PSI Pekanbaru Imbau Masyarakat Selektif Memilih Informasi, Jangan Termakan Hoaks

Redaksi Redaksi
PSI Pekanbaru Imbau Masyarakat Selektif Memilih Informasi, Jangan Termakan Hoaks
Arif Rahman Hakim, S. Pd, MM.(Foto: Ist)

PEKANBARU - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Pekanbaru mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima informasi di internet, khususnya di media sosial. Masyarakat juga diminta untuk turut berpartisipasi menangkal hoaks atau berita bohong.

Juru bicara PSI Pekanbaru bidang Media dan IT, Arif Rahman Hakim, S. Pd, MM kepada riaueditor.com, Sabtu (5/8/2023) menyampaikan, di era digital saat ini yang serba cepat dan instan, masyarakat dituntut harus mampu menyaring setiap informasi yang diterima.

Arif meminta masyarakat tidak menelan begitu saja setiap informasi sensitif yang diterima. Namun perlu cek dan ricek, mencari info pembanding dari media lain yang kredibel dan terpercaya agar diketahui kebenarannya.

Media sosial adalah salah satu sarana penyebar informasi yang paling cepat. Hoaks pada umumnya lebih banyak tersebar di media sosial. "Jadi jangan mudah percaya begitu saja, termasuk dengan berita-berita yang disajikan oleh berbagai media online yang disinyalir tidak kredibel," kata Arif.

Apalagi kemudian berita tersebut diteruskan dan dibagikan kepada masyarakat lain sesama pengguna internet.

Berbahayanya berita-berita hoaks ini, kata Arif, dapat membuat kekisruhan dan lebih parahnya lagi menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Hal itu juga yang menjadi alasan bagi PSI agar masyarakat umum lebih berhati-hati menerima informasi.

"Ada media yang hanya mengejar angka kunjungan pada websitenya tanpa memperhatikan kebenaran dan sahihnya konten berita untuk tujuan tertentu. Ini yang harus difilter oleh masyarakat kita," kata Arif.

Arif menjelaskan, semakin banyak masyarakat mengeklik berita tersebut, maka trafficknya akan semakin tinggi. Google sebagai penyedia browser atau penjelajah internet secara otomatis akan mengindeks berita tersebut sebagai berita trending topics. Semakin banyak pengunjung, sistem Google secara otomatis akan meletakkan berita ini di posisi teratas.

Google sendiri tak bisa melihat lebih spesifik, apakah berita tersebut valid atau tidak. "Jadi jangan mudah percaya dengan judul berita. Para pembuat berita hoaks ini biasanya membuat judul yang membuat masyarakat penasaran," kata Arif lagi.

Demikian pula dengan foto-foto hoaks atau editan. Menurut Arif Rahman Hakim, memang sulit membedakan mana gambar yang asli dan mana yang editan.

Menjelang Pemilu 2024, PSI menilai berita-berita hoaks akan muncul lebih massif. Oleh karenanya, masyarakat tentu harus ekstra selektif lagi memilah dan memilih mana berita yang berdasarkan fakta dan mana berita bohong.

Arif menilai peran penting penyebaran hoaks ini ada pada organisasi pers. Organisasi pers penting untuk melakukan edukasi kepada masyarakat dan memberikan pemahaman tentang berita hoaks.

Masyarakat sendiri sebenarnya bisa berperan dan memang harus ikut serta dalam menekan informasi hoaks. Jika menemukan informasi yang tidak sesuai dengan fakta, masyarakat dapat melaporkan akun medsos yang bersangkutan.

"Caranya, melaporkan akun medsos penyebar hoaks tersebut ke penyedia jasa media sosial. Fitur lapor ini tersedia di setiap media sosial," papar Arif.

Namun, jika masyarakat merasa dirugikan dengan pemberitaan hoaks tersebut, PSI menyarankan untuk membuat aduan dan laporan ke aparat penegak hukum.(Andi)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini