Tiga Bulan Listrik Kuala Panduk - Petodaan Padam, BUMD Layangkan Tagihan

Redaksi Redaksi
Tiga Bulan Listrik Kuala Panduk - Petodaan Padam, BUMD Layangkan Tagihan
ilustrasi
PELALAWAN, riaueditor.com - Masyarakat Desa Kuala Panduk dan Petodaan mengeluhkan sumber listrik yang berasal dari PLTD yang dikelola BUMD PD Tuah Sekata tiga bulan terakhir tak berfungsi hingga padam total. Kekesalan warga bertambah setelah pihak BUMD melayangkan surat peringatan pembayaran tunggakan yang isinya jika tidak melakukan pelunasan jaringan akan diputus.

"Untuk diketahui, 3 bulan terakhir ini sejak Desember hingga hari ini listrik padam tortal karena mesin tak berfungsi. Padahal, informasi dari petugas BUMD mesin yang diperuntukkan bagi 2 desa Kuala Panduk dan Petodaan yang sebelumnya rusak sudah dilakukan perbaikan. Namun listrik juga padam hanya tadi malam hidup sekitar 5 jam saja. Sudahlah listrik tak berfungsi, BUMD malah menyurati pelanggan untuk membayar tunggakan, masyarakat jadi tambah kesal," papar Jepika tokoh pemuda Kuala Panduk kepada riaueditor.com, Selasa (29/3/2016).

Dikatakan Jepika, masyarakat di dua desa tambah bingung tunggakan mencapai 300 hingga 500 ribu, padahal listrik selalu padam. "Masyarakat bayar tagihan, saya kira tidak seberapa yang nunggak. Sebelum padam total 3 bulan terakhir juga sering ada padam total sampai seminggu sampai 10 hari malah tanpa ada kejelasan dari pihak BUMD. Masyarakat tentu mempertanyakan serta mengeluhkan pelayanan listrik yang dikelola BUMD Tuah Sekata ini," terang Jepika.

Sementara itu, Sanusi Ariyanto Direktur BUMD PDTuah Sekata yang dihubungi riaueditor via seluler, Selasa (29/3/2016) menyebutkan bahwa memang mesin untuk Desa Kuala Panduk dan Petodaan mengalami kerusakan karena masih ada spare part yang belum diganti, sementara cost pengeluaran besar.

"Kita sudah lakukan perbaikan terhadap mesin tapi masih ada spare part yang belum diganti. Saya jelaskan bahwa tunggakan pelanggan di 2 desa tersebut mencapai Rp.200 juta. Perharinya akan menghabiskan 200 liter bahan bakar, belum lagi untuk perawatan dan membeli alat. Ini yang harus dipahami oleh masyarakat," ungkap Sanusi.

Oleh karenanya, sambung Sanusi, pihaknya melayangkan surat kepada pelanggan untuk melunasi tunggakan karena operasional perlu biaya.

"Kalau tunggakan masih dibawah 50 juta kita masih bisa menyanggupi, namun tunggakan mencapai 200 juta. Kita minta masyarakat mencicil agar operasional mesin berjalan. Akibat cost besar itulah, kita tegaskan bahwa bagi masyarakat yang tidak melunasi tunggakan jaringan akan diputus. Kita minta masyarakat paham dan tidak mengedepankan hak tentunya kewajiban membayar tunggakan juga harus ditunaikan," bebernya.

Sanusi juga meminta kepada masyarakat agar mengajukan kepada Pemerintah untuk mengganti mesin baru. "Mesin ini kondisinya sekarang 70 persen dan memang layak harus diganti. Informasi yang kita dapat mesin ini pernah dimasuki garam sehingga mengalami overhold saat kesepakatan pembangunan jaringan," tukasnya. (zul)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini