Penanggulangan Kemiskinan di Meranti (2)

Prioritas Target dan Intervensi Bidang Kesehatan
Redaksi Redaksi
Penanggulangan Kemiskinan di Meranti (2)
Humas Meranti
SELATPANJANG, riaueditor.com- Angka kematian bayi tahun 2009 untuk Kabupaten Kepulauan Meranti masih berada di atas target penurunan nasional dan provinsi yaitu sebesar 56,08%. Hal ini mengindikasikan bahwa derajat kesehatan sebagian dari penduduk Kabupaten Meranti baik dari lingkungan maupun kesejahteraan masih belum mampu mendukung meningkatkan kelahiran bayi hidup pada tahun tersebut. Namun angka ini masih lebih baik dari upaya Kabupaten/Kota lainnya di Riau, misalnya Bengkalis, Pekanbaru, dan Dumai dalam upaya penurunan angka kematian bayi di wilayah masing-masing.

Kelahiran ditolong tenaga kesehatan untuk capaian target tahun 2011 Kabupaten Kepulauan Meranti masih jauh di bawah capaian target provinsi dan nasional. Kendalanya berdasarkan analisa di lapangan bahwa masih banyak ibu yang melahirkan mempercayakan proses kelahiran bayinya kepada tenaga non kesehatan seperti dukun beranak dan keluarga yang mengerti persalinan secara tradisional.

Sementara jumlah tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat/mantri kesehatan atau tenaga unsur kesehatan yang diberikan pelatihan persalinan masih terbatas jumlahnya sehingga masih banyak kelahiran yang mesti di tolong oleh tenaga non kesehatan.

Namun, jika dilihat pada kondisi rasio tenaga bidan per 10.000 penduduk pada tahun 2011 untuk Kabupaten Kepulauan Meranti target rasionya masih di bawah pencapaian dari target yang diinginkan provinsi maupun nasional, ini menjelaskan bahwa pada tahun 2011 jumlah tenaga bidan sebagai tenaga kesehatan yang mendapat prioritas sebagai tenaga penolong kelahiran belum mencukupi untuk per 10.000 penduduk di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Upaya penurunan persentase penduduk dengan pengobatan sendiri di Kabupaten Kepulauan Meranti masih jauh di atas upaya yang dilakukan oleh provinsi dan nasional. Hal ini menjelaskan beberapa hal seperti rendahnya kesadaran penduduk dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah baik itu pusat pelayanan kesehatan (seperti rumah sakit, puskesmas, pustu dan polindes), maupun tenaga kesehatannya (seperti: dokter, perawat/mantri kesehatan dan bidan).

Kemudian belum tercukupinya tenaga kesehatan yang dapat mengobati penduduk sehingga penduduk masih berupaya menjalani pengobatan sendiri, didukung tingkat kesejahteraan penduduk yang masih rendah membuat sebagian dari penduduk tidak mampu untuk pergi berobat ke pusat pelayanan kesehatan yang ada.

"Jika pun tersedia pusat pelayanan kesehatan yang terjangkau namun tenaga kesehatan yang dapat mengobati penduduk khususnya pada penyakit-penyakit yang berat belum tersedia sehingga penduduk terpaksa melakukan pengobatan sendiri baik dengan obat-obat pasaran, maupun ke pengobatan tradisional/paranormal."

Pada tahun 2011 untuk bidang kesehatan diperlukan intervensi yang sangat besar dan banyak oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti seperti penurunan angka kematian balita dengan intervensi pada jumlah tenaga bidan dan tenaga kesehatan yang memiliki kualifikasi dalam penolong kelahiran dan tenaga penyuluh gizi untuk ibu hamil dan balita.

Penurunan persentase penduduk dengan keluhan kesehatan dengan intervensi pada jumlah tenaga dokter baik dalam jumlah dokter umum, dokter spesialis maupun dokter gigi dengan proporsi yang sesuai dengan kebutuhan penduduk di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Selain itu, perlu juga penambahan tenaga penyuluh kesehatan dan kegiatan penyuluh dalam rangka peningkatan kesadaran penduduk dalam mengunakan fasilitas kesehatan yang disediakan. Disamping itu juga, perlu dianggarkan khussu untuk program jaminan kesehatan bagi penduduk sangat miskin, miskin dan hampir miskin agar mereka mau berobat tanpa memikirkan biayanya.

Penambahan jumlah puskesmas untuk kecamatan yang baru dimekarkan merupakan intervensi yang prioritas dan penambahan puskesmas pembantu untuk wilayah-wilayah yang jauh dari puskesmass dengan pertimbangan jumlah penduduk dengan keluhan kesehatan yang banyak juga menjadi prioritas disamping itu untuk sejumlah desa yang memiliki jumlah kematian bayi yang besar perlu dibangun juga polindes.

Prioritas Target dan Intervensi Bidang Pendidikan

Berdasarkan angka putus sekolah SD/MI pada perbandingan wilayah kabupaten/kota di Provinsi Riau angka putus sekolah Kabupaten Kepulauan Meranti masih sangat tinggi yaitu sebesar 1.87% jauh di atas target upaya pencapaian penurunan angka putus sekolah untuk SD/MI yang dilakukan oleh provinsi dan nasional.

Hal ini mengindikasikan bahwa untuk tahun 2011 di Kabupaten Kepulauan Meranti masih banyak anak usia sekolah 7-12 tahun yang duduk di bangku sekolah dasar maupun sederajat tidak dapat menyelesaikan sekolah hingga kelas VI dikarenakan berbagai alasan.

Kondisi tersebut semakin diperkuat dengan angka partisipasi kasar (APK) untuk SD/MI, dimana upaya peningkatan APK bagi sekolah dasar dan sederajatnya di Kabupaten Kepulauan Meranti masih jauh dari penargetan yang dilakukan oleh provinsi maupun nasional.

Hal ini sejalan dengan keadaan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk SD/MI, upaya peningkatan partisipasi anak usia sekolah 7-12 tahun agar mau dan menyelesaikan sekolah dasar dan sederajatnya masih jauh dari penargetan provinsi dan nasional.

Jika kedua indikator ini disandingkan angkanya, maka indikasinya masih banyak anak usia sekolah 7-12 tahun maupun yang harus mendapatkan pendidikan di sekolah dasar dan sederajat termasuk mengikuti program Paket A tidak tertampung dengan jumlah sekolah yang ada.

Jika jumlah sekolah mencukupi namun tenaga guru ataupun pengajar setingkat sekolah dasar masih belum mencukupi untuk melayani minat peserta didik sehingga keberlanjutan proses pendidikan terganggu dan menyebabkan siswa menghentikan sementara waktu kegiatan persekolahannya.

Sejumlah sekolah belum dapat dijangkau dengan baik oleh peserta didik yang bisa saja disebabkan akses jalan yang masih buruk menyebabkan siswa menjadi mundur dalam keinginan belajarnya.

Adanya biaya-biaya yang mesti ditanggung oleh siswa selama bersekolah menyebabkan siswa yang berasal dari penduduk miskin terutama desil 1-3 tidak mampu lagi melanjutkan hingga selesai.

Keadaan angka putus sekolah SMP/MTs Kabupaten Kepulauan Meranti berdasarkan hasil analisis grafik perbandingan antar wilayah kabupaten/kota di Provinsi Riau tahun 2011, memperlihatkan target penurunan angka putus sekolah sebesar 14.884% oleh Kabupaten Kepulauan Meranti untuk pendidikan menengah pertama dan sederajatnya masih di atas target penurunan yang diharapkan oleh provinsi (11.37%) dan nasional (11.47%).

Hal ini mengindikasikan jika pada tahun 2011 di Kabupaten Kepulauan Meranti masih banyak anak usia sekolah 13-15 tahun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya hingga kelas IX dikarenakan berbagai alasan.

Provinsi Riau tahun 2011 untuk APK SMP/MTs target peningkatan APK oleh Kabupaten Kepulauan Meranti sudah baik yaitu 91.15% melebihi dari target peningkatan APK okeh provinsi (89.49%) dan nasional (89.58%). Hal ini mengindikasikan adanya usia dibawah 13 tahun ataupun melebihi usia 15 tahun berada di dalam proses pendidikan menengah pertama dan sederajatnya.

Berhasilnya program paket A ke program paket B di Kabupaten Kepulauan Meranti dalam menampung peserta didik setara pendidikan menengah pertama. (Adv/Rahmi)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini