Impor Naik 51,4%, Defisit Migas RI Terparah Tahun Ini

Redaksi Redaksi
Impor Naik 51,4%, Defisit Migas RI Terparah Tahun Ini
BPS

JAKARTA, - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai ekspor dan impor pada Agustus 2018. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia mencapai US$15,82 miliar atau tumbuh 4,15% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara impor melambung 24,65% YoY menjadi US$16,84 miliar. Sehingga defisit neraca perdagangan bulan lalu mencapai US$1,02 miliar.

Defisit itu jauh lebih besar daripada konsensus CNBC Indonesia yang meramal defisit sebesar US$645 juta. Berdasarkan survei CNBC Indonesia kepada sejumlah ekonom, impor diprediksikan tumbuh sebesar 25% YoY, sementara ekspor diperkirakan naik lebih kencang sebesar 10,1% YoY.

Menariknya, dari total defisit neraca perdagangan sebesar US$1,02 miliar pada bulan lalu, ternyata defisit perdagangan migas justru lebih besar hingga mencapai US$1,66 miliar. Artinya, buruknya performa perdagangan migas menjadi biang kerok anjloknya defisit neraca perdagangan di Agustus.

Wajar saja kinerja defisit perdagangan migas begitu buruknya di bulan lalu. Pasalnya, impor migas Agustus 2018 meningkat 51,43% YoY ke angka US$3,05 miliar, sedangkan ekspor migas hanya tumbuh 12,24% YoY ke angka US$1,38 miliar di periode yang sama. 

Apabila  ditarik secara historis, defisit perdagangan migas bulan lalu setidaknya merupakan yang terparah tahun ini. Apabila dibandingkan capaian bulan Juli 2018, defisit migas di Agustus 2018 sudah meningkat 35,18%.

Secara kumulatif, dari periode Januari-Juli 2018, defisit migas sudah defisit migas sudah mencapai US$8,35 miliar, atau sekitar Rp124,42 triliun menggunakan kurs rupiah saat ini. Nilai itu melambung sekitar 55% dari capaian di periode yang sama tahun lalu sebesar US$5,40 miliar.

Sebagai negara penyandang status net importir minyak, ada dua alasan yang mendorong membengkaknya defisit migas di tahun ini. Faktor tersebut adalah naiknya harga minyak dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah.

Rata-rata harga minyak jenis Brent berada di kisaran US$45,17/barel di tahun 2016. Sedangkan, rata-rata harganya di tahun 2017 tercatat sebesar US$54,78/barel, atau terjadi peningkatan sebesar 21,27% YoY. Di sepanjang tahun berjalan ini, harga minyak Brent juga masih tercatat menanjak di kisaran 16,78% hingga perdagangan akhir pekan lalu, ke level US$78,13/barel.

(cnbcindonesia.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini