Akibat Karhutla, Aktivitas Ekonomi di Meranti Merosot

Redaksi Redaksi
Akibat Karhutla, Aktivitas Ekonomi di Meranti Merosot
SELATPANJANG, riaueditor.com– Akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perkebunan di pedesaan Meranti berimbas terhadap aktivitas perputaran uang di Pasar Kota Selatpanjang.

Pantauan wartawan di pasar Sandang Pangan Selatpanjang, sejumlah pedagang di pasar tradisional yang biasanya ramai dipadati pembeli untuk persiapan lebaran, masih terlihat lengang.

Yuni (29), pelayan toko pakaian di Pasar Sandang Pangan mengatakan Ramadhan tahun ini sepi pembeli. Kalau tahun lalu, awal Ramadhan sudah di padati pembeli untuk membeli pakian persiapan menyambut Idul Fitri. Namun, sampai hari ke-3 Ramadhan, Susana Pasar Sandang Pangan masih sepi pembeli.

"Untuk hari ini, baru ada satu transaksi jual beli. Semalam ada tiga, entah besok ada atau tidak belum tahulah. Yang jelas, untuk tahun ini, suasana memang jauh berbeda, sepi. Sepertinya, transaksi jual beli untuk persiapan Idul Fitri juga menurun.

Barangkali karana dampak kebakaran kebun kemaren. Soalnya, mayoritas warga yang berbelanja pakian di pasar ini masyarakat dari berbagai pelosok pedesaan, baik dari Pulau Rangsang, Merbau maupun dari berbagai desa di Pulau Merbau dan Tebing Tinggi," ungkap Yuni.

Dampak mitigasi karhutla di Meranti tidak hanya dirasakan para pedagang pasar Sandang Pangan. Sejumlah pemilik toko harian di kota Selatpanjang juga mengatakan hal yang sama. Aguan (45), pemilik toko yang menjadi tempat langganan sejumlah barang harian dari beberapa desa di Rangsang Barat, juga mengaku sepi order barang. Kalau dulunya setiap hari selalu ramai, dalam dua bulan terakhir ini aktivitas order barang di tokonya mulai menurun.

"Sudah dua bulan terahir, aktivitas pesanan kebutuhan harian di sejumlah desa turun. Kalau kita rata-ratakan, dalam satu hari terjadi penurunan omset 2-3 juta rupiahlah. Kalau penyebabnya, kita juga tidak tahu secara persis. Namun, tidak tertutup kemungkinan karena banyaknya kebun sagu, kelapa dan karet yang rusak terbakar," ujarnya.

Merosotnya aktifitas ekonomi tidak hanya di rasakan para pedagang di kota Selatpanjang. Sejumlah ibu-ibu penjual aneka tajil berbuka puasa di pasar Ramadhan Teluk Belitung juga merasakan hal yang sama.

Pedagang beramai-ramai mengeluh tentang sepinya pembeli ketika Bupati Meranti Irwan, meninjau pasar Ramdhan Teluk Belitung. Mereka menduga, bahwa lesunya daya beli masyarakat pasca kebakaran hutan dan lahan kemaren.(B2)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini