Banyak Polisi Diduga Jadi Budak Sindikat Narkoba Internasional

Redaksi Redaksi
Banyak Polisi Diduga Jadi Budak Sindikat Narkoba Internasional
ilustrasi okezone
JAKARTA - Penangkapan anggota Polda Kalbar, AKBP Idha Endri Prastiono dan Bripka MH Harahap, oleh polisi Malaysia dalam kasus penyalahgunaan narkotika membuktikan betapa lemahnya pengawasan internal kepolisian dan tidak pedulinya atasan terhadap tingkah laku anak buah.
 
"Akibatnya, jaringan narkoba internasional dengan mudah memperalat dan menjadikan anggota Polri sebagai budaknya," sesal Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, Minggu (7/9/2014).
 
Dengan adanya kasus ini, saran Neta, Polri harus segera mengevaluasi kinerja intelijen dan Deputi SDM. Intelijen harus bisa memantau dan mendeteksi tingkah laku aparat Polri yang bermasalah. Sementara Deputi SDM tidak lagi ceroboh memberi jabatan pada polisi-polisi bermasalah.
 
Tak kalah pentingnya, menurut dia, sudah saatnya Polri menelusuri, sejauh mana jajarannya diperalat dan diperbudak bandar narkoba, khususnya jaringan internasional. "Sebab kasus dua polisi itu hanyalah puncak gunung es yang bukan mustahil di bawahnya, yang tidak terungkap cukup banyak polisi yang diduga terlibat," tutupnya.
 
Selain faktor lemahnya pengawasan internal, IPW juga mencatat ada dua kecerobohan Polri dalam kasus tertangkapnya AKBP Idha Endri Prastiono dan Bripka MH Harahap.
 
"Pertama, kenapa kedua polisi itu bisa lolos pergi keluar negeri tanpa ijin atasan. Padahal, pada 12 April 2010, saat Komjen Susno Duaji hendak pergi berobat ke Singapura berhasil ditangkap Propam Polri di Bandara Soekarno-Hatta, dengan alasan tidak ada ijin atasan," ulas Neta.
 
Lolosnya kedua polisi itu ke Malaysia, menurut Neta, membuktikan intelijen Polri, khususnya intelijen Polda Kalbar tidak bekerja. Padahal biasanya di setiap bandara ada intel kepolisian yang mendeteksi semua kegiatan di bandara.
 
Kedua, masih menurut Neta, kasus AKBP Idha membuktikan buruknya sistem mutasi Polri dan cerobohnya Deputi SDM Polri. Bagaimana tidak, AKBP Idha yang sudah bermasalah di Polda Sumut bukannya dipecat atau ditindak, malah dimutasi ke Polda Kalbar dan mendapat jabatan strategis, yakni sebagai Kasubdit III di Dirnarkoba.
 
Di sini AKBP Idha kembali membuat masalah. Ia dituduh menggelapkan barang bukti narkoba dan istrinya disebut-sebut kehilangan perhiasan senilai Rp19 miliar di pesawat. "Ironisnya, tidak ada penyidikan serius dari Polri mengenai asal usul perhiasan itu hingga akhirnya AKBP Idha ditangkap polisi Malaysia," tutupnya.

(ful/okezone)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini