PGRI Desak Disdik Pelalawan Tanggap Permasalahan Tenaga Pendidik

Syafi`i: Persoalan Guru dan Kepsek Terjadi di Sejumlah Sekolah
Redaksi Redaksi
PGRI Desak Disdik Pelalawan Tanggap Permasalahan Tenaga Pendidik
Ketua PGRI Kabupaten Pelalawan, M Syafi`i
PELALAWAN, riaueditor.com - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Pelalawan mendesak Dinas Pendidikan bisa lebih tanggap lagi dalam menangani persoalan-persoalan yang terjadi di kalangan tenaga pendidik di daerah ini. Hal ini menindaklanjuti adanya peristiwa pembacokan yang menimpa Kepsek SMKN 1 Ukui, Nova Damayanti, yang dilakukan oleh guru di sekolah yang sama.

"Informasi yang saya terima, persoalan antara guru dan Kepsek itu bukan hanya terjadi di SMKN 1 Ukui saja, tapi juga terjadi di beberapa sekolah. Artinya, jangan sampai peristiwa pembacokan akibat misskomunikasi antar tenaga pendidik kembali terulang," tegas Ketua PGRI Kabupaten Pelalawan, M Syafi`i, pada media ini via selulernya, Selasa (1/12/2015).

Syafii mengatakan bahwa pihaknya juga menyesali atas sikap Dinas Pendidikan dalam hal ini Kepala Dinas Pendidikan yang tak ada mengunjungi sama sekali korban, dari mulai masuk ke rumah sakit sampai korban dibawa pulang. Bahkan Kadisdik tak ada juga sama sekali mendatangi SMKN 1 Ukui guna memberikan ketenangan bagi para guru dan murid yang ada di sana.

"Seharusnya sebagai orang nomor satu di lingkungan Dinas Pendidikan, beliau bisa memberikan ketenangan bagi para guru dan siswa di sana. Ingat, peristiwa ini terjadi di depan guru dan para siswa. Langsung atau tidak, mereka akan terkena imbasnya secara psikis. Tapi ini jangankan emberi ketenangan di sekolah tersebut, menengok Kepsek SMKN 1 Ukui saja di rumah sakit tak ada," tegas Syafi`i.

Karena itu, sambungnya, dirinya menilai sepertinya Dinas Pendidikan seolah-olah menganggap kecil peristiwa yang hampir merenggut nyawa seorang Kepala Sekolah. Padahal persoalan ini ukanlah semata-mata persoalan probadi antara pelaku dan korban, karena seminggu sebelum peristiwa tragis itu terjadi, pelaku mengirimkan pesan pendek pada Kadisdik terkait persoalannya dengan Kepsek SMKN 1 Ukui.

"Begitu juga dengan Kepsek SMKN 1 Ukui, Nova Damayanti, memberita juga pada Dinas Pendidikan tentang persoalannya dengan pelaku. Namun ternyata Dinas Pendidikan abai dengan laporan-laporan ini sehingga pelaku sudah tak bisa mengontrol emosinya lagi dan melakukan pembacokan pada korban," ujarnya.

Andaikata Dinas Pendidikan, lanjutnya, dalam hal ini Kepala Dinas Pendidikan cepat tanggap dalam menangani persoalan ini, besar kemungkinan pembacokan ini tak terjadi. Karena apapun ceritanya, inti dari persoalan ini adalah misskomunikasi yang tak sinkron antara korban dan pelaku.

Dan di sinilah seharusnya Kepala Dinas Pendidikan dapat menjembatani misskomunikasi ini.

"Mereka adalah para guru yang notabene akan patuh pada atasannya. Kalau saja Kepala Dinas Pendidikan tanggap dalam hal ini, besar kemungkinan takkan terjadi peristiwa ini," tandasnya.

Terpisah, Kadisdik Pelalawan, Drs Syafrudin, saat dikonfirmasi via selulernya mengatakan bahwa dirinya sudah mendatangi dan menjenguk korban saat berada di Rumah Sakit. Memang, pada saat kejadian dirinya tengah berada di Kuala Kampar guna mengikuti HUT PGRI yang ke 70, jadi tak bisa langsung datang menjenguk.

"Tapi saya sudah datang kok menengok korban saat di Rumah Sakit," katanya.

Ditanya tanggapannnya soal peristiwa pembacokan itu sendiri, Syafrudin mengatakan bahwa pihaknya akan mengikuti proses hukum yang kini tengah dijalani oleh sang pelaku. Jika pelaku telah ditetapkan hukumannya oleh pengadilan maka baru pihaknya akan memberikan sanksi berat bagi pelaku.

"Kalau untuk proses belajar mengajar di SMKN 1 Ukui karena korban yang notabene adalah Kepsek tengah menjalani perawatan, maka untuk sementara pihaknya akan menunjuk Plt Kepsek agar proses belajar mengajar bisa berjalan seperti biasa. Nanti besok saya berenacana akan datang ke SMKN 1 Ukui," ujarnya.

Disinggung soal pesan pendek yang dikirimkan pelaku pada Kadisdik sebelum pembacokan itu terjadi, Kadisdik mengakui hal itu. Menurutnya,pelaku mengirimkan pesan pendek pada dirinya terkait adanya persoalan dengan Kepsek SMK 1 Ukui, tiga hari sebelum kejadian. Tapi oleh Syafrudin, pesan tersebut langsung disampaikan ke UPTD Dinas Pendidikan di Ukui yang merupakan perpanjangan tangan dari Dinas Pendidikan.

"Saya teruskan pesan pendek itu ke UPTD di Ukui. Saat ini, saya memberlakukan jenjang pengawasan bertingkat. Artinya, jika persoalan ini bisa diselesaikan di tingkat kecamatan maka tak perlu harus naik ke tingkat kabupaten," katanya.

Namun soal pesan pendek ini langsung dibantah oleh UPTD Ukui, Ridwan, saat dikonfirmasi via selulernya, Rabu (2/12). Menurutnya, dirinya tak mengetahui sama sekali persoalan yang terjadi antara pelaku dan Kepsek SMKN 1 Ukui, sampai akhirnya terjadi pembacokan itu. Bahkan dirinya tak ada menerima pesan pendek yang disampaikan oleh Kadisdik.

"Sumpah, tak ada pesan pendek yag disampaikan oleh Kadisdik pada saya. Bahkan saya tak tahu apa-apa persoalan antara pelaku dengan korban, sebelum peristiwa itu terjadi. Saya sendiri mengetahui peristiwa pembacokan pada kepsek SMKN 1 Ukui itu dari anggota saya yang tengah mengikuti HUT PGRI di Kuala Kampar. Saya tengah berada di kantor dan langsung meluncur ke SMKN 1 Ukui, tapi selisih jalan, karena Kepsek sudah dibawa ke Puskesmas Ukui dan kemudian ke RS Efarina. Saya juga menyayangkan karena sampai saat ini, Kadisdik belum ada menengok korban ke Rumah Sakit atau pun berkunjung ke SMKN 1 Ukui guna memberikan ketenangan bagi para guru dan siswa-siswi di sana," tutupnya. (zul)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini