Pandemi corona membuat sebagian muslim melaksanakan Salat Id di rumah, Minggu (24/5). (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)Lain dengan keluarga Ramon, Andi harus memimpin Salat Idul Fitri seorang diri. Dia yang menjadi bilal, dia imam, dia juga yang khotbah.
Maklum, dua anaknya perempuan sehingga tak bisa memimpin salat untuk laki-laki. Sedang si bungsu, baru berusia 2 tahun, tidak mungkin berbagi peran dalam menjalankan ibadah bersama.
Beberapa hari menjelang Lebaran, Andi sibuk dengan gawai, mencari acuan tata cara melaksanakan Salat Id yang baik. Ia pun berdiskusi dengan sejumlah ustaz, kenalannya.
"Siap, siaplah. Harus siap," katanya sambil mengangguk-angguk.
Maka Ahad pagi, setelah sajadah tergelar, Andi duduk bersila melafalkan takbir kemenangan, diikuti anggota keluarganya.
Takbir kemenangan dilantunkan sayup-sayup, tak seperti suara takbir yang biasa dikumandangkan di lapangan dan masjid di masa normal yang bergema dan bergemuruh.
Meski sayup, tidak menurunkan kekhidmatan ibadah di rumah keluarga muda itu. Suasananya syahdu. Penuh keharuan.
Bagi Ramon, Andi, dan keluarga muslim lain, ini adalah pengalaman pertama mendirikan Salat Id sendiri yang akan tidak akan terlupakan.
Setidaknya, virus corona tak selalu memberikan kesempitan. Masa pandemi juga mendorong manusia untuk terus belajar, bergerak, menyesuaikan diri.
(Antara/CNNIndonesia)