Kisah Cinta ‘Terlarang’ Capres Prancis Emmanuel Macron

Redaksi Redaksi
Kisah Cinta ‘Terlarang’ Capres Prancis Emmanuel Macron
AP Photo/Kamil Zihnioglu
Kandidat presiden Prancis Emmanuel Macron menyapa pendukungnya saat meninggalkan restoran usai kemenangannya di pemilu presiden putaran pertama di Paris, Senin, 24 April 2017.

PARIS - Datangnya cinta terkadang tidak dibatasi usia. Perjalanan asmara Emmanuel Macron, calon presiden (capres) Prancis dalam pemilu 2017, agaknya membuktikan hal itu.

Seperti dilansir Daily Mail, Ahad (23/4), politikus dari kubu moderat itu masih berusia 39 tahun, sedangkan istrinya, Brigitte Trogneux, sudah 64 tahun.

Tidak hanya soal usia, awal keduanya saling jatuh cinta juga terbilang unik. Saat itu, Macron hanyalah remaja polos usia 15 tahun yang terpesona akan Brigitte. Perempuan ini berprofesi sebagai guru sastra Prancis dan Latin di SMA Jesuit tempat Macron belajar. Di luar kelas, Brigitte juga membimbing kelompok teater yang diikuti Macron muda.

Dalam sebuah kesempatan usai pertunjukan teater, remaja SMA tersebut berlutut di hadapan Brigitte dan bahkan menciumnya di pipi. Orang-orang di sekitar mereka tampak gembira menyaksikan kejadian manis ini yang berlangsung pada Mei 1993.

Laman Daily Mail menampilkan gambar yang mengabadikan senyum keduanya. Macron remaja dengan rambut hitam belah-tengah mendekatkan wajahnya pada Brigitte yang merona namun berpaling dari sorotan kamera.

Jarak usia 24 tahun lebih delapan bulan tidak menghalangi keduanya untuk serius menapaki jenjang yang lebih serius. Macron dan Brigitte akhirnya menikah pada 2007.

Sebelum dengan Macron, Brigitte sudah pernah menikah dengan Andre Louis Auziere, seorang pengusaha bank, pada Juni 1974. Dengan Andre, perempuan kelahiran kota Amiens itu dianugerahi tiga orang anak. Brigitte bercerai dengan Andre satu tahun sebelum ia menikah dengan Macron.

Dalam ajang pemilihan presiden Prancis 2017, peran Brigitte amat penting bagi Macron dan partai En Marche! pada umumnya. Sejak awal, pasangan suami istri ini konsisten berkampanye mendulang suara.

Emmanuel Macron menggagas berdirinya En Marche pada April 2016 lalu. Ia bervisi, partai ini mengatasi polarisasi politik konvensional antara sayap kiri dan sayap kanan Prancis.

Hasil pilpres putaran pertama Sabtu (22/4) lalu menggembirakan pendukung Macron. Ia berhasil lolos ke tahap selanjutnya sehingga pada 7 Mei mendatang, akan bersaing dengan calon dari partai The National Front, Marine Le Pen. Perolehan suara Le Pen (21,53 persen) terpaut dekat dengan Macron (23,75 persen).

Bagi Prancis, inilah momen yang menentukan. Dalam hal hubungan dengan Uni Eropa, misalnya, kedua kandidat berpandangan saling berbeda. Le Pen ingin memunculkan referndum Frexit (keluarnya Prancis dari UE), sedangkan Macron ingin mempererat Prancis-UE.(rol)


Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini