Pembangkit BBM Bakal Disetop, Diubah Jadi 1.200 MW PLTS

Redaksi Redaksi
Pembangkit BBM Bakal Disetop, Diubah Jadi 1.200 MW PLTS
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memiliki program untuk melakukan konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi pembangkit berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Jisman Hutajulu, Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, menyampaikan rencana dedieselisasi menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) akan mencapai 1.219 Mega Watt (MW) di dalam program Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.

Dia menjelaskan, saat ini ada 5.200 unit PLTD yang tersebar di 2.130 lokasi. Konversi PLTD ke EBT ini akan dilakukan dalam dua tahap.

"Tahap 1 akan diimplementasikan pada sistem isolated di mana biaya produksinya lebih tinggi dari PV + battery storage. Total PLTD 200 MW akan dikonversi menjadi PV + battery storage sekitar 660 MWp," jelasnya dalam The 10th Indonesia EBTKE ConEx 2021, Selasa (23/11/2021).

Lalu, tahap kedua sekitar 2.000 MW PLTD akan dikonversi secara bertahap menggunakan EBT, gas atau interkoneksi dengan sistem yang lebih besar hingga tahun 2025-2026.

"Tahap 2 sekitar 560 MWp," lanjutnya.

Sebagai informasi, rencana penambahan PLTS selama 2021-2030 terdapat sebanyak 4.680 MW, terdiri dari 1.760 MW dari jaringan (grid) Pengembang Listrik Swasta (IPP) atau sekitar 38%, lalu PLN Grid 1.475 MW atau sekitar 31%, program dedieselisasi sebesar 1.219 MW atau sekitar 26%, dan Listrik Desa (Lisdes) 225 MW atau sekitar 5%.

Adapun yang dibangun oleh PLN hanya sebesar 36% atau 1.701 MW dan yang dibangun IPP sebesar 64% atau sebesar 2.975 MW.

Sebelumnya, hal senada sempat disampaikan PT PLN (Persero). PLN akan mengonversi 5.200 PLTD di 2.130 lokasi terpencil ke pembangkit EBT.

Wakil Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, penggunaan BBM sebagai bahan bakar pembangkit di daerah terpencil memiliki ongkos yang sangat mahal.

"Menggunakan BBM di daerah terpencil dengan biaya transport yang tinggi itu mendekati Rp 3.500-4.500 per kWh," paparnya dalam 'Kompas Talks bersama IESR' melalui kanal YouTube, Selasa (2/3/2021).

PLTD yang mahal ini akan diganti dengan pembangkit EBT berbasis kearifan lokal, salah satunya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Tujuannya agar PLTS ini bisa dijadikan base load, maka diperlukan energy storage (penyimpanan energi) sehingga beroperasi 24 jam.

Seperti diketahui, PLTS memiliki ketergantungan pada matahari. Jika penggunaan energy storage atau baterai ini bisa lebih murah daripada PLTD, maka bakal menguntungkan PLN, selain mendorong bauran EBT.

Darmawan mengatakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) nantinya bakal bersaing dengan EBT, di mana dulu harga listrik PLTU menjadi yang paling murah di kisaran 5,5 sen dolar per kWh, sementara EBT 30 sen dolar per kWh.

Namun kondisi berbalik terjadi sekarang di mana harga listrik dari EBT untuk PLTS tanpa baterai sudah mendekati 3,6 - 3,7 sen dolar per kWh, sementara batu bara 5,5-6 sen per kWh.

"Tentu saja dengan baterai masih mahal 12 -15 sen pe kWh, tetapi kita berinovasi. Dulu nggak ada baterai lithium sekecil ini, ke depan akan semakin murah," tegasnya.

(sumber: CNBCIndonesia.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini