Korban Perang Dagang, Wine Australia Tutup Kantornya di China

Redaksi Redaksi
Korban Perang Dagang, Wine Australia Tutup Kantornya di China
(File Photo Reuters)
Foto: Ilustrasi bendera Australia dan China.

JAKARTA - Perang dagang antara Australia dan China memakan korban baru. Kali ini Wine Australia.

Lembaga yang menaungi penjualan produk wine (minuman beralkohol yang terbuat dari fermentasi anggur) asal negeri Selatan bumi itu memutuskan untuk menutup kantornya di China. Langkah ini diambil setelah komoditas ekspor unggulan Negeri Kangguru itu terkena beberapa larangan yang diterapkan Beijing.

Wine Australia mengatakan penjualan di China telah mengalami gangguan dari lingkungan dan potensi pasar. Meski begitu, mereka menekankan akan tetap menjual produknya di Negeri Tirai Bambu.

"Wine Australia akan terus mempertahankan kehadiran kami di China melalui perdagangan anggur dan saluran media sosial yang dihadapi konsumen, dan akan terus bekerja sama dengan perwakilan perdagangan di pasar dalam membangun merek dan kampanye pemasaran," ujar perusahaan itu dilansir CNBC International, Selasa, (21/6/2022).

Wine Australia sendiri hadir di China sebagai lembaga milik pemerintah Canberra untuk mendorong potensi ekspor produk olahan anggur itu. Namun, perdagangan di China mengalami pukulan pada tahun 2020.

Kala itu, Beijing meluncurkan penyelidikan atas tuduhan bahwa Australia membuang anggur murah di China. Beijing kemudian memberlakukan bea masuk anti-dumping antara 116,2% dan 218,4% yang membuat wine Australia tidak kompetitif.

Selain wine, China juga menerapkan tarif pada selai, batu bara, dan lobster dari Negeri Kangguru. Hal ini pun sontak mengurangi perdagangan antara kedua negara.

Nilai yang biasanya mencapai 1,2 miliar dolar Australia per tahun (Rp 12 triliun) telah berkurang menjadi 200 ribu dolar Australia saja pada akhir Maret lalu. Australia pun melawan dengan menyebut bahwa pihaknya selalu memproduksi barang-barang berkualitas bahkan menuntut ke meja arbitrase di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

China sendiri tegang dengan Australia sejak negeri itu menyerukan penyelidikan independen tentang asal-usul virus corona, tanpa berkonsultasi secara diplomatik dengan Beijing. Sejak itu, China juga membatasi ekspor sapi Australia.

(sumber: CNBCIndonesia.com)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini