Home  / Senibudpar
Mengintip Kehidupan Tambua Minang di Bumi Melayu
Jumat, 31 Juli 2020 | 16:00:34
andi/rec
TAMBUA atau tambur, merupakan seni budaya khas Minang Kabau, Sumatera Barat. Sejak puluhan tahun lalu, tambua telah menjadi bagian prosesi acara berbau adat di Pekanbaru, khususnya masyarakat bersuku Minang.

Di Pekanbaru, tambua bukan lagi dianggap kesenian yang langka. Sedikitnya ada empat puluhan grup tambua di Kota Bertuah ini, mulai dari yang aktif hingga yang hanya sesekali saja terlihat kegiatannya.

Firdaus, salah seorang pemuka grup tambua  Mambang Kayo Rumbai di sela latihan grupnya di Kelurahan Meranti Pandak menceritakan, tambua saat ini di Pekanbaru bukan lagi menjadi kesenian yang terfokus untuk warga Minang di kota ini saja, namun juga menjadi hiburan bagi masyarakat suku lainnya. Diakui, kesenian asal Minang Kabau ini dapat diterima oleh berbagai suku dan kalangan.

"Bahkan 9 orang anak-anak muda pemain tambua kita juga berasal dari beraneka suku, baik Minang sendiri, Melayu, Batak dan Jawa. Sejak berdiri tahun 1997 lalu, kita tidak pernah membatasi diri dengan keberagaman suku bangsa di Pekanbaru. Bahkan kita juga siap jika tuan rumah ingin ada pagelaran seni lainnya, misal tari persembahan Melayu dan reog sekalipun," kata Firdaus.

23 tahun grup tambuanya berdiri, Firdaus melihat ketertarikan generasi muda akan kesenian ini cukup bagus. Hingga saat ini grupnya eksis dengan anggota yang umumnya berasal dari kalangan muda. Mereka tidak terlalu berharap pada honor. Demikian pula dengan sambutan masyarakat yang antusias dengan kehadiran tambua di setiap penampilan grupnya. Tambua selalu mendapat tempat di hati masyarakat Pekanbaru.

Untuk diketahui, para pemain tambua, bagi yang wanita semuanya menutup aurat dan mengenakan jilbab. Mungkin inilah yang menjadi alasan tambua diterima di bumi Melayu yang dikenal islami dan terus berkembang hingga saat ini.

Merebaknya pandemi Covid-19 turut mempengaruhi kegiatan grup tambua MK dan grup lainnya, terlebih lagi sejak ditetapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) beberapa waktu lalu. Jika biasanya ada orderan main setiap minggu, kini cukup jarang dikarenakan berkurangnya aktifitas di luar ruangan.

Kondisi ini tak serta merta mempengaruhi semangat para pemain tambua. Para pemain selalu aktif berlatih dua kali seminggu.

"Misi kami adalah mengangkat kesenian ini agar tak dilupakan oleh generasi berikutnya. Jika kami yang sudah tua ini tak lagi bisa menggendong alat musik tambua, agar ke depan ada penggantinya. Inilah salah satu warisan budaya asli Indonesia dari nenek moyang yang harus dilestarikan," ujar Firdaus.

Di Sumatera Barat sendiri, tambua dari masing-masing daerah berbeda bunyi pukulannya. Misal tambua dari Payakumbuh dan padang, berbeda dengan tambua Pariaman yang sedikit menghentak, seperti mengiringi kesenian tabuik asal Pariaman yang cukup terkenal.

selama ini, di Pekanbaru tambua biasanya lebih banyak digelar pada acara pernikahan. Tak ada ritual-ritual mistis sebelum para penabuh tambua beraksi, meski dalam beberapa penampilan ada yang disertai dengan atraksi menginjak kaca atau beling. (Andi)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Polsek Pangkalan Lesung Laksanakan Gat Pam Kampanye Dialogis Paslon Bupati Pelalawan
Dirgahayu ke-56, Satgas Pamtas Yonif 125/Simbisa Gelar Acara Syukuran Di Tapal Batas
Polsek Langgam Sosialisasi dan Patroli Dialogis Keamanan dan Covid-19
Kapolsek Kuala Kampar Hadiri Acara Sosialisasi Pengawasan Pemilukada
Heboh Pelecehan & Pemerkosaan di Kebun Sawit, Ada Sinar Mas?

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter