Home  / Profil
Perjalanan Hidup Gus Sholah, Kuliah di ITB hingga Jadi Pengasuh Ponpes Tebuireng
Senin, 3 Februari 2020 | 23:20:49
(Foto: Inst Ipang Wahid)
Gus Sholah
Kiai Salahuddin Wahid atau biasa disapa Gus Sholah, merupakan sosok ulama Nahdlatul Ulama (NU) karismatik. Ia dikenal sebagai salah seorang cendekiawan muslim hingga aktivis kemanusiaan yang sangat berpengaruh, baik di bidang sosial, keagamaan, hingga politik.

Dilansir dari website Laduni, Gus Sholah lahir di Jombang, 11 September 1942. Beliau adalah putra ketiga dari enam bersaudara pasangan KH. Wahid Hasyim (ayah) dan Sholichah (ibu). Sejak kecil Gus Sholah sudah terbiasa dengan lingkungan pendidikan, baik agama maupun secara umum.

Ketika awal pendidikan dasarnya yang ditempuh di SD Kebangkitas Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), di mana saat itu para gurunya tidak sedikit yang menjadi anggota pergerakan, termasuk orang-orang komunis. Pengalaman inilah yang membuat Gus Sholah terbiasa hidup dan berbaur di lingkungan heterogen.

Singkat cerita, antara tahun 1955-1958 Gus Sholah melanjutkan sekolahnya di SMP I Negeri Cikini, SMA Negeri I Budi Utomo yang termasuk sekolah favorit dan melanjutkan perguruan tingginya ke Institut Teknologi Bandung (ITB) memilih jurusan arsitektur.

Gus Sholah sejak masih duduk di bangku kuliah mulai merintis karirnya di bidang kontraktor. Kemudian pada tahun 1970 ia pun mendirikan perusahaan kontraktor bersama dua orang temannya dan kakak iparnya yaitu Hamid Baidawi.

Tujuh tahun berlalu, tepatnya pada 1977 perusahaan yang dibangun Gus Sholah bersama teman dan kakak iparnya itu harus berakhir.

Selanjutnya setelah ia tidak memegang lagi usahanya itu, Gus Sholah bergabung dengan biro konsultan PT MIRAZH sebagai Direktur Utama Perusahaan Konsultan Teknik (1978-1997), Ketua DPD Ikatan Konsultan Indonesia/Inkindo DKI (1989-1990), Sekretaris Jenderal DPP Inkindo (1991-1994), Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasional (1995-1996), dan masih banyak pengalaman lainnya.

Sebagai seorang keturunan Masyayikh, karir yang ditempuh oleh Gus Sholah memang berbeda dengan saudaranya yang lain. Misalnya Gus Dur yang sejak kecil sudah mendalami ilmu agama Islam khususnya dalam bidang kepesantrenan.

Hingga pada tahun 1998 Gus Sholah meninggalkan semua karirnya itu yang berlatar belakang arsitektur itu. Ia mulai fokus membaca dan menulis. Selanjutnya tahun 1993, Gus Sholah menjadi pimpinan redaksi Majalah Konsultan. Setalah itu aktif menulis di harian Republika, Kompas, Suara Karya, dan lain sebagainya.

Tulisan-tulisan Gus Sholah banyak menyoroti berbagai persoalan yang sedang dihadapi umat, dan bangsa. Pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasannya seringkali berbeda dengan Gus Dur. Bahkan ia pernah berpolemik dengan Gus Dur tentang hubungan agama dan negara.

Selain menulis di media massa, Gus Sholah juga banyak melahirkan karya ke dalam buku, yaitu di antaranya: Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001), Mendengar Suara Rakyat (September 2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (Nopember 2003), Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (Nopember 2004).

Pada Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Gus Sholah ikut maju sebagai salah seorang kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kemudian ia terpilih sebagai salah satu Ketua PBNU periode 1999-2004. Pada Muktamar NU tahun 2004 di Solo, Gus Sholah yang ditawari kembali menjadi ketua PBNU, namun beliau menolak tawaran tersebut.

Pada tahun 2006 Gus Sholah resmi menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, yakni untuk menggantikan KH. Muhammad Yusuf Hasyim atau panggilan akrabnya Pak Ud, yaitu putra bungsu Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy'ari dan Nyai Nafiqoh.


Perjalan Gus Sholah memang sangat panjang, mulai bergulat di dunia arsitektur hingga akhirnya memegang amanah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Nama, karya, ilmu hingga kepribadiannya akan senantiasa dikenang oleh semua orang, termasuk para santrinya.

Salah satunya adalah alumnus Ponpes Tebuireng, Fathurrochman. Ia juga sangat dekat dengan sosok Gus Sholah semasa di pondok. "Salah satu kiai yang paling berpengaruh dalam hidup saya dipanggil Allah SWT. Beliau sangat sabar mendidik santri-santrinya agar menjadi penulis, manusia jujur, dan tulus," katanya.

Fathurrochman mengatakan, di saat ia merasa gagal mengenal dirinya, Gus Sholah yang mengajaknya menjadi seorang pemberani. Membuka ruang dialog, dan mendobrak kejumudan. "Hingga kami sadar bahwa semua orang adalah penting dan berpotensi sama."

Gus Sholah menikah dengan Ibu Farida dan dikaruniai tiga orang anak. Yakni Irfan Asy'ari Sudirman (Ipang Wahid), Iqbal Billy, dan Arina Saraswati. Selamat jalan Gus Sholah, semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik.

(okezone.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Panglima TNI dan Kapolri Pimpin Rapat Bersama Gugus Tugas Covid-19 Madiun
Beresiko Tinggi, Pemkab Siak Berikan Jaminan Sosial kepada Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19
Semua Unsur Gugus Tugas di Inhu Rutin Sosialisasikan New Normal di Area Publik
Dewan Ini Sebut Kinerja Gugus Tugas Covid-19 Pelalawan Maksimal, Minta Sosialisasi New Normal Gencar
Polri Soal Guyon Gus Dur: Tak Ada BAP, Tak Ada Kasus

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter