China Ingin APBN Jadi Jaminan Utang Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Redaksi Redaksi
China Ingin APBN Jadi Jaminan Utang Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Pemerintah Indonesia negosiasi dengan Pemerintah China terkait penjaminan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. (dok: KCIC)

JAKARTA - Pemerintah Indonesia mencoba negosiasi dengan Pemerintah China terkait penjaminan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Hal ini mengingat pemerintah China ingin penjaminan langsung oleh pemerintah melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Demikian disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Pertambangan dan Investasi Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves), Septian Hario Seto.

Seto menuturkan, pemerintah China ingin penjaminan langsung oleh pemerintah melalui APBN. Sementara itu, Pemerintah Indonesia ingin agar penjaminan dilakukan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).

“Ini terkait penjaminannya selama ini kita mau ada PII ya, mereka mau penjaminan langsung, kita coba negosiasi itu,” tutur dia dikutip dari Antara, Senin, 10 April 2023, ditulis Rabu (12/4/2023).

Seto menuturkan, pinjaman akan diberikan kepada PT KAI sebagai pimpinan konsorsium Indonesia di KCIC. Uang pinjaman akan diserahkan kepada KCIC yang bertanggung jawab atas proyek KCJB.

Dari nominal cost overrun senilai USD 1,2 miliar atau sekitar Rp 18,2 triliun, pemerintah akan suntikkan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 3,2 triliun. Sisanya akan ditambal dari utang termasuk dari China Development Bank (CBD).

Sementara itu, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pemerintah Indonesia masih negosiasi dengan China terkait tingkat suku bunga pinjaman untuk kenaikan biaya (cost overrun) proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB).

Luhut mengatakan, tim teknis dari kedua negara telah sepakati nilai cost overrun proyek sebesar USD 1,2 miliar atau sekitar Rp 18,2 triliun.

Ia menambahkan, pembicaraan detil dari dua belah pihak sepakat USD 1,2 miliar. "Terkait pinjaman terhadap KAI terkait pinjaman cost overrun, kami sedang finalkan negosiasi tentang suku bunga. Suku bunga sudah turun dari 4 persen, sekarang kita ingin lebih rendah lagi, kita lihat. InsyaAllah akan beres,” ujar dia.

Luhut menyampaikan, pihak China telah menawarkan tingkat suku bunga sebesar 3,4 persen dengan total pinjaman sekitar USD 560 juta. Akan tetapi, pemerintah berharap suku bunga pinjaman sekitar 2 persen. Luhut juga menargetkan negosiasi terkait total pinjaman, suku bunga hingga tenor dapat difinalkan sekitar pekan depan.

“Kemarin dia (China) sudah mau di bawah 4 persen. Tapi kita masih (ingin) lebih rendah lagi, offernya (tawarannya) yang pertama sudah 3,4 persen tapi kita mau lebih rendah lagi,” tutur dia.

Luhut menuturkan, suku bunga pinjaman 3,4 persen sudah sangat murah dibandingkan suku bunga pinjaman di tempat lain yang angkanya dapat mencapai 6 persen.

Ia juga klaim pemerintah tidak punya kendala dan memiliki kemampuan bayar dengan ketentuan angka itu.

Seto juga mengatakan, bunga pinjaman yang ditawarkan China sudah jauh lebih rendah dari bunga yang ditawarkan pemerintah Amerika Serikat (AS) atau pun bunga obligasi dolar AS bertenor 30 tahun dari pemerintah Indonesia.

“Tapi kita masih mau nego lagi,” ujar dia.

(sumber: Liputan6.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini