Home  / 
Wan Syamsir: Lukman Curhat, Tak Kuat Hadapi Permintaan Dewan yang Aneh-Aneh
Rabu, 16 Januari 2013
PEKANBARU(riaueditor)- Persidangan kasus suap PON Riau yang sempat di skor Majelis Hakim, kembali dilanjutkan. Kali ini, Sekda Provinsi Riau, Wan Syamsir Yus  yang sudah dijadwalkan sebelumnya, dihadirkan sebagai saksi oleh Penuntut Umum KPK pada pukul 15.00 kehadapan Ketua Majelis Hakim Isnurul SH,MH, terhadap terdakwa mantan Kadispora Riau, Lukman Abbas.

Wan Syamsir Yus, saat bersaksi menjelaskan bahwa kekurangan dana memang sengaja tidak dianggarkan sehingga memicu timbulnya revisi Perda. Harusnya sewaktu kontrak ditandatangani sudah seharusnya dibayarkan. Sekda mengakui secara teknis masalah itu diurus oleh Kepala Bappeda Riau Ramli Walid, dirinya hanya men CC aja.

"ini sistematis, sengaja dikurangi, yang dikorbankan adalah pihak ketiga, memang di Banleg tidak dianggarkan," jelas Saksi pada Majelis Hakim.

Saat Majelis Hakim Isnurul menanyakan soal kasus yang dialami terdakwa Lukman Abas, diakui Sekda ia menerima laporan dari Kadispora bahwa revisi Perda sedang berproses dan dibahas di DPRD Riau.

"Perda 05/2008 ini, anggaran dananya sudah ada, tapi kita tidak bisa bayarkan, Karena Perdanya harus direvisi, karena Perda 05 tersebut sudah habis tahunnya," jelas Wan Syamsir Yus.

Mengenai permintaan sejumlah upah lelah oleh anggota DPRD Riau, untuk menggesahkan revisi penambahan Perda 05 dan 06 tentang anggaran dana venue Main Stadium dan lapangan tembak ini, Wan Syamsir Yus tidak mengetahuinya.

Ditanyakan Majelis Hakim mengenai, terkumpulnya uang Rp 900 juta yang diminta anggota DPRD Riau untuk upah lelah, Sekda Wan Syamsir Yus baru menetahuinya dari media masa.

"Kadispora, Lukman Abbas, pernah berbincang menyebutkan angka dulunya Rp 4 milyar, sekarang disepakati Rp 1.8 milyar. Tapi saat itu saya tidak begitu fokus, apa maksud dari angka-angka itu," ungkap saksi Wan Syamsir.

Saya, saat itu menyarankan ke Lukman Abbas, agar dilaporkan langsung dengan Gubernur. "Saya juga sempat berkomunikasi dengan Gubernur soal angka Rp 4 milyar dan Rp 1,8 milyar, namun Gubri Riau dengan tegas meminta agar jangan ditanggapi permintaan itu," terangnya.

"Terdakwa juga pernah bercurhat kepada saya dan mengatakan bahwa beliau sudah tak tahan lagi dan ingin mengundurkan diri dari Kadispora, karena tak kuat menghadapi permintaan Dewan yang aneh-aneh," ungkap saksi Wan Syamsir Yus.

Dijelaskan Wan Syamsir Yus, sewaktu menelepon, mengenai hasil rapat dengan Gubernur dan DPRD Riau, terdakawa Lukman Abbas juga kembali bercurhat kepadanya mengenai rencana pengunduran dirinya yang sudah tak kuat menghadapi permintaan anggota DPRD Riau.

Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Majelis Hakim, dan akhirnya Majelis Hakim menunda persidangan dan dilanjutkan besok, Kamis (17/01) dengan agenda masih mendengarkan saksi-saksi.(dm)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter