`Ayat-Ayat yang Disembelih` Ungkap Kekejaman PKI

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Teguh Firmansyah
Redaksi Redaksi
`Ayat-Ayat yang Disembelih` Ungkap Kekejaman PKI
Massa PKI ditangkap di Madiun 1948.
YOGYAKARTA - Informasi yang menganggap Partai Komunis Indonesia (PKI) tak bermasalah mulai dimasukkan pelan-pelan dalam kurikulum sejarah saat ini. Tak hanya itu, mereka seakan dianggap korban dari negara/tentara yang terjadi pada 1965, meski pada faktanya tidak sedikit warga yang menjadi korban kekejaman PKI.

Kegelisahan ini terungkap dalam diskusi "Bela Negara dan Pancasila dalam Perspektif Sejarah (Menelaah Kritis Kritis Buku Sejarah 'Ayat-ayat yang Disembelih' Karya Thowaf Zuharon dan Anab Afifi)" yang diselenggarakan Benteng Budaya di Gedung Dewan Perwakilan Daerah DIY, Kamis (11/8).

Menurut dosen Fakultas Filsafat UGM Sindung Cahyadi, sebetulnya peristiwa pembantaian pada 1965 terhadap mereka yang dianggap PKI (Partai Komunis Indonesia) merupakan "sekam yang kering". Menurut dia, menyalahkan pemerintah/TNI atas peristiwa1965 adalah langkah yang tidak pada tempatnya. Sebab, ada hubungan kausal dan itu harus dilihat secara komprehensif.

"Sejak kecil hingga dewasa saya tinggal di wilayah sumber konflik PKI di tahun 1948 maupun 1965. Di wilayah saya terjadi kekerasan yang dilakukan oleh PKI sejak 1948 hingga 1965," tuturnya. Waktu itu, kata dia, yang berseteru secara ideologis dan saling membunuh itu bukan siapa-siapa, melainkan saudara sendiri.

Baca Juga: Indonesia Diputuskan Bersalah dalam Pembantaian 1965

Hal itu juga disampaikan penulis buku Ayat-ayat yang Disembelih Thowaf Zuharon. Banyak masyarakat yang menjadi korban kekejaman PKI pada kurun waktu 1926-1968. Hal itu terjadi dari ujung Pulau Sumatra hingga Pulau Bali. Bahkan, korbannya mulia dari kiai, santri, gubernur, bupati, wedana, camat, kepala desa, adik RA Kartini, hingga rakyat kecil.

Bahkan, korban PKI di tepi Sungai Bengawan Solo bukan dari kalangan Islam, melainkan umat Kristen, Hindu, dan Buddha.  Seorang pemimpin PKI yang bernama Kutil melakukan penyembelihan besar-besaran di Brebes, Pekalongan, dan lain-lain.

Thowaf dan Anab Afifi dalam bukunya setebal 259 halaman menuliskan kisah nyata dari 30 saksi hidup yang terdiri atas korban, kerabat, dan keluarga korban keganasan PKI di Jakarta, Solo, Ngawi, Madiun, Magetan, Ponorogo, Kediri, Blitar, dan Surabaya. Diharapkan buku Ayat-ayat yang disembelih bisa menjadi referensi sejarah yang sebenarnya.

Sekarang antara keluarga pelaku dan keluarga korban sudah terjadi rekonsiliasi sosiokultural yang terbangun secara alamiah. Mereka sudah ada yang bisa hidup berdampingan. Namun, ada juga yang masih ada yang bermusuhan.

Ketua Benteng Budaya Sigit mengatakan, Ayat-ayat yang Disembelih ini akan diangkat dalam pentas drama dan ini merupakan kelanjutan dari serial Diskusi Bela Negara dan Pancasila dengan mengangkat “Kutil” sebagai julukan bagi Pemuda Partai Komunis Indonesia yang melakukan pembunuhan di mana-mana. Rencananya, pentas drama yang berdurasi sekitar 1,5 jam akan dipentaskan pada bulan Oktober.(ROL)

Tag:
Berita Terkait
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers riaueditor.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online riaueditor.com Hubungi kami: riaueditor@gmail.com
Komentar
Berita Terkini