WORLD ALLERGY WEEK 2021:

Deteksi Dini Alergi pada Si Kecil Agar Tetap Berprestasi

Redaksi Redaksi
Deteksi Dini Alergi pada Si Kecil Agar Tetap Berprestasi
detik.com

JAKARTA - (26 Juni 2021), Morinaga sebagai salah satu brand unggulan KALBE Nutritionals, mendukung program tahunan World Allergy Week dengan konsisten melalui berbagai program edukasi kepada masyarakat Indonesia. Dalam mendukung Si Kecil yang alergi mengoptimalkan pertumbuhannya agar tetap bisa berprestasi, maka tahun ini Morinaga Allergy Week mempersembahkan Webinar Kesehatan dengan tema “Atasi Alergi Si Kecil dengan Deteksi Dini“.

World Allergy Week merupakan program tahunan inisiasi World Allergy Organization (WAO) dalam rangka meningkatkan pemahaman mengenai alergi dan penyakit lain yang terkait, serta menggagas pelatihan dan sumber daya untuk melakukan diagnosis dan tindakan pencegahan.

Dewi Angraeni, Business Head Morinaga, KALBE Nutritionals meyakini setiap orang tua pasti ingin anaknya tumbuh kembang secara optimal termasuk anak dengan kondisi alergi.

“Orang tua perlu mengetahui bahwa Si Kecil yang alergi tetap dapat tumbuh optimal dan berprestasi jika alerginya diatasi dengan deteksi secara dini. Untuk itu Morinaga selalu berkomitmen meningkatkan edukasi dan akses nutrisi melalui program World Allergy Week hari ini,” jelas Dewi Angraeni.

Penyakit alergi seperti asma, rinitis alergi, alergi makanan, dermatitis atopik, serta alergi protein susu sapi merupakan kasus alergi yang paling banyak diderita oleh Si Kecil.

Pada acara webinar tersebut, Prof. Dr. dr. Budi Setiabudiawan, Sp.A(K), M.Kes. Dokter Konsultan Alergi Imunologi Anak menjelaskan bahwa, “Alergi susu sapi merupakan salah satu alergi makanan yang paling sering dialami anak-anak di Asia. Kejadian alergi susu sapi pada anak-anak di Indonesia yaitu 0,5% - 7,5%. Meskipun sebagian besar anak-anak pulih dari gejala saat meninggalkan periode balita, tetapi bukan berarti alergi ini bisa disepelekan.

"Jika kondisi alergi terdiagnosis sejak awal dan segera dikonsultasikan ke dokter maka dapat dilakukan tata laksana yang tepat sehingga tumbuh kembangnya optimal. Sebaliknya, jika terlambat didiagnosis dan orang tua mendiagnosis sendiri, maka bisa muncul dampak-dampak tidak diinginkan, yaitu dampak kesehatan yaitu tumbuh kembang anak, serta meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti hipertensi atau sakit jantung di kemudian hari. Kemudian dampak ekonomi karena harus sering berobat ke dokter, serta dampak psikologis karena bisa timbul stress pada ibu dan anaknya,“ ungkap Prof. Budi.


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini