Minimnya Lapangan Kerja, Pemicu Anak Meranti ke Luar Negeri

Redaksi Redaksi
Minimnya Lapangan Kerja, Pemicu Anak Meranti ke Luar Negeri
Darwin Susandy
SELATPANJANG, riaueditor.com - Fenomena kerja ke luar negeri seperti ke Malaysia dan Singapore sebenarnya bukanlah hal baru bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti, hal semacam ini memang sudah dilakoni sejak puluhan tahun silam. Rendahnya SDM dan minimnya peluang kerja di daerah sendiri memaksa anak tempatan mencari pekerjaan ke negeri orang bahkan sampai ke luar negeri dengan berbagai profesi, menjadi salah satu pemicu anak-anak Meranti ramai-ramai bekerja di negara perbatasan seperti Malaysia, Singapore atau Kamboja.
 
"Dari dulu anak-anak kita sudah merantau kemana-mana, jadi buruh bangunan di Malaysia, banyak kerja karung goni di Singapore atau di batam. Kenapa mereka cenderung memilih bekerja di luar negeri, salah satu factor adalah lapangan kerja di daerah kita masih minim ditambah lagi pendidikan untuk ke bangku kuliah mesti keluar kota dan itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Ini menjadi problem besar bagi kabupaten kita," ucap Darwin Susandy ketika ditanya wartawan.
 
Pernyataan Darwin tersebut terkait dengan kasus 16 warga Selatpanjang yang disandra di Kamboja oleh majikan tempat bekerja. Menurut lagi, memiliki resiko terlebih lagi pekerjaan tersebut dilakoni tanpa dokumen resmi yang bermodalkan passport.
 
"Kita harus segera mengatasi permasalahan lapangan pekerjaan ini dengan menciptakan lapangan pekerjaan di daerah kita sendiri. Saya sangat mengharapkan pemerintah daerah dan DPRD Kepulauan Meranti bersama mencarikan solusi. Ketertinggalan pembangunan infrastruktur harus segera digesa," ucap Politisi PAN ini.
 
Pembangunan infrastruktur yang belum bisa dimanfaatkan, lanjut Darwin harus dituntaskan dengan segera. Salah satu diantaranya adalah jalan menuju Roro Kampung Balak. Karena Roro adalah lintas ke daratan.
 
"Ini perlu cepat disiapkan supaya masyarakat ada jalan alternatif yang lain untuk menuju daratan dan bisa tekan high cost selama ini. Contohnya banyak anak-anak Meranti kuliah ke Pekanbaru mereka pergi-pulang ongkos biaya speedboat sudah habis 300 ribu, belum biaya taxi atau tempat penginapan. Ini bisa menekan cost pendidikan mahasiswa kita. Disamping itu dibukanya akses jalan tersebut akan menurunkan harga-harga sembako yang selama ini kita bergantung pada pasokan dari Pekanbaru dan sekitarnya. Jadi itulah yang harus kita pikirkan ke depan supaya meranti kabupaten terbaru ini bisa berubah tatanan hidup untuk masyarakat kita yang lebih baik," pungkas Darwin. (je)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini