Derita Perantau Ibu Kota, Dilarang Mudik hingga Tunda Menikah

Redaksi Redaksi
Derita Perantau Ibu Kota, Dilarang Mudik hingga Tunda Menikah
(ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)
Ilustrasi larangan mudik.

JAKARTA - Pertengahan Maret lalu, Yaya, 26 tahun berkomunikasi dengan ibunya melalui sambungan video. Maklum, ibu dan anak ini tinggal berjauhan, beda provinsi. 

Yaya mengadu nasib di Jakarta dan bekerja di salah satu perusahaan swasta di ibu kota, sementara ibunya berada di kampung halaman di Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat.

Melepas rindu melalui video call jadi jalan satu-satunya yang bisa dilakukan Yaya dengan ibunya yang kini tinggal berdua bersama kakak pertamanya di Ciamis.

Sejak Oktober 2019 lalu Yaya berjanji kepada ibunya bahwa tahun 2020 ini dia akan mengambil cuti saat lebaran. Paling cepat dia akan tinggal dua minggu di rumah. Maklum, sudah empat kali puasa empat kali lebaran dia tidak pulang kampung.

Sayangnya, ketika melakukan panggilan video itu, sang ibu justru melarangnya pulang. Ada kesedihan dalam benaknya bahwa ia akan melewati tahun kelima tanpa berlebaran bersama ibu. Alasannya satu, virus corona.

"Kamu jangan pulang deh pas lebaran, nanti saja kalau [virus] corona sudah enggak ada. Kalau kamu pulang mamah nanti ketularan, enggak mau mamah," kata Yaya menirukan ucapan ibunya.

Kala itu dia sempat berpikir memaksa pulang, toh kondisi tubuhnya juga sehat dan dia tak mengalami gejala Covid-19. Apalagi kantor tempat dia bekerja juga menerapkan sistem kerja dari rumah.

Sederet faktor-faktor tersebut bisa jadi landasan bagi Yaya nekad pulang ke kampung halaman. Namun, niat itu dia urungkan juga setelah banyak pemberitaan terkait orang tanpa gejala yang bisa menjadi pembawa virus atau carrier dan menularkan virus kepada orang lain, terutama pada yang lebih rentan seperti pada lanjut usia.

Pandemi virus corona membuat perantau menghabiskan lebaran di Jakarta.Pandemi virus corona membuat perantau menghabiskan lebaran di Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Atas anjurang sang ibu, Yaya memutuskan untuk tak mudik dan bekerja seperti empat tahun belakangan di setiap momen Idul Fitri demi mengisi kekosongan hari raya sendirian di Jakarta.

Larangan ibu Yaya tersebut senada dengan kebijakan pemerintah. Presiden Joko Widodo mengumumkan secara resmi larangan mudik bagi perantau ibu kota. Larangan ini akan berlaku per 24 April mendatang.

Yaya yang membaca berita sontak memberi tahu keluarganya di kampung. Termasuk ayahnya yang tengah bekerja di Bandung. Grup aplikasi berkirim pesan Whatsapp keluarga pun ramai dengan dalil sang ibu yang bangga karena bisa mendahului Jokowi perihal larangan mudik untuk anak dan suaminya.

"Mamah bilang juga apa. Jokowi itu ngikutin mamah. Kan yang duluan larang mudik ayah sama kamu itu ibu. Baguslah. Biar corona enggak menyebar ke kampung, di kampung enggak ada dokter, adanya dukun," kata Yaya kembali mengulang lelucon ibunya.

Batal Mudik Jadi Ancaman Tunda Menikah

Lain Yaya, lain lagi Filani Olivia, 28 tahun. Gadis asal Pekanbaru, Riau, ini bukan saja tiak bisa mudik, tetapi juga terancam gagal nikah sesuai dengan waktu yang direncanakan.

Saat hari raya Idul Fitri tiba, Filani lebih sering pulang ke Pekanbaru. Meskipun terkadang dia memilih ke rumah kerabatnya karena tidak bisa ke Pekanbaru lantaran tak dapat libur panjang.

Namun setelah pengumuman Presiden Jokowi soal larangan mudik, bisa jadi tahun ini adalah kali pertama Filani berlebaran sendirian di kamar indekos.

"Waktu beberapa tahun lalu itu emang enggak mudik karena belum dapat cuti di tempat kerja lama. Tapi enggak ada wabah, masih bisa datang ke Bandung ke tempat saudara. Sekarang mana bisa, paling sendirian di indekos, sedih sih pasti," kata dia.

Padahal, lebaran tahun ini tidak sekadar momen mudik bagi Filani, tetapi juga akan digunakan untuk mengurus segala persiapan pernikahan bersama calon suami.

"Ya karena kan awalnya kami berpikir pas nih tiga bulanan sebelum nikah deh urus-urus surat pernikahan. Tapi ya bagaimana, sekarang KUA saja udah tutup," tutur Filani.

Lebih dari itu, gagal mudik menghadapkan Filani pada ketidakjelasan dari rencana masa depannya dengan sang kekasih yang telah dirangkai jauh-jauh hari.

Sejak lama Filani merencanakan menggelar akad dan resepsi pernikahan di bulan Juni nanti. Tetapi, wabah Covid-19 membuat Filani dan keluarga sepakat rencana pernikahan ini ditunda hingga Agustus nanti. Kata dia mundur dua bulan tidak apa-apa.

Namun kini, krisis global tersebut bisa membuat harapan Filani kembali melayang. Pandemi virus corona tidak saja membuat angan-angan Filani dan calon suami kembali harus tertunda.

"Tapi, setelah diskusi sana-sini kayaknya Agustus juga enggak mungkin [menikah] deh kalau melihat kurva kenaikan korban. Jadi sampai sekarang memang enggak jelas," kata Filani bercerita kepada CNNIndonesia.com.

Nasib serupa juga dirasakan Fairuz Rana, 28 tahun. Diakuinya, ini adalah kali pertama dirinya akan berlebaran sendirian di Jakarta, tepatnya di kamar indekosnya.

Rana, sapaan akrabnya bahkan sebelumnya telah membeli tiket pesawat untuk pulang ke Aceh beberapa hari sebelum lebaran. Saat itu dia memesan tiket sebelum Jokowi resmi mengumumkan larangan mudik yang akan berlaku per 24 April nanti.

"Harganya hampir tiga jutaan lebih, itu bareng adik yang juga kerja di Jakarta. Akhirnya dikembalikan. Itu juga enggak balik semua uangnya," ucap Fairuz.

Darurat corona tak hanya membuat Fairuz berlebaran sendirian di ibu kota, tetapi ia juga terancam menggeser pernikahannya ke tahun depan, seperti Filani.

Bahkan sejak sebulan lalu Fairuz sudah menunda rencana lamaran. Semula calon suaminya hendak mendatangi keluarga Fairuz untuk melamar pada Maret lalu. Tapi wabah corona menggagalkan rencana lamaran tersebut.

"Ya ditunda. Nikahnya kemungkinan jadi tahun depan. Mau bagaimana lagi, memang enggak bisa kan," kata Rana. 

(CNNIndonesia.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini