Home  / 
SF Harianto Mengaku Tak Tahu Hasil Pertemuan dengan Komisi X DPR RI
Rabu, 16 Januari 2013
[caption id="attachment_4394" align="alignleft" width="150"] Kadi PU Riau SF Harianto berikan kesaksian terhadap terdakwa Lukman Abbas./RE[/caption]

PEKANBARU(riaueditor)- Kepala Dinas Pekerjaan Umum (Kadis PU) Riau, SF Harianto yang pada Kamis lalu sempat tertunda, kembali hadir sebagai saksi terhadap Lukman Abbas, terdakwa kasus suap PON Riau.

Sidang lanjutan kasus suap PON Riau, dengan terdakwa Mantan Kadispora Riau, Lukman Abbas, digelar di persidangan Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Rabu (16/01) pukul 10.00 Wib dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum KPK, Riyono SH,MH kehadapan Majelis Hakim Isnurul SH,MH, yakni, Sekda Riau Wan Syamsir Yus, Sekwan DPRD Riau Zul Kadir, Kadis PU SF Harianto, Nugroho Agung Sayoto dan Wagiman dari KSO.

Kadis PU, SF Harianto yang pertama dihadirkan Penuntut Umum KPK dalam kesaksiannya menjelaskan bahwa ia tidak pernah mendengar adanya pemberian anggaran untuk upah lelah bagi anggota DPRD Riau, saya mengetahui pemberitaan ini dari media.

Dinas PU Riau, dalam pelaksaan PON Riau membangun Jalan layang fly over, jembatan Siak III, Jalan Bandara dan sarana yang ada disekitar venue. Semua pembangunan ini tidak ada sangkut paut dengan Perda 05 dan 06, murni anggaran dari SKPD Dinas PU sendiri.

"Untuk fly over kita anggarkan Rp 70 milyar, yang mengerjakan PT Istaka Karya dan PT Adhi Karya. Sedangkan Jembatan Siak IV yang kerjakan KSO dan Bandara yang mengerjakan dari PT Duta Fraha, yang Mulia," ujar SF Harianto

Mengenai revisi terhadap Perda 05 dan 06, saat verifikasi di Mendagri, saya pernah berdiskusi dengan terdakwa Lukman Abbas, terdakwa Eka dan Zulkifli Rahman.

"Saya menyarankan agar diaudit dulu dengan BPK, karena anggarannya sudah melebihi. Saat itu saya ikut verifikasi APBD di Mendagri," ujarnya.

Saat Majelis Hakim Isnurul menanyakan kapan saksi kenal dengan anggota DPR RI Setya Novanto, saksi FX Harianto menjelaskan bahwa awal ia mengenal Setya Novanto anggota DPR RI dari Komisi Xl Desember 2011 awal tahun 2012 silam, saat itu, ia bersama terdakwa Lukman Abbas dan Ruslaini Rahman mantan Kadishub Riau, disuruh membawa usulan penambahan yang Rp 460 milyar, terdakwa usul 290 milyar.

"Waktu itu Gubri duduk bersama dengan Setya Novanto dikursi tamu, sedangkan saya duduk di kursi tunggu tamu dengan terdakwa, jadi saya tidak tau dan tidak mendengar apa yang dibicarakan waktu itu," ucapnya.

Kita, kata saksi, disitu sekitar 30 menit, karena waktu itu ramai. Diruang itu ramai, ada Kahar Muzakir dan Ketua DPD I Golkar Bali, saat itu mereka duduk diruang rapat yang ada diruang kerja Setya Novanto

Ada nggak pesan yang disampaikan Setya Novanto pada waktu pertemuan itu, "Apakah saudara ingat," tanya Majelis Hakim Isnurul, "tidak ingat yang Mulia," jawab saksi SF Harianto.

Pertemuan waktu itu diruang Fraksi Partai Golkar, ruang rapat yang ada diruang kerja Setya Novanto, saya dibawa Gubernur, saya bertiga, saya, terdakwa dan Ruslaini Rahman , disitu ada 3 ruangan, ruangan kerja, ruang tamu dan ruang rapat.

"Waktu itu Setya Novanto berbicara dengan Gubri berdua saja, dan samar-samar terdengar mereka bicara masalah Partai Golkar," jelas SF Harianto.

Apa yang diucapkan terdakwa dan Setya Novanto saya tak ingat yang mulia, "jadi kapan saudara bisa ingat keterangan terdakwa ini tanya Hakim Krosbin, kan saksi duduk disebelahnya."

"Saya lupa apa isi pembicaraan antara Setya Novanto dengan Kahar Muzakir itu yang yang Mulia," ucapnya.

Saksi SF Harianto mengaku banyak lupa, lalu Hakim Krosbin Lumban Gaol mengatakan, "Kalau lupa terus, kita akan menskor sidang ini, kita mau keterangan saksi, karena terdakwa dan saksi hadir dipertemuan di Senayan itu, terang Krosbin.

SF Harianto pun mengatakan saya takut salah, lalu Majelis Hakim Isnurul mengatakan, urusan takut salah itu urusan nanti disini orang baik-baik semuanya.

Mengenai uang suap sekitar 1 juta US Dollar itu, saya baca dikoran, dan uang itu dikumpul dari rekanan Dispora, uang itu katanya untuk mengurus tambahan Rp 290 milyar sudah dikasih, berhasil atau tidak, saya tak mengetahuinya. "Juga uang Rp 500 Juta dan Rp 700 juta dari KSO saya juga tidak mengetahuinya," yang Mulia.

Saat Majelis Hakim menanyakan kepada terdakwa Lukman Abbas, mana yang benar dan mana yang salah dari keterangan saksi, terdakwa hanya mengingatkan saksi, "kalau memang lupa ini beritanya", ujar terdakwa Lukman Abbas. Lalu Majelis Hakim menskor Persidangan, dan akan dilanjutkan siang nanti sekitar jam 02.30 Wib, agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi lainnya (dm)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter