Rupiah Tembus Rp14.800, Ini Komentar Boediono hingga Agus Martowardojo

Redaksi Redaksi
Rupiah Tembus Rp14.800, Ini Komentar Boediono hingga Agus Martowardojo
Foto: Dok Nusaforex.com
Dolar Amerika Serikat versus Rupiah.
JAKARTA - Rupiah pada pekan lalu cukup tertekan. Nilai tukar Rupiah berkali-kali dihajar oleh dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah dibuka Rp14.440 per USD di awal pekan, namun harus rela terjerembab sampai level Rp14.819,5 per USD.

Beragam komentar pun muncul karena lemahnya nilai tukar rupiah. Mulai dari pengamat hingga Gubernur Bank Indonesia (BI) angkat bicara.

Chief economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Destry Damayanti, pergerakan Rupiah terhadap dolar AS masih akan melemah dan bergerak di kisaran Rp14.500 hingga Rp14.800 per USD hingga akhir tahun.

Destry menjelaskan, masih melemahnya nilai tukar Rupiah ini terjadi karena dua sebab. Pertama, China yang masih diperkirakan melemahkan mata uangnya. Selain itu, diperkirakan mendekati akhir tahun permintaan dolar AS semakin tinggi untuk pembayaran utang yang jatuh tempo.

Lemahnya nilai rupiah ini tidak serta merta mendongkrak kinerja ekpor Indonesia. Head of Macroeconomic and Financial Research PT Mandiri Sekuritas Andry Asmoro menjelaskan, pelemahan Rupiah yang seharusnya mampu mendorong nilai ekspor nasional tidak akan terjadi pada tahun ini. Pasalnya, komoditas yang menjadi andalah ekspor terus mengalami penurunan harga.

Bank Sentral AS, the Fed juga menjadi alasan ambruknya mata uang Indonesia. Sikap the Fed yang menunda kenaikan suku bunga acuannya (Fed Rate) membuat ekonomi semakin tidak pasti.

Sementara itu, pengamatan Head of Research PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada, pelemahan mata uang Garuda saat ini lebih karena masih belum adanya sinyal perbaikan pada kondisi ekonomi makro.

Mantan Ekonom Standard Chartered Eric Sugandi mengatakan, merosotnya cadangan devisa Indonesia menjadi sentimen negatif bagi rupiah.

"Ada faktor sentimen pelaku pasar karena jatuhnya cadangan devisa ke USD103 miliar," singkatnya kepada Okezone.

Soal anjloknya rupiah, Mantan Wakil Presiden Boediono turut berkomentar. Boediono memandang perlu ada sikap yang cepat dari pemerintah dalam menghadapi tekanan krisis global. Langkah cepat tersebut bisa dilakukan dengan membuat kebijakan yang mampu menggerakkan perekonomian.

Berbeda dengan Boediono, Presiden Republik Indonesia Ketiga BJ Habibie memperingatkan pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak hanya memikirkan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Bagi saya, waktu saya memimpin, bukan dolarnya. Yang penting adalah lapangan kerja. Untuk saat ini seharusnya pemerintah siapkan lapangan kerja secepatnya," tutur Habibie di Hotel Shangrila.

Gubernur BI Agus Martowardojo pun berani mengungkapkan penyebab hancurnya rupiah pada pekan ini. Agus menjabarkan beberapa kendala yang membuat pertumbuhan ekonomi dipangkas serta Rupiah yang tertekan.

"Rupiah tertekan tidak lepas dinamika di dunia masyarakat di dunia khawatir ekonomi Tiongkok, jadi yang negara-negara sumber daya alam akan kena dampak, begitu juga Indonesia," ujar Agus di Kompleks Bank Mandiri.

Menurutnya, semakin penguatan dolar Amerika Serikat (AS) membuat Rupiah tertekan. Dirinya pun mengimbau agar masyarakat tidak menambah kepanikan yang membuat stabilitas ekonomi terganggu.

Agus juga mengatakan, hingga akhir tahun nilai tukar rupiah masih akan tertekan.

"Pada kuartal IV 2015 tekanan kurs diperkirakan masih akan berlanjut dengan depresiasi kuartal to kuartal dan year to date lebih rendah, kuartal IV 2015 Rp14.000 per USD (rata-rata rupiah)," ujar Agus di sela rapat asumsi RAPBN 2016.

(rzk/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini