Home  / 
Kontraktor PON Puyeng Hadapi Permintaan Lukman dan Anggota Dewan
Kamis, 17 Januari 2013
[caption id="attachment_4458" align="alignleft" width="340"] Dua Saksi Dihadirkan Penuntut Umum KPK, Wagiman dari PT PP dan Anil Direktur PT Orindo Jakarta./RE[/caption]

PEKANBARU(riaueditor)- Dua saksi yang dihadirkan Penuntut Umum KPK, Riyono SH,MH, pada persidangan kasus suap Pon Riau atas terdakwa mantan Kadispora Riau, Lukman Abbas, semakin terkuak tentang prilaku terdakwa saat masih menjabat Kadispora.

Kedua saksi ini, Wagiman (PT PP) dan Anil Kabil Sing (PT Orindo Jakarta) mengaku puyeng dan kerepotan melayani permintaan sejumlah dana untuk terdakwa ini dan anggota DPRD Riau.

Hal ini dijelaskan Wagiman saat memberikan kesaksiannya, pada tanggal 30 Maret 2012, ia mendapat telpon dari Nugroho Agung selaku atasan untuk pinjaman dana sebanyak Rp 900 juta. 'Setelah itu, saya diminta pak Nugroho Agung untuk menghubungi pak Rahmat tentang uang pinjaman. Saat itulah saya secara spontan menyebutkan dagang sapi,' ujarnya.

Kemudian, kata Wagiman ia menelpon Rahmat untuk menanyakan tentang pinjaman uang tersebut. Saat itulah saya mengetahui uang itu untuk diserahkan ke DPRD Riau melalui Dispora Riau. 'Kata Rahmat untuk diserahkan ke DPRD Riau, melalui Dispora. Diserahkan tanggal 2 April. Saat itu menyebutkan sebanyak Rp455 juta bagian PT PP untuk DPRD Riau,' katanya.

Selanjutnya, majelis hakim menanyakan tentang pembagian pemberian uang tersebut kepada DPRD Riau dalam merevisi Perda sebagai penambahan anggaran PON Riau. 'Dari PT PP Rp455 juta, sisanya dari PT Adhi Karya, PT Wijaya Karya, hingga sebanyak Rp900 juta. Bagian Adhi dan Wika, besaran Adhi. Dan lebih besar lagi bagian PT PP,' ujarnya.

Setelah itu, kata Wagiman lagi pada tanggal 3 April 2012, Nugroho memintanya untuk membatalkan pemberian uang ke anggota DPRD Riau tersebut. 'Waktu itu ada rapat review. Lalu Pak Nugroho minta membatalkan itu semua. Ketika itu melihat Rahmat membawa uang dalam kantong kresek hitam,' katanya.

Adanya permintaan atasannya untuk membatalkan pemberian itu, kata Wagiman langsung dia sampaikan ke Rahmat. 'Dijawab Rahmat iya. Ya Pak, katanya mungkin setelah ini mau pulang ke Medan,' jelasnya.

Namun, tidak tahunya Rahmat akhirnya memberikan uang tersebut kepada anggota DPRD Riau, hingga tertangkap oleh KPK . 'Waktu nanya ke Rahmat yang ditahan KPK di Jakarta, beliau menjawab jika ia mendapat tekanan dari Eka (Dispora Riau) dan Satria Hendri (Atasan KSO dari Adhi Karya),' ujarnya.

Selanjutnya, majelis hakim menanyakan tujuan penyerarahan uang tersebut. Sedangkan Wagiman menyebutkan, karena pemerintah belum membayar utang KSO sebanyak Rp147 miliar. 'Untuk membayar itu maka harus ada revisi perda,' ungkapnya.

Setelah Wagiman diperiksa, majelis hakim langsung melanjutkan persidangan dengan pemeriksaan saksi Anil Salbir Singh selaku Direktur PT Orindo Prima, Jakarta, perusahaan yang bergerak dibidang pengadaan alat olahraga PON Riau.

Dalam keterangannya, Anil mengakui pernah bertemu dengan terdakwa Lukman Abbas beberapa kali di Senayan, Jakarta pada April 2012 lalu. Saat itu, mereka ada membicarakan tentang pekerjaan. "Saat itu, saya pernah dimintai bantuan satu kali saja. Bantuan itu berupa dana Rp 100 juta,' terang Anil pada Majelis Hakim.

Uang Rp 100 juta itu, jelas Anil, diserahkannya kepada terdakwa Lukman Abbas saat di Senayan City, Jakarta, di awal tahun 2012 lalu. 'Terdakwa hanya mengucapkan terima kasih dan langsung pergi setelah menerima uang. Saya memberikan dana ini hanya untuk menjaga hubungan baik dengan terdakwa Lukman Abbas,' ujarnya.

Sementara itu, diujung persidangan Terdakwa Lukman Abbas membatah tentang pemberian uang untuk dirinya sebesar Rp100 juta tersebut dari saksi Anil. 'Mengenai pertemuan di Senayan city, tidak pernah, tapi pernah bertemu di Senayan, Jakarta, dan itu pun pembicaraannya tentang peralatan renang yang akan dipakai pada PON. Tentang mengasih uang 100 juta tidak ada sama sekali,' ungkap terdakwa..

Usai mendengarkan keterangan kedua saksi ini, Majelis Hakim menutup persidangan dan dilanjutkan pada pekan depan.(dm)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter