Kampanye Negatif Asing Anjlokkan Harga TBS

Petani Sawit Riau Hanya Nikmati Sebatas TBS
Redaksi Redaksi
Kampanye Negatif Asing Anjlokkan Harga TBS
ade/riaueditor.com
Diskusi Penyelamatan Ekonomi Petani di tengah Jatuhnya Harga Kelapa Sawit Dunia yang digelar Solidaritas Wartawan untuk Transparansi (Sowat) di Pekanbaru, Selasa (22/2).
PEKANBARU, riaueditor.coom - Petani sawit di Provinsi Riau atau Indonesia hanya bisa menikmati produksi kelapa sawit sebatas tandan buah segar (TBS). Hilirisasi produksi dan nilai tambah dikuasai perusahaan besar milik asing.

Prof Dr Almahdi Syahza dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Riau menjelaskan anjloknya harga sawit tak terlepas akibat peran kampanye negatif pihak asing terhadap sawit nasional.

"Perlu pengembangan hilirisasi sawit ini lantaran tingkat ekonomi Riau saat ini tumbuh di atas ekonomi nasional, dengan indeks kesejahteraan di pedesaan sudah 27 persen. Indek ini meningkat 15 persen antara 2013-2015 dan pada 2010-2012 sempat pada 27 persen," kata Prof Dr Almahdi Syahza dalam Diskusi Penyelamatan Ekonomi Petani di tengah Jatuhnya Harga Kelapa Sawit Dunia yang digelar Solidaritas Wartawan untuk Transparansi (Sowat) di Pekanbaru, Selasa (22/2).

Setiap periode itu, lanjutnya, indeks kesejahteraan masyarakat pedesaan meningkat dan bisa terlihat dari sawit. "Itu pun sampai tingkat TBS. Artinya, tingkat ekonomi masyarakat desa tergolong sejahtera," ungkap Almahdi.

Saat ini saja, setelah TBS masuk ke CPO (crude palm oil), nilai tambahnya hanya dinikmati oleh perusahaan. CPO yang dijual dengan nilai tambah 200-300 persen hanya dinikmati orang yang membeli, terkhusus orang luar negeri yang mampu menciptakan nilai tambah. Sedangkan barang setengah jadi selama ini kita beli untuk bahan baku obat-obatan dan kosmetik. "Kalau begitu, mengapa tidak dikembangkan saja di Indonesia?" pungkas Almahdi.

Kalaulah hal ini dilakukan, lanjutnya, maka tentu uang akan banyak beredar di Indonesia atau di Riau. Sebagai contoh salah satunya Wilmar yang sudah mengembangkan dengan kawasan tertutupnya. Sedangkan Indonesia dengan konsep matang tidak dilanjutkan, seperti di Kuala Enok, begitu juga di Siak ada kawasan Buton. "Ini tergantung pemerintah berpihak pada pengembangan industri hilir kelapa sawit," jelasnya pula.

Sekarang bagaimana pemerintah concern atau tidak menghadapinya. Memang kebijakan sudah ada, tetapi keinginan yang belum ada.

Menurut hasil penelitiannya, multiplier effect (ME) dari sawit itu 2015 lalu sebesar 3,43 (ME). Artinya, setiap miliar rupiah di investasikan di desa, hingga sawit menghasilkan, jumlah uang meningkat. Makanya tak heran daya beli masyarakat di desa meningkat.

Pada diskusi itu, turut Ketua Kompartemen Gapki Pusat Wisnu, dan Agus Sanjaya dari Bank Mandiri dan dihadiri kalangan jurnalis dari berbagai media.(ade)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini