Nadril, Warga Miskin Penderita Tumor Ganas ‘Terlantar’

Redaksi Redaksi
Nadril, Warga Miskin Penderita Tumor Ganas ‘Terlantar’
Hasbi/riaueditor.com
Nadril penderita Tumor ganas hanya dirawat di rumah.
BANGKINANG, riaueditor.com - Nadril (36) salah seorang warga miskin di Bangkinang menanggung derita akibat sakit yang dialaminya tanpa mendapatkan layanan kesehatan yang memuaskan dari pihak Rumah Sakit Pemerintah.

Wartawan riaueditor.com yang mengetahui kabar Nadril, bersama beberapa mahasiswa dari AMIK Riau dan STIE Bangkinang langsung bergerak melihat kondisi Nadril di rumahnya di RT 01/RW 01, Dusun I Desa Pulau Lawas Kecamatan Bangkinang, Senin (30/12).

Dirumah yang berdinding papan itu, didampingi istrinya Nadril terlihat mengerang menahan rasa sakit. Kondisinya sangat miris, tubuhnya kurus kering. Ada tujuh lubang di badannya yang terlihat bernanah. Lubang ini sebelumnya berbentuk bentolan yang tumbuh di beberapa bagian tubuhnya.

Nadril hanya bisa terbaring lemah di lantai depan berukuran 3 x 4 meter tersebut. Nadril terlihat sulit untuk bicara dengan belasan mahasiswa dan wartawan yang datang menjenguknya. Hanya istrinya Samsinar (36) menjelaskan nasib suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak tersebut.

Samsinar mengungkapkan, sakit yang diderita suaminya terjadi sejak enam bulan lalu. Karena suaminya merasa tak tahan lagi, maka dengan bermodalkan kartu Jamkesmas, Nadril lalu dibawa ke RSUD Bangkinang. Oleh dokter di RSUD Bangkinang Nadril dinyatakan menderita batu karang. Lalu, Nadril dirujuk oleh RSUD Bangkinang ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.

Anehnya, dokter RSUD Arifin Achmad Pekanbaru menyatakan Nadril menderita tumor ganas. Karena  kamar di RSUD Arifin Achmad penuh, keluarga miskin ini disarankan rawat jalan saja.

Saran tersebut telah dijalani Samsinar dan suaminya beberapa kali. Namun karena kondisi ekonomi yang tak memungkinkan dan kondisi Nadril yang tidak kuat lagi naik turun mobil, maka beberapa bulan terakhir Samsinar memutuskan berobat di rumah saja.

"Karena kondisi tak memungkinkan bolak balik ke Pekanbaru, maka bapak dirawat dirumah saja. Pernah di Rumah Sakit bapak nginap di ubin, tak sanggup lagi ke Pekanbaru," kata Samsinar.

Samsinar menambahkan sekarang pakai obat herbal dan suntik sekali dua hari di bidan sini, "Bengkaknya ada tujuh, sekarang sudah pecah dan berlobang termasuk di punggung dan pantatnya, dan tak memungkinkan lagi dioperasi karena barang yang diangkat sudah meletus. Sudah sampai tujuh lubang," ujar Samsinar sambil memperlihatkan lubang-lubang di bagian tubuh suaminya.

Hingga kemarin, sambung Samsinar dia belum mendapatkan bantuan dari Pemerintah, hanya bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kampar. Bantuan itulah yang digunakan untuk biaya berobat selama Nadril dirawat di rumah.

Lanjutnya, pernah suatu hari keluarga suaminya dari Payakumbuh ingin merawatnya ke Sumbar, namun ditolaknya karena kondisi suaminya juga sudah sangat lemah. Jika dirawat di rumah sakit Samsinar juga merasa khawatir bagaimana anak-anaknya yang lima orang masih kecil-kecil.

Sejak suaminya sakit, Samsinar mencoba berjualan jajanan anak-anak di sebuah Sekolah Dasar di Desa Pulau Lawas. "Kalau saya tak bekerja bagaimana pula kami mau makan, anak-anak juga sekolah," ujar Samsinar dengan suara lirih.(bi)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini