Kondisi perairan Maluku yang disebar bersama pesan hoaks.(WhatsApp)Namun, ahli tsunami Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Dr. Abdul Muhari menyatakan informasi itu sebagai hoaks.
"Berita viral tersebut adalah hoaks di mana gambar batimetri yang diedit sedemikian rupa diberikan keterangan yang seakan-akan ilmiah, tetapi bertujuan untuk menyebarkan ketakutan kepada masyarakat," kata Abdul Muhari melalui rilis yang diterima Kompas.com, Sabtu (12/10/2019) pagi.
Pasalnya, gambar yang diberikan oleh si penyebar informasi bukanlah foto satelit 3D dan hanyalah gambar biasa yang bisa dengan mudah didapat di internet.
"Gambar tersebut bukanlah foto satelit 3D, karena satelit tidak bisa membuat foto dasar laut apalagi hingga kedalaman 7 km di bawah permukaan laut," kata dia.
"Gambar tersebut hanyalah data batimetri biasa yang kemudian diberi efek ketinggian dan kedalaman yang lebih signifikan, seakan-akan data ini baru padahal data ini lama dan biasa saja," lanjutnya.
Masyarakat diminta tidak panik
Jika pun nantinya gempa dan berpotensi menimbulkan patahan sebagaimana terjadi pada peristiwa Tanjung Elpaputih itu mungkin saja terjadi, tetapi tidak akan menenggelamkan pulau sebesar Ambon dan Seram.
"Jika gempa di kawasan Maluku berpotensi menimbulkan longsoran lokal seperti yang terjadi di Palu 2018 dan Semenanjung Elpaputih 1899 benar adanya, tetapi skalanya lokal. Belum ada dalam sejarah gempa dan tsunami di dunia, ada gempa yang menghilangkan satu pulau sebesar Ambon, apalagi sebesar Pulau Seram," sebut dia.
Abdul Muhari menjelaskan dalam riset yang dilakukan oleh Jonathan M Pownall, Gordon S. Lister dan Robert Hall tidak ada sama sekali yang menyebut akan ada potensi tsunami yang menyeret masuk 2 pulau itu.
Bahkan, disebutkan dalam penelitian itu bahwa segmen Palung Banda tidak terbukti sebagai seismik yang bersifat aktif.
Untuk itu, masyarakat diminta untuk tidak panik, dan lebih mempersiapkan diri untuk potensi bencana yang memang bisa kapan saja terjadi.
"Ini harus kita sikapi dengan bijak dengan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan persiapan rencana evakuasi mandiri yang baik," imbau Abdul Muhari.
(kompas.com)