Home  / Politik
Ratusan Kiai dan Guru Ngaji se Madura Siap All Out Menangkan Jokowi-Amin
Senin, 25 Maret 2019 | 06:24:20
(Doc. JARRAK)
Prosesi penyematan secara simbolik pin dan kaus 01 oleh K. Faris Hamdi Siraj, Pengasuh PP. Annuqayah Lubangsa Selatan, pada kegiatan Halaqah Wathaniyah dan Deklarasi Kiai dan Alumni Pesantren se Madura di PP. Al-Muttahedah, Guluk-Guluk, Sumenep, Ahad, 24 Maret 2019.
SUMENEP - Dukungan untuk pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (Capres-Cawapres), Joko Widodo-KH. Ma'ruf Amin terus mengalir. Kali ini, ratusan kiai dan guru ngaji se Madura kompak mendeklarasikan dukungan kepada paslon norut 01 di Pilpres 2019, Ahad (24/03).

Pengukuhan dukungan para kiai tersebut dilakukan melalui kegiatan Halaqoh Wathaniyah bertajuk "Satukan Munajat Menuju Indonesia Bermartabat" yang digelar oleh Majelis Kiai dan Alumni Pondok Pesantren se-Madura.

Bertepat di Pondok Pesantren Al-Muttahedah, Jalan Raya Lengkong Bragung, Kabupaten Sumenep, Madura, sekitar 500-an kiai, guru ngaji, dan santri se-Madura hadir memantapkan dukungan untuk Jokowi-Amin.

Kegiatan diawali dengan istighosah dan tahlil yang dipimpin langsung oleh KH. Muhammad Widadi, Pengasuh Pondok Pesantren Salaf Al-Is'af, Kalabaan. Dilanjutkan dengan Ceramah Wathaniyah oleh KH. Qusyairi A. Zaini, Koordinator Wathoniyah sekaligus Pengasuh PP. Gadu Ganding, Sumenep.

Dalam ceramahnya, KH. Qusyairi menyebut ada kelompok yang mengatasnamakan Islam, tapi hendak memecah-belah dan merusak persaudaraan Muslim. Mereka adalah kelompok Islam puritan yang ingin mengganti sistem kenegaraan kita menjadi khilafah islamiyah.

"Padahal, sistem khilafah,  bersifat utopis. Alih-alih meciptakan kehidupan yang islami, justru dengan memaksakan khilafah akan terjadi pertumpahan darah karena negeri ini sangat beragam, bukan seperti Arab Saudi," terang dia.

Strategi Islam garis keras, lanjut dia, dengan menjelek-jelekkan pemerintah dan organisasi sosial kemasyarakatan, seperti Nahdlatul Ulama (NU). Selama lima tahun terakhir, banyak tersebar berita bohong yang menyerang Nahdlatul Ulama dan pemerintah sehingga masyarakat yang telah tekontaminasi akan gampang marah.

"Ada beberapa berita bohong atau hoaks yang begitu mempengarahi mindset masyarakat, di antaranya isu bahwa Presiden Joko Widodo adalah simpatisan Partai Komunis Indonesia dan anti ulama. Padahal, isu tersebut tidak benar," kata dia.

Disebutkan KH. Qusyairi, Jokowi dinilai sangat dekat dengan ulama. Ketika menjadi Wali Kota Solo, Jokowi salalu meminta saran ulama. Bahkan, kata dia, saat hendak melakukan relokasi pedagang kaki lima (PKL), Jokowi meminta persetujuan ulama.

"Relokasi pun berjalan lancar dengan mengedepankan pendekatan persuasif. Makanya Jokowi itu sosok muslim yang taat, ia istiqamah puasa sunnah Senin Kamis dan sering selalu menyempatkan diri salat jamaah," pungkas dia.

Pembacaan deklarasi dilakukan di akhir rundown kegiatan bersamaan dengan penyematan secara simbolik pin dan kaus 01. K. Faris Hamdi Siraj, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan, maju memimpin pembacaan deklarasi diikuti oleh ratusan kiai, guru ngaji, dan santri se Madura.

(jarrak.id)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Massa Gelar Aksi Desak Bawaslu Nyatakan Pemilu 2019 Curang
Terungkap, Alasan Jokowi Sebar Rapelan & Gaji ke-13 Barengan
Jokowi Kalah di Mandailing Natal, Bupati Mengundurkan Diri
Bali Sumbang Suara Tertinggi untuk Pilpres, Jokowi Telepon Gubernur Koster
Personel Bakamla Terima Pengajian Dari KH Ridwan Muhammad Yusuf

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad