Ini Cara Pengembangan Bawang Merah Dalam Program RTMPE Berikut Keuntungannya

Redaksi Redaksi
Ini Cara Pengembangan Bawang Merah Dalam Program RTMPE Berikut Keuntungannya
Bupati Kampar Jefry Noer (tengah) bersama legislator DPRD Kampar, Ardo (kiri) dan Kabag Humas Pemda Kampar Sabaruddin sedang panen bawang merah di kawasan lahan percontohan Program RTMPE beberapa waktu lalu.
Kampar - Bawang merah (allium cepa varascolonium) merupakan tanaman semusim yang berdiri tegak dan perdu. Berfungsi sebagai sayuran dan rempah penting.

Sedikit kisah bawang merah di Kabupaten Kampar. Awalnya tanaman tersebut dianggap mustahil bisa tumbuh subur di kawasan lahan berbagai daerah Kabupaten Kampar yang dominan merupakan rawa gambut. Namun Bupati Jefry Noer menepis sangkaan tersebut dengan berinisiatif mendatangakan ahli pertanian sehingga kini bawang merah dapat tumbuh subur di atas lahan rawa gambut yang telah dinetralkan dan disuburkan melalui metode sederhana.

Saat ini, Kampar bahkan bertekad menjadi sentra bawang merah untuk Riau bahkan Sumatera yang selama ini ketergantungan bawang merah impor. Sejumlah daerah kecamatan di Kampar saat ini juga terus mengembangkan kawasan pertanian bawang merah guna mendukung terwujudnya sentra pemenuhan kebutuhan Sumatera.

Untuk mengarah pada tujuan itu, Pemda Kampar kemudian menyinergikan tanaman bawang ke dalam Program RTMPE.

Analisis Usaha
Spesifikasi :
•    Luas lahan 200 meter persegi
•    Populasi 224 tanaman
•    Periode usaha 2 bulan
•    Asumsi produksi 0,11 kilogram (kg)/tanaman
•    Potensi kerusakan tanaman 5 persen

Pengeluaran :
Modal bahan (bibit, pupuk, mulsa dll)
•    Benih bawang (1 bks)            : Rp840.000
•    Pupuk kandang (90 kg)        : Rp135.000
•    Pupuk organis (90 kg)        : Rp135.000
•    NPK (10 kg)            : Rp105.600
•    ZA (8 kg)                : Rp68.000
•    KCI (1,2 kg)            : Rp9.000
•    TSP (2 kg)                : Rp15.000
•    Dolomit (20 kg)            : Rp40.000
•    Furadan (0.3 kg)            : Rp10.500
•    Pegasus (0,04 liter)            : Rp36.000
•    Decis (0,02 liter)            : Rp2.640
•    Urea (3,6 kg)                    : Rp25.200
•    Bion M (0.1 kg)            : Rp32.500
•    Mulsa Plastik (0,24 roll)        : Rp180.000
•    Bio Nutrisi (0,2 liter)            : Rp40.000
•    Herbisida Pratumbuh (0,02 kg)        : Rp7.000
•    Herbisida Round up (0,1 liter)        : Rp9.000
Total pengeluaran untuk bibit, pupuk dan obat    : Rp1.690.440

Upah Pekerja
Jika tiap rumah tangga ingin mengupahkan pengelolaan lahan, maka harus mengeluarkan biaya sekitar Rp800.000. Kemudian pembuatan pedengan, pengapuran tanah/lahan, pemberian pupuk kandang, pemasangan mulsa, penanaman dan pemupukan serta penyemprotan insektisida serta atenaga panen (1 HOK) yakni sekitar Rp416.000.

Total modal : 1.690.440 + 800.000 + 416.000 = Rp2.906.440
Catatan : jika seluruh kegiatan dilakukan sendiri, maka pengeluaran hanya sekitar Rp1.690.440.

Pendapatan
Total produksi        : 120 kg x 2 = 240 kg
Tingkat kerusakan        : 5 %
Harga jual        : Rp20.000/kg
Total pendapatan        : 240 kg x 95 % x Rp20.000/kg = Rp4.560.000
Keuntungan bersih        : 4.560.000 - 2.906.440 = Rp1.653.560

Namun jika pekerjaan dilakukan sendiri, total keuntungan bersih yakni : 4.560.000 - 1.690.440 = Rp2.919.760 (fzr)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini