Home  / Sport
ANALISIS
Pleidoi Tottenham vs Liverpool di Final Liga Champions
Sabtu, 1 Juni 2019 | 12:18:50
(CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
Trofi Liga Champions merupaka pleidoi bagi Tottenham dan Liverpool.
JAKARTA - Dalam konferensi pers jelang laga terakhir Liga Inggris melawan Wolverhampton Wanderers, manajer Liverpool Juergen Klopp menyatakan jika tidak mudah bagi The Reds untuk menjadi juara baik di kompetisi domestik atau Eropa.

Liverpool sendiri sempat menjadi kandidat juara Liga Inggris, meski akhirnya kandas di tangan Manchester City. Kini The Reds menatap final Liga Champions 2019 dengan melawan Tottenham Hotspur di Stadio Wanda Metropolitano, Madrid, Sabtu (1/6) malam waktu setempat.

Klopp sedang tidak merendah saat mengeluarkan pernyataan tersebut. Liverpool sesungguhnya sudah akrab dengan kegagalan di ujung kompetisi. Sejak dibesut Klopp, Jordan Henderson dan kawan-kawan sudah merasakan kegagalan di tiga partai final: Piala Liga (2016), Liga Europa (2016), serta Liga Champions (2018). Itu semua belum ditambah kegagalan menjadi kampiun Liga Inggris musim ini.

Sang calon lawan, Tottenham Hotspur, juga tidak lebih baik kondisinya. Dalam beberapa musim terakhir, Tottenham memang berhasil menjadi pengganggu kedigdayaan tim-tim papan atas Liga Inggris. Termasuk di musim 'anomali' 2015/2016 ketika mereka berhasil duduk di peringkat dua di bawah Leicester City.

Namun, hanya sampai di situ pencapaian The Lilywhites. Trofi terakhir mereka adalah saat menjuarai Piala Liga di musim 2007/2008. Setelah itu mereka terus menerus menjadi tim kuda hitam. Sesekali berhasil mengalahkan para raksasa macam Manchester United di level domestik atau Juventus di kancah Eropa, tapi mereka tak pernah benar-benar mengangkat piala.

Final Usai Dua Laga Dramatis

Tottenham dan Liverpool berhasil meningkatkan gairah di Liga Champions musim ini setelah apa yang mereka lakukan terhadap lawan-lawan mereka di babak semifinal. Seperti diketahui, kedua tim berhasil menciptakan comeback yang sangat mengesankan dalam sejarah Liga Champions.

Tottenham harus bertemu rombongan anak muda penuh semangat berbalut kostum Ajax Amsterdam. Di leg pertama saat bertindak sebagai tuan rumah, Hugo Lloris dan kawan-kawan takluk 0-1. Di leg kedua, hingga babak pertama selesai, kondisi justru menjadi lebih buruk. Ajax unggul 2-0 dan sudah semakin dekat menuju final di Madrid.

Namun, aksi Lucas Moura berhasil membalikkan keadaan. Mengandalkan serangan cepat, skuat asuhan Mauricio Pochettino mampu mencetak tiga gol dan lantas unggul agresivitas gol tandang hingga peluit akhir ditiupkan.

Setali tiga uang Liverpool juga lolos dari semifinal dengan cara yang dramatis. Menjamu Barcelona di Anfield, Liverpool sudah harus menanggung beban defisit tiga gol hasil lawatan mereka ke Camp Nou pada leg pertama. Banyak pihak benar-benar menjagokan El Barca untuk lolos.

Tapi, kombinasi antara tumpulnya Lionel Messi serta kejelian pemain Liverpool dalam memanfaatkan peluang membuat The Reds menjadi pihak yang tertawa di akhir laga. Skor 4-0 berhasil diamankan tuan rumah dan lolos ke final dengan keunggulan agregat 4-3.

Penganut Filosofi Menyerang

Menerapkan mazhab sepak bola menyerang menjadi kunci Tottenham dan Liverpool bisa keluar dari lubang jarum di babak semifinal. Spurs tampil lebih trengginas meski sempat tertinggal dua gol di leg kedua semifinal. Total di laga tersebut Tottenham melepaskan 24 tembakan dengan penguasaan bola mencapai 60 persen. 

Sementara bagi Liverpool, meski secara penguasaan bola mereka tak lebih baik di leg kedua, namun mereka mampu tampil lebih efektif. Melalui kaki Divock Origi, Si Merah berhasil membuka keunggulan meski laga belum berumur sepuluh menit. Gol keempat mereka yang lagi-lagi dicetak oleh Origi juga berawal dari efektivitas dan kejelian serangan anak asuh Juergen Klopp.

Statistik whoscored menunjukkan, Tottenham dan Liverpool berada di posisi lima besar untuk jumlah gol terbanyak di Liga Champions musim ini. Jumlah gol terbanyak keduanya berasal dari situasi open play. 

Dalam hal jumlah tembakan pun keduanya berada di peringkat empat besar. Mayoritas, peluang yang mereka ciptakan berasal dari tendangan di dalam kotak penalti. 

Sisi Sayap Motor Serangan

Satu kesamaan yang jelas terlihat antara Tottenham dan Liverpool adalah kedua tim sama-sama mengandalkan sisi sayap untuk menerapkan sepak bola menyerang. Sebanyak total 73 persen serangan Tottenham berasal dari kedua sisi sayap mereka. Sementara sumber serangan Liverpool yang berasal dari sayap juga mencapai 74 persen.

Data di atas memang didukung dengan keberadaan pemain di masing-masing tim. Liverpool didukung oleh dua fullback yang rajin naik dan mengirimkan umpan ke jantung pertahanan lawan. Di Liga Inggris, Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson masing-masing menyumbangkan 12 dan 11 assist.

Tottenham vs Liverpool duel dua tim yang menang dramatis di Liga Champions.Tottenham vs Liverpool duel dua tim yang menang dramatis di Liga Champions. (REUTERS/Dylan Martinez)
Sementara nyawa serangan Tottenham berada di Christian Eriksen. Meski berposisi sebagai playmaker di belakang penyerang, Eriksen termasuk deretan pemain dengan jumlah umpan silang akurat terbanyak di Liga Champions musim ini. Fakta ini menunjukkan Eriksen apik saat harus bermain melebar. 

Jual beli serangan dari sisi sayap pun diprediksi bakal terjadi pada laga final nanti. Jika trisula Liverpool yang terdiri dari Sadio Mane, Roberto Firmino, dan Mohamed Salah benar-benar bermain, kecepatan serangan akan menjadi kunci.

Liverpool terkenal cakap saat menciptakan transisi dari pola bertahan menuju membangun serangan. Kengototan gelandang pekerja mereka seperti Fabinho atau Georginio Wijnaldum, yang dipadukan dengan kecepatan para pemain depan menjadi senjata utama The Anfield Gang.

Sementara untuk Tottenham, serangan mereka lebih bervariasi. Tidak seperti Liverpool yang bersifat lebih direct saat menyerang, Spurs ikut melibatkan kemampuan skill individu para pemainnya.

The Lilywhites memang diisi beberapa nama dengan kemampuan olah bola mumpuni. Selain Eriksen, lini tengah mereka juga punya Dele Alli serta Lucas Moura yang menjadi pahlawan di leg kedua semifinal melawan Ajax. Di lini depan pun masih ada nama Son Heung-Min, penyerang sayap Korea Selatan yang sudah membukukan empat gol di Liga Champions.

Mungkin ada yang berpendapat jika ini merupakan final antiklimaks. Sebuah partai yang mempertemukan dua tim dari negara yang sama, tim yang nyaris kalah di semifinal, namun justru lolos dengan cara yang dramatis.

Tapi seperti sebuah kutipan yang sudah mendunia: "pertahanan terbaik adalah menyerang", bisa jadi ini merupakan final yang sangat menghibur. Hal ini disebabkan Tottenham dan Liverpool menggemari permainan terbuka dan jauh dari bentuk sepak bola pragmatis.

Bagi Tottenham Hotspur dan Liverpool, laga di Stadion Wanda Metropolitano merupakan lebih dari sekadar laga pemungkas Liga Champions 2018/2019. Ini merupakan satu-satunya trofi yang tersisa bagi mereka di musim ini.

Kembali ke paragraf-paragraf awal, Tottenham dan Liverpool sudah sering tersandung dan sudah lama mereka tak melangkah ke podium juara. Final ini merupakan pleidoi atas kegagalan yang sudah dirasakan kedua klub selama ini.

(cnnindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Pengumuman Formasi CPNS 2019 Hanya Dibuka 15 Hari
Seleksi CPNS 2019 Segera Dibuka, Simak Rincian Jadwalnya di Sini
Ini Dia Penelitian yang Dapat Nobel karena Bahas SD Inpres!
Tanda-tanda Rekor Kemenangan Liverpool Putus di Markas MU
Siap-Siap, Penerimaan CPNS Dibuka 25 Oktober

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad