PSI Pekanbaru: Perlu Penanganan Komprehensif, Berkelanjutan dan Tegas Atasi Gepeng

Redaksi Redaksi
PSI Pekanbaru: Perlu Penanganan Komprehensif, Berkelanjutan dan Tegas Atasi Gepeng
Gepeng di salah satu titik persimpangan di Pekanbaru.(Foto: Ist)

PEKANBARU - Layaknya permasalahan yang terjadi di berbagai kota besar, dilema sosial gelandangan dan pengemis (gepeng) serta orang-orang terlantar tak bisa dihindari di Pekanbaru. Kehadirannya mengais recehan untuk sesuap nasi di setiap persimpangan saat ini sudah dinilai lumrah.

Kehadiran gepeng ini seperti dilema. Di satu sisi mereka adalah manusia yang dimaklumi harus memenuhi kebutuhan dengan meminta-minta kepada pengguna jalan. Di sisi lain, kehadirannya mengganggu ketertiban umum, sehingga perlu dilakukan penertiban oleh aparat terkait.

Sejatinya, Pemko Pekanbaru telah melakukan upaya-upaya pengentasan gepeng ini. Namun keberadaannya selalu terlihat setiap hari dengan wajah yang sama. Lantas, apa permasalahan sebenarnya, sehingga gepeng terus menjamur?

Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia Pekanbaru, Adlan Jori kepada riaueditor.com menerangkan, PSI sebelumnya mengapresiasi apa yang telah dilakukan pemerintah dalam mengatasi permasalahan gepeng ini. Pemko Pekanbaru telah menggunakan cara-cara yang manusiawi.

Seperti melakukan pembinaan kepada gepeng-gepeng yang ditertibkan dan memberikan fasilitas pelatihan dan keterampilan. Bahkan mereka juga diberi modal berupa perlengkapan usaha sesuai bidangnya keahliannya. Sayang, banyak di antaranya yang kembali ke jalan semula.

"Ini karena pembinaan yang dilakukan tak berkelanjutan. Setelah dibina, diberi pelatihan dan dimodali, mereka dilepas begitu saja tanpa ada pengawasan selanjutnya," kata Adlan Jori.

Ketika usaha sesuai keterampilan yang didapat selama pelatihan tak berjalan sesuai harapan, mereka pun menjual barang-barang yang diharapkan dapat menjadi modal utama untuk berusahanya. Ini sebut Adnan Jori karena mereka terdesak oleh keadaan. Setelah uang habis, mau tak mau mereka kembali seperti semula.

"Nah, pembinaan berkelanjutan ini yang kita nilai belum dilaksanakan. Seharusnya, setelah mereka mendapat keterampilan dan sudah memulai usaha dengan modal peralatan yang diberi, mereka juga dikontrol dan dibimbing, dilakukan dievaluasi, apa yang menjadi kendala saat menjalankan usahanya," papar Adlan Jori.

Adlan Jori yakin, jika usaha tersebut berjalan, mereka tentunya tak ingin lagi kembali ke jalan. Namun sangat sedikit dari para gepeng yang telah dibina ini bisa berhasil.

Adlan juga melihat, perlunya peran berbagai pihak untuk itu. Di sini tak hanya dinas sosial saja, namun mereka juga perlu diberikan pembinaan bagaimana mengembangkan usaha ataupun UMKM sesuai keterampilannya. Sehingga itu, perlu melibatkan pihak-pihak berwenang lainnya.

"Jadi, tak hanya melatih dengan keterampilan atau memberikan modal saja. Perlu pengawasan dan bimbingan berkelanjutan sampai akhirnya mereka kuat dan bisa mandiri," terang Adlan Jori.

Sebenarnya, tak hanya peran pemerintah saja, peran masyarakat juga sangat diperlukan. Yakni tidak memberikan uang kepada pengemis ini. Dengan memberikan uang kepada mereka, sebut Adlan itu sama saja mengajar mereka untuk terus menjadi peminta-minta.

"Jika ingin atau berniat membantu mereka, salurkanlah kepada badan atau instansi yang resmi, sehingga tepat sasaran. Berikan mereka pancing, bukan ikannya," tutup Adlan Jori.

Pemerintah juga diminta lebih tegas terhadap gepeng-gepeng. Memberikan efek jera, mengubah mindset mereka dari peminta-minta menjadi pelaku usaha.(Andi)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini