Misi Ditunda Minggu Depan

Tak Mau Kampungnya Digusur, Warga Siap Dikubur Hidup-Hidup

Redaksi Redaksi
Tak Mau Kampungnya Digusur, Warga Siap Dikubur Hidup-Hidup
dik/oketimes
Kapolres Pelalawan meminta warga meninggalkan kampung secara baik-baik. Sambil menangis histeris warga menolak untuk digusur.
"Indonesia tanah air beta, tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata.." dengan cucuran air mata, lantunan lagu ini berkumandang dari ratusan warga yang didominasi kaum ibu dan anak-anak, sejenak setelah mereka menolak permintaan Kapolres untuk meninggalkan kampung yang dengan susah payah mereka bangun guna melanjutkan kehidupan dan masa depan anak-anak nusantara yang lahir dari rahim pertiwi.

PELALAWAN, riaueditor.com - Ratusan karyawan dan security PT  Nusa  Wana Raya (PT NWR) yang dikawal pihak Kepolisian Resor Pelalawan dan ratusan  personil Brimob rencananya hendak menggusur ratusan rumah-rumah warga kampung di desa Segati kecamatan Langgam kabupaten Pelalawan, provinsi Riau.

Kedatangan ratusan personil ini hendak mengamankan aksi pengusuran terhadap perkampungan ratusan kepala keluarga yang berkehidupan di dusun Sungai Lagan Bersatu. Disinyalir perkampungan tersebut hendak dihapuskan karena diklaim bagian dari areal konsesi Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman Iindustri (IUPHHK-HTI) PT Nusa Wana Raya, anak perusahaan PT RAPP.

Di Balai Pertemuan Kelompok Tani Sungai Lagan Bersatu, sebelum melakukan penggusuran Kapolres Pelalawan AKBP Aloysius Supriyadi, SIK mengajak warga berdialog untuk meninggalkan kampung tersebut secara baik-baik. Menurut Kapolres kampung yang ditempati warga itu termasuk di dalam konsesi perizinan HTI PT NWR.

Sontak saja ratusan warga terkejut dengan permintaan Kapolres Pelalawan, spontan kaum ibu diikuti bocah-bocahnya menangis histeris, bahkan ada yang langsung pingsan. Terang saja warga kemudian dengan lantang menolak rencana penggusuran tersebut.

Di saat Kapolres tengah berdialog dengan warga, karyawan dan security PT NWR diam-diam merusak tanaman warga berupa ubi kayu, pohon pisang serta kebun kelapa sawit dan tanaman lainnya.

Tak cukup itu saja, dua  unit  alat berat Eksavator dan Dozer PT NWR pun sudah disiagakan untuk meluluh lantakan apa saja yang diperintahkan untuk digusur. Alat berat tersebut terparkir beberapa meter dari rumah punduduk yang berdindingkan papan.

Mendengar tanaman mereka dirusak oleh karyawan PT NWR, ribuan warga pun menyerbu lokasi. Namun langkah warga tertahan dikarenakan ratusan karyawan dan security PT NWR sudah standby menunggu kedatangan ribuan warga tersebut dengan berbagai senjata tajam ditangan seperti dodos sawit, parang, pentungan, pisau dan lainnya. Sementara warga desa tampak berjalan kaki dengan tangan kosong.

Melihat perlawanan yang tidak seimbang, warga meminta Polisi dan Brimob untuk mengusir karyawan mau pun security PT NWR dari kebun dan perumahannya. Namun sayang permintaan warga tersebut ditanggapi dingin.

Guna menghindari terjadinya pertumpahan darah yang bakal terekam kamera wartawan, ratusan karyawan dan security PT NWR menunda aksi penggusuran ribuan warga desa tersebut sampai minggu depan.

"Kami tidak akan mundur setapak pun, walau kami harus dikubur hidup-hidup di desa ini. Kami sudah tidak ada lagi tempat tinggal selain desa ini," ungkap Butet, salah seorang dari kaum ibu warga dusun Sungai Lagan Bersatu.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi masih mencekam. (dik/har)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini