SNI Melindungi Industri Pelumas Dalam Negeri Menghadapi MEA

Redaksi Redaksi
SNI Melindungi Industri Pelumas Dalam Negeri Menghadapi MEA
Ilustrasi

JAKARTA, riaueditor.com - Pasar pelumas dalam negeri masih digempur produk impor. Lihat saja, merujuk data BPS dan Kementerian Perindustrian, industri pelumas dalam negeri mampu memproduksi pelumas jadi sebesar 1,8 Juta Kiloliter per tahun. Namun kemampuan pasar dalam negeri untuk menyerap produksi pelumas dalam negeri hanya 47 % dari total produksi pelumas yang dihasilkan. 

Kondisi ini membuat 950 ribu kiloliter atau setara dengan 53% produk pelumas jadi tidak terserap oleh pasar pelumas dalam negeri. Hal ini diperburuk dengan masuknya impor produk pelumas sehingga memperberat produsen produk pelumas dalam negeri.

Tak heran, selama 5 tahun terakhir neraca perdagangan produk pelumas terus mengalami defisit neraca perdagangan. Untuk jenis pelumas non sintetik mengalami defisit USD 256,3 juta/tahun dan untuk jenis pelumas sintetik terjadi defisit USD 86,13 juta/tahun. 

Salah satu yang membuat oli impor kian mudah masuk lantaran belum ada kebijakan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk pelumas. 

Humas Asosiasi Produsen Pelumas Dalam Negeri (Aspelindo) Arya Dwi Paramita menuturkan, industri berharap agar pemerintah bisa segera menerapkan dan memberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pelumas. 

Arya menilai, dengan pemberlakuan SNI akan mampu memberi perlindungan terhadap produsen dalam negeri dari gempuran oli impor yang tidak jelas mutu dan kualitasnya.

"Perlu adanya suatu standar untuk melindungi konsumen dan produsen pelumas dalam negeri. SNI wajib akan menjamin mutu pelumas yang beredar sehingga konsumen akan diuntungkan. Efeknya, memajukan industri pelumas dalam negeri sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam menghadapi MEA," tegas Arya kepada media, Selasa (7/2).

Masih menurut Arya, Impor pelumas non sintetik tahun 2016 didominasi oleh Singapura, dengan nilai impor USD 184,64 Juta atau penguasaan 42,1% dari total impor pelumas non sintetik.

Impor pelumas sintetik tahun 2016 didominasi oleh Amerika Serikat, dengan nilai impor USD 23,17 Juta atau penguasaan 41,8% dari total impor pelumas sintetik, tutupnya.(*/har)

*) Aspelindo


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini