Fenomena Caleg Incumbent "Terpental" dari Senayan

Redaksi Redaksi
Fenomena Caleg Incumbent
ilustrasi okezone
JAKARTA - Pemilu legeslatif yang digelar tanggal 9 April kemarin, masih menyisahkan haru biru di panggung politik nasional. Sejumlah calon incumbent yang "menghuni" Senayan sebagai rumah kedua setelah rumah pribadi yakni untuk menggambarkan betapa lamanya menjadi anggota dewan terhormat justru terpental.

Menurut pengamat komunikasi politik, Ari Junaedi, menganggap pemilu 2014 kali ini sangat ganas dan brutal. Politik uang begitu massif karena pemilih begitu pragmatis. Persaingan antar caleg DPR tidak saja melawan caleg dari parpol lain tetapi juga "bertempur" melawan caleg dari partai sendiri.

"Saya melihat, caleg sesama partai yang sama saling "sobek" tanda gambar masing-masing. Itu belum seberapa, ada juga caleg DPR yang "bekerjasama" dengan petugas tempat pemungutan suara untuk mengalihkan suara dukungan teman separtai ke suara caleg yang berdana besar," ujar Ari kepada Okezone, Kamis (24/4/2014).

"Spirit untuk menjaga dan mempertahankan marwah partai sendiri menjadi hilang. Spirit kemenangan caleg lebih diprioritaskan untuk mengamankan diri sendiri. Urusan partai menjadi nomor sekian," imbuh pria peraih penghargaan World Customs Organization Sertificate of Merit 2014 ini.

Menurut pengajar Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) dan beberapa kampus ternama ini fenomena "saling hajar" sesama caleg dari parpol yang sama, tidak terlepas dari komunikasi politik instan yang dibangun caleg itu sendiri.

"Jika caleg sudah jauh-jauh hari membangun komunikasi dan blusukkan ke dapil, tentunya caleg sudah menabung investasi di pencoblosan. Caleg terpancing menebar duit ke warga hanya karena bentuk ketakutan tidak terpilih," tegas dia.

Sementara kata dia, pemilih sekarang sangat pragmatis setelah melihat perilaku anggota DPR yang juga korup.

"Saat menjadi anggota dewan saja jarang menemui konstituennya makanya rakyat menghukumnya dengan tidak memilihnya di pemilu. Saat kampanye, nomor handphone mudah sekali ditebar ke warga oleh caleg. Bahkan belum ditelpon saja oleh warga sudah dijawab hallo oleh caleg. Tetapi begitu terpilih menjadi anggota DPR jangankan ditelpon oleh warga, dihubungi istri sendiri susahnya bukan main," pungkasnya.

Seperti diketahui, Calon anggota legislatif (caleg) DPR RI dari dapil Jawa Barat VIII (Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Purwakarta), Nurul Arifin, diprediksi gagal maju ke Senayan dalam pemilu kali ini. "Nurul Arifin enggak lolos dari dapil Bekasi, Karawang, Purwakarta," kata Ketua Badan Koordinasi Pemenangan Pemilu Golkar Jawa Barat, Ali Hasan.

Selain Nurul, nama besar lainnya dari partai beringin yang gagal ke Senayan adalah Titi Kadi. Dari Partai Demokrat, nama Sutan Bhatoegana pun diperkirakan gagal kembali menjadi Anggota DPR RI.


(hol/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini