Rekam Jejak Dipertanyakan, Ekologika Kini Dipercaya Oleh FSC untuk Menilai Dampak Negatif Yang Timbul akibat Kegiatan Operasional APP Group

By: Ali Afriandi (Manager Riset dan Advokasi, Perkumpulan Penyelamatan Ruang Hidup-Satwa Liar (PERISAI)
Redaksi Redaksi
Rekam Jejak Dipertanyakan, Ekologika Kini Dipercaya Oleh FSC untuk Menilai Dampak Negatif Yang Timbul akibat Kegiatan Operasional APP Group
Ali Afriandi

Forest Stewardship Council (FSC) telah menunjuk Ekologika sebagai lembaga independen untuk menilai dampak negatif dari kegiatan operasional APP Group. Secara prinsip, langkah ini seharusnya menjadi kabar baik.

Penilaian independen dibutuhkan untuk memastikan bahwa perusahaan benar-benar bertanggung jawab terhadap lingkungan, menghormati hak Masyarakat, memulihkan dampak negatif yang ditimbulkan dan memastikan kejadian serupa tidak berulang di masa mendatang.

Rekam jejak sebelumnya, Ekologika mendapat kritik saat berproses di Jambi dan Sumatera Selatan membuat publik di Riau bersikap hati-hati. Masyarakat tidak ingin penilaian ini hanya menjadi proses administratif yang menghasilkan laporan tebal tetapi tidak membawa perubahan nyata bagi Masyarakat yang terdampak.

Riau memiliki sejarah panjang konflik lahan, kerusakan gambut, dan kebakaran hutan yang berulang. Banyak Desa hidup berdampingan dengan konsesi Hutan Tanaman industri selama puluhan tahun. Dampaknya tidak hanya pada hutan dan lahan gambut saja, tetapi juga pada lahan dan sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, penilaian tidak boleh berhenti pada pemeriksaan dokumen atau pemetaan teknis di atas kertas semata.

Selama ini, asesmen sering fokus pada identifikasi kawasan bernilai konservasi tinggi (HCV) dan cadangan karbon (HCS). Pendekatan ini memang penting, tetapi tidak cukup. Persoalan di Riau bukan hanya soal ada atau tidaknya kawasan bernilai konservasi. Yang lebih penting adalah bagaimana operasional Perusahaan berdampak kepada akses masyarakat terhadap lahan dan sumber penghidupan mereka, bagaimana kanal yang dibuat Perusahaan mengubah kondisi gambut dan bagaimana konflik terjadi serta belum terselesaikan.

Penilaian ini juga harus menguji secara serius penerapan prinsip FPIC (Free, Prior and Informed Consent). Artinya, apakah masyarakat benar-benar diberi informasi yang jelas? Apakah mereka dilibatkan sejak awal tanpa tekanan?

Apakah persetujuan yang diberikan memang lahir dari pemahaman yang utuh?

Jika proses ini hanya formalitas, maka hasil penilaian berisiko melegitimasi ketidakadilan.

Selain itu, asesor tidak boleh keliru dalam menilai siapa yang menerima manfaat di tingkat tapak. Tidak semua kelompok merasakan manfaat yang sama dari program perusahaan. Ada yang mendapatkan akses atau bantuan, tetapi ada juga yang kehilangan lahan dan sumber penghidupan mereka. Jika penilaian hanya melihat daftar penerima program saja tanpa memahami kondisi sosial yang lebih luas, maka Kesimpulan dan rekomendasinya bisa menyesatkan.

Masalah lain adalah soal waktu. Dampak negative dari operasional Perusahaan APP group di Riau sudah berlangsung lebih dari tiga dekade. Konflik dan perubahan lingkungan tidak terjadi dalam waktu singkat. Karena itu, penilaian yang terburu-buru berisiko hanya melihat permukaan masalah, bukan akar persoalannya.

Bagi Ekologika, ini adalah ujian integritas. Independensi tidak cukup disebutkan dalam mandat, tetapi harus terlihat dalam cara bekerja: terbuka, melibatkan masyarakat secara langsung, dan berani menyampaikan temuan apa adanya.

Masyarakat Riau yang terdampak tidak menolak penilaian independen. Mereka justru berharap proses ini bisa menjadi jalan menuju perbaikan tata kelola hutan dan pemulihan yang adil dan bertanggung jawab. Namun jika hasilnya hanya berupa rekomendasi umum tanpa kejelasan tanggung jawab dan pemulihan, maka penilaian ini akan menjadi satu lagi dokumen yang tidak mengubah keadaan.


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini