FP3M Sisir Sampah non Organik di Pantai Parit Bangkong

Berharap pemerintah Tersentuh
Redaksi Redaksi
FP3M Sisir Sampah non Organik di Pantai Parit Bangkong
DRI/RE
Relawan FP3M Parit Bangkong

Bengkalis,riauditor.com - Lahan kosong, jurang, sungai dan laut bukanlah tempat sampah. Untuk menyelamatkan bumi, manusia harus bisa memulainya dari diri sendiri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Hal membuang sampah sembarangan ini patut disikapi serius mulai saat ini. 

Bahwasanya, saat ini bumi terancam akibat sampah non organik yang tak bisa diurai tanah dalam waktu singkat. Bahkan sampah non organik seperti plastik atau Styrofoam yang merupakan bentuk olahan lain dari plastic mampu bertahan hingga 400 tahun di dalam tanah.

Adalah FP3M (Forum Pembantu, Pembela Pejuang Masyarakat Parit Bangkong) yang beranggotakan kurang lebih 80 sukarelawan di Parit Bangkong sekitarnya. FP3M merupakan gabungan para pemuda hingga anak-anak putus sekolah yang peduli terhadap kelangsungan bumi.

Berbagai kegiatan sukarela telah dilakukan FP3M. Terakhir, dengan peralatan seadanya, sekitar 80 sukarelawan menyisir dan mengumpulkan sampah non organik yang terdapat di sepanjang pantai bahkan hingga selokan di wilayah Parit Bangkong. Hasilnya, pantai dan selokan di sekitar Parit Bangkong yang biasanya kotor, kini terlihat bersih.

Sementara itu, Rianto, Ketua FP3M kepada riaueditor menjelaskan, dalam kegiatan itu, para sukarelawan FP3M mengambil dan mengumpulkan sampah non-organik yang tak dapat diurai oleh alam, seperti botol, plastik, kaleng, styrofoam dan lain sejenisnya.

Selama 2 (dua) jam menyisir selokan dan pantai, kebanyakan sampah non organik ini ditemukan di bawah kolong rumah warga di pinggir laut, bahkan di beberapa titik terlihat menumpuk dan menghambat saluran pembuangan air.

"Kebanyakan sampah non organik yang kita temukan itu jenis plastik yang butuh waktu lama ntuk diurai secara alami," kata Rianto.

Hasilnya, kata Rianto, sampah ini bukan dibuang, namun dikumpulkan untuk dimanfaatkan lagi. Sampah non organik ini dipadukan dengan abuk kayu untuk dijadikan turap sebagai pencegah abrasi. 

 "Kita harus memulai dari diri sendiri untuk tidak menghasilkan sampah non organik. Setidaknya kita bisa mengurangi limbah organik dengan memakainya berkali-kali," sebut Rianto lagi.

Lebih jauh, manusia di bumi ini sebutnya hanya memiliki hak guna pakai. Manusia memiliki kewajiban menjaga dan melestarikan bumi. Sangat tidak pantas jika manusia yang sudah diberi tumpangan hidup di bumi, kemudian justru merusaknya.

"Mengurangi membuat sampah adalah pilihan kita. Kalau tidak bisa menghindari untuk menghasilkan sampah plastik, paling tidak kita tahu yang mana yang dapat diolah atau didaur ulang," tegas Rianto, dalam penyuluhan kelas sampah yang diadakan oleh Komunitas Bengkalis Bersih.

Yang cukup menarik, FP3M bukan hanya kumpulan sukarelawan yang terdiri dari pemuda dan anak putus sekolah saja, namun seorang politisi juga bergabung di FP3M. "Aksi bersih-bersih ini tak hanya sekedar seru-seruan, namun juga memiliki manfaat besar. Kita jangan hanya mau menikmati alam saja, tetapi tak mau menjaga kelestariannya," kata Zulius, sukarelawan FP3M yang juga aktifis partai.

Senada dengan Zuliyus, sukarelawan lain juga menyampaikan hal yang sama. Jika mau peduli, sebenarnya bisa dimulai dari hal yang kecil. Kegiatan FP3M ini juga diharapkan bisa menyentuh kesadaran pemerintah untuk lebih peduli terhadap alam, khususnya lagi limbah non organik yang dihasilkan masyarakat.(dri)


Tag:

Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini