut menyalin data yang tersimpan dalam ponsel dan laptop Ninoy. 

Kemudian, Ninoy juga sempat mendapat ancaman akan dibunuh. 

Penganiayaan terhadap Ninoy berakhir usai mereka memesan jasa GoBox untuk memulangkan Ninoy beserta sepeda motor yang telah dirusak pada Selasa (1/10/2019). 

Hingga kini, polisi telah menetapkan 13 tersangka terkait penganiayaan dan penculikan Ninoy. 

Salah satu tersangka adalah Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (PA) 212 Bernard Abdul Jabbar. 

Bernard disebut berperan mengintimidasi Ninoy saat kejadian berlangsung. 

Bantahan PA 212 

Namun, pernyataan itu dibantah oleh Ketua Umum DPP PA 212 Slamet Ma'arif. Ia membantah Bernard terlibat dalam penganiayaan terhadap Ninoy. 

Menurut Slamet, Bernard saat itu berada di sekitar lokasi penganiayaan Ninoy lantaran mencari anaknya yang ikut dalam aksi demonstrasi. 

Bernard disebut kala itu menolong para korban demonstrasi dengan P3K termasuk menyelamatkan Ninoy dari amukan massa. 

Saat itu, Bernard membawa Ninoy masuk ke dalam Masjid Al Falaah untuk berlindung dari amukan massa. 

"Jadi ustadz Bernard menyelamatkan Ninoy, bukan mempersekusi Ninoy," kata Slamet di Kantor Sekretariat DPP PA 212, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (9/10/2019). 

Slamet menambahkan, di dalam masjid, Bernard bukan mengintimidasi melainkan meminta Ninoy agar tidak keluar dari masjid sebelum situasi aman. 

Setelah situasi aman sekitar pukul 03.00 WIB, Bernard kembali pulang ke rumah. 

Bahkan Ninoy sempat berterima kasih dan mencium tangan Bernard lantaran telah diselamatkan. 

Warga tak tahu Ninoy Relawan Jokowi 

Ungkapan yang sama juga dijelaskan oleh anggota Dewan Kepengurusan Masjid Al-Falah, Iskandar. 

Ia mengatakan, pengurus Masjid Al-Falaah hingga warga Pejompongan mengaku tak mengetahui identitas Ninoy Karundeng sebelumnya. 

Iskandar mengatakan, pengurus bahkan warga tak tahu kalau Ninoy itu relawan Jokowi dari video yang tiba-tiba saja beredar. 

"Saya sama pengurus lain itu tidak tahu siapa si Ninoy ini. Kami aja baru tau Ninoy penggiat media sosial atau pun pro Jokowi saat videonya baru viral. Oh itu dia yang ditonjokkin kemaren," ujar Iskandar. 

Ia mengatakan, info yang beredar tentang Ninoy disekap itu tidak benar. Sebab, kala itu yang ia tahu dan lihat langsung adalah Ninoy ditolong warga masuk ke masjid. 

Saat itu Nino memang sempat diamuk massa di depan masjid, bukan di dalam masjid. Namun, Iskandar mengaku tak mengetahui siapa saja yang memukul Ninoy saat itu. 

"Saya dari dalam masjid aja heran, itu ada apa kok rame-rame di depan. Eh ternyata dipukulin, terus langsung dia (Ninoy) dibawa masuk ke dalam masjid," ucapnya. 

Di dalam masjid, Ninoy disebut diberikan pertolongan pertama. Saat itu masjid digunakan sebagai posko pengobatan. 

Di masjid sudah ada dokter dan paramedis. Di dalam masjid itu juga terdapat sekitar 30 orang pendemo yang kondisinya lemah lantaran terkena gas air mata. 

"Kami masukkan di sini semua. Kami berikan pertolongan pertama di sini. Tidak ada penyekapan, dokter ada di dalam, paramedis di dalam, korban sebagian di dalam, termasuk si Ninoy," katanya. 

Iskandar mengatakan, Ninoy baru diperbolehkan pulang saat situasi sudah kondusif. 

Sebab, kala itu wilayah Pejompongan seluruhnya ditutup dan tidak dapat diakses oleh warga. 

Menurut pernyataan warga, Iskandar mengatakan, Ninoy sempat bersalaman dengan warga yang ada di masjid sebelum pulang. 

Bahkan, Ninoy saat itu dipesankan oleh warga layanan GoBox atau pickup untuk membawa motornya. Ia sempat dibantu mengangkat motor ke dalam mobil pickup terbuka oleh warga. 

"Ada massa yang nyewain pakai online mobil bak terbuka, mereka letakkan motor itu di atas mobil. Tapi saya tidak liat langsung. Saya hanya liat videonya, orang Ninoy sempat salamin warga," tuturnya.

(kompas.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini