Home  / Politik
ANALISIS
Di Balik Gagalnya Jokowi Tembus Benteng Prabowo di Jawa Barat
Jumat, 19 April 2019 | 08:34:08
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jokowi dan Ma’ruf belum bisa menembus dominasi Prabowo di Jawa Barat di Pilpres 2019.
JAKARTA - Prabowo Subianto diprediksi kembali unggul di Jawa Barat di Pilpres 2019. Berdasarkan hasil hitung cepat CSIS dengan 100 persen suara masuk hingga Kamis (18/4), Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga Uno meraup 61,24 persen suara. Jumlah ini selisih cukup jauh dengan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin yang memperoleh 38,76 persen suara. 

Hasil hitung cepat ini seolah mengulang perolehan suara Pilpres 2014. Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa menang telak di Jabar dengan perolehan suara mencapai 59 persen. Sementara Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla hanya memperoleh sekitar 40 persen suara. 

Pengamat politik Universitas Padjajaran Firman Manan mengatakan, dominasi suara untuk Prabowo-Sandi di Jabar tak lepas dari karakteristik religius pemilih di tanah pasundan. Selain itu, sejumlah isu yang diembuskan sejak Pilpres 2014 mulai dari PKI hingga kriminalisasi ulama yang ditudingkan pada Jokowi juga dinilai 'berhasil'.

"Nyaris tidak ada perubahan suara dari 2014. Artinya basis massa Prabowo memang cukup kuat dan kelihatannya terawat didukung isu terkait sentimen agama ini," ujar Firman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (18/4). 

Berbagai dukungan dari ustaz beberapa waktu belakangan juga dinilai berpengaruh pada perolehan suara Prabowo-Sandi di Jabar. Sebut saja ustaz Abdul Somad, Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, hingga Adi Hidayat.

"Itu ikut memberi pengaruh cukup besar pada para pemilih," katanya. 

Di sisi lain, minimnya perolehan suara Jokowi-Ma'ruf di Jabar tak lepas dari kinerja mesin partai pengusung calon nomor urut 01 itu yang tidak maksimal. Firman mengatakan, dari sejumlah partai pengusung, hanya PDIP yang dinilai secara penuh mengkampanyekan Jokowi-Ma'ruf. Sementara partai lain dianggap hanya fokus pada pemenangan pemilu legislatif. 

Firman menyebutkan salah satunya adalah Golkar. Partai berlambang beringin itu dinilai memiliki rekam jejak cukup baik di Jabar dengan berada di peringkat tiga besar. Sementara PPP sendiri juga dinilai memiliki basis massa tradisional yang cukup besar di Priangan Timur.

"PKB juga sebenarnya cukup kuat di Cirebon. Mestinya kalau mesin partai efektif bekerja, (selisih) angkatnya tidak sejauh ini," ucap Firman.

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah dukungan kepala daerah yang juga tak maksimal pada Jokowi. Padahal, menurut Firman, mayoritas kepala daerah di Jabar mendukung Jokowi-Ma'ruf, termasuk Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang telah mendeklarasikan dukungan. Bahkan dalam beberapa kesempatan, mantan wali kota Bandung itu ikut dalam kampanye Jokowi-Ma'ruf. 

Wali Kota Bogor yang juga kader Partai Amanat Nasional Bima Arya bahkan terang-terangan mendukung Jokowi-Ma'ruf.

"Tapi kelihatannya kepala daerah ini tidak melakukan kerja politik yang efektif sehingga tidak ada perubahan. Hanya sekadar deklarasi. Belum lagi isu-isu kepala daerah harus cuti atau kinerja Ridwan Kamil yang dianggap tak beres di Jabar," tuturnya.

Firman mengatakan, tingginya perolehan suara Prabowo-Sandi ini juga tak lepas dari fenomena yang terjadi di pemilihan gubernur Jabar pada 2018. 

Saat itu, meski Ridwan Kamil meraih suara tertinggi, pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang diusung Gerindra-PKS mampu mendongkrak perolehan suara hingga berada di posisi dua. Hasil ini berbeda dengan sejumlah survei yang selalu menempatkan Sudrajat-Syaikhu di posisi ketiga di bawah pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyana. 

"Sebelum pilgub Jabar elektabilitas Jokowi sebenarnya sudah lumayan. Tapi kemudian fenomena pilgub Jabar ini memengaruhi. Muncul tagar 2019 ganti presiden dan momentum itu yg terus dijaga sampai sekarang," ujarnya.

Pola serupa juga terjadi di DKI Jakarta. Dari sejumlah hasil hitung cepat, Jokowi-Ma'ruf hanya unggul tipis dengan Prabowo-Sandi. Menurut Firman, hal itu juga dipengaruhi pola yang terjadi dalam Pilgub DKI 2017 dan sejumlah aksi bela Islam berjilid 411, 212, hingga 313 yang beberapa kali digelar.

"Gerakan ini juga berpengaruh karena secara langsung atau tidak memberikan delegitimasi dalam pemerintahan Jokowi. Dari situ kemudian didorong untuk dukung Prabowo," ucapnya. 

Hal senada disampaikan pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego. Ia menilai, basis massa Islam yang kuat di Jabar menjadi faktor tingginya perolehan suara Prabowo-Sandi. Keberhasilan ini tak lepas dari kinerja PKS sebagai salah satu pengusung calon nomor urut 02 itu di Jabar.

"Saya kira itu karena PKS-nya. Jabar ini cukup besar didukung pemilih PKS, meski gubernurnya bukan PKS lagi," katanya. 

Berbalik dengan provinsi Jawa Tengah yang perolehan suaranya lebih didominasi pasangan Jokowi-Ma'ruf. Berdasarkan hasil hitung cepat CSIS dari 99,66 persen suara yang masuk, Jokowi-Ma'ruf unggul dengan 77,32 persen. Sementara Prabowo-Sandi hanya 22,68 persen. 

Indria mengatakan, keunggulan Jokowi dipengaruhi basis massa yang cukup besar di wilayah tersebut. Selain itu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga berasal dari PDIP. 

"Jadi memang selain basis massa, kalau di Jateng gubernurnya juga banyak berpengaruh," kata Indria.

(cnnindonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Barcelona Sulit Menang Tanpa Messi
Duta Kabupaten Bengkalis Mela Yulindra Dara Provinsi Riau 2019
Dewan Setujui RPJMD 2019-2024
254.173 Lowongan CPNS Dibuka Oktober, Siapkan Syarat Ini
Pekanbaru Job Ekspo, Disnaker Tawarkan 1.879 Lowongan Kerja

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad