Tauhid Isro Berhasil Sulap Rumah Jadi Objek Wisata

Redaksi Redaksi
Tauhid Isro Berhasil Sulap Rumah Jadi Objek Wisata
azw
Miniatur bernuansakan Melayu yang dibuat Tauhid Isro.
SELATPANJANG, riaueditor.com - Tauhid Isro (45) salah satu warga yang tertarik melestarikan budaya lokal. Salah satunya Isro warga Desa Sesap Kecamatan Tebingtinggi, Kepulauan Meranti ini berhasil menyulap rumahnya menjadi objek wisata.

Bermodalkan ilmu yang diperoleh dari Lampung, Isro membangun home stay (rumah) bernuansakan melayu dengan peralatan kayu yang banyak tersedia di daerah Kepulauan Meranti.

Dihadapan sekretaris Dispora Meranti, H Ismail Arsyad, Tauhid Isro bercerita panjang tentang hobi nya yang giat melestarikan budaya lokal. Ia mengaku mulai tertarik membangun bernuansakan budaya lokal sejak dirinya merantau ke Lampung tahun 1989 lalu. Setahun di Lampung dirinya terjun ke pengolahan barang-barang atau ukiran untuk dibangun. Bangunan itu pun selalu bernuansakan budaya lokal setempat.

" Tahun 2007 akhir saya kembali ke kampung halaman. Saya langsung menyisiri sudut daerah untuk melihat potensi kayu yang bisa diolah untuk pembangunan home stay atau bangunan bernuansakan budaya lokal. Saya juga menjumpai sesepuh suku akit untuk bertanya bentuk dan arti bangunan," katanya.

Isro menyebutkan pembangunan home stay miliknya mulai di bangun tahun 2015 ini. Home stay nya terbuat dari beberapa kayu kecil yang diletakkan dengan posisi tetak di setiap dinding. Penggunaan papan-papan kecil sebagai variasi melengkapi dinding yang dibangun layaknya jendela, namun berukuran tinggi. Papan yang digunakan untuk membuat kamar di lekatkan dalam posisi tegak (mirip dengan rumah warga suku tionghoa dahulu_red).

" Di pembangunan saya juga memanfaatkan kayu bagian pangkal untuk digunakan sebagai penyangga agar tegaknya meja. Sementara meja dibuat menggunakan papan yang melambangkan pulau-pulau yang ada di Meranti. Tangga naik dan tongkat rumah menggunakan batu. Tangga naik dibikin tiga sisi, dimana sisi kiri untuk tangga biasa, sisi tengah akan dilengkapi dengan aliran air, serta tangga sisi kiri akan dilengkapi dengan batu-batu kecil untuk refleksi. Lumayan kalau untuk refleksi," tutur Isro.

Isro menjelaskan pembangunan home stay ala Melayu itu dilakukan guna mempersiapkan Desa Sesap menjadi desa wisata. "Saya akan membangun balai adat suku akit, mangroove untuk wisata edukasi, serta beberapa tempat lain yang jelas dengan nuansa muatan lokal," jelasnya.

Isro mengaku sempat mengusulkan agar pembangunan kantor desa sesuai dengan muatan lokal setempat agar tidak menghilangkan budaya serta terasa lebih khas. Jadi, setiap desa di Meranti mempunyai jati diri yang kuat. Namun, usulan itu sempat ditolak karena pihak desa mengatakan bahwa pembangunan kantor itu sudah diatur.

" Kalau bangunan seperti bangunan Eropa buat apa. Kita harus mengangkat budaya lokal. Dengan bangunan itu, setidaknya akan memperkuat jati diri kita. Kalau sekarang kok kita seperti hilang jati diri," tuturnya.

Keberadaan Isro di Desa Sesap sangat membantu Pemkab Meranti. Terutama beberapa SKPD yang ada di Kota Sagu itu. Isro sering dilibatkan untuk mendekorasi stand-stand yang akan dipertandingkan.

Menyikapi cerita Isro, Sekretaris Disparpora Kepulauan Meranti, H Ismail Arsyad mengaku Irso kerap kali membantu beberapa SKPD di Meranti untuk mendekorasi atau mendesign bentuk stand sesuai dengan tema ataupun tupoksi SKPD itu sendiri.

" Tak jarang pula stand tersebut mendapat juara. Kita sering dibantu mendekorasi stand setiap kali ada iven," kata H Ismail.

Selain membantu home stay bernuansa melayu itu, Isro juga membangun miniatur beberapa balai adat suku akit. Seperti balai seksa, balai semuleh, dan balai tekena. (azw)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini