Wamenkeu Sebut Indonesia Memang Butuh Utang, Terus Kenapa?

Redaksi Redaksi
Wamenkeu Sebut Indonesia Memang Butuh Utang, Terus Kenapa?
(CNBC Indonesia/Chandra Gian Asmara)
Foto: Suahasil Nazara

JAKARTA - Wakil Kementerian Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengimbau kepada masyarakat agar jangan menstigmatisasi (membuat stigma) utang pemerintah buruk.

Untuk diketahui, Kemenkeu memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan melebar pada kisaran 2,2% terhadap PDB hingga akhir 2019. Defisit ini naik dari target APBN 2019 yang sebesar 1,93%.

Pasalnya, pelebaran defisit itu diklaim untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah melambatnya perekonomian global. Sehingga pemerintah harus memberikan stimulus kepada masyarakat, terutama di daerah untuk bisa menjaga daya beli.

"Pemerintah akan melakukan pengeluaran barang, modal, dan transfer ke daerah. Ketika perekonomian melemah, maka penerimaan pajak juga pasti berkurang. Supaya APBN bisa memberi support ke perekonomian, maka defisit harus dilebarkan," ujar Suahasil di 3rd Consumer Banking Forum di Jakarta, Rabu (27/11/2019).

"Defisit tambah besar, utang tambah banyak. Karena itu jangan stigmatisasi utang. Karena pada saat diperlukan kita harus pake alat itu," kata Suahasil melanjutkan.

Menurut Suahasil utang adalah alat dan apabila dipakai dengan benar, utang bisa menghadirkan keberkahan tersendiri.

"Kalau utang sudah di-stigmatisasi dari awal dan ketika diperlukan, kita tidak bisa pakai, dan tidak bisa lebarkan defisit. Juga, tidak bisa menjaga pengeluaran suapaya menjaga momentum pertumbuhan lebih cepat. Itu kita nggak mau," tuturnya.

Sebagai informasi, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posisi utang pemerintah per akhir Oktober 2019 berada di angka Rp 4.756,13 triliun. Rasio utang ini mencapai 29,87% terhadap PDB.

Adapun posisi utang ini mengalami kenaikan sebesar Rp 277,56 triliun dibandingkan posisi Oktober 2018 yang tercatat sebesar Rp 4.478,57 triliun.

(cnbcindonesia.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini