Home  / Peristiwa
BMKG: Waspada Alarm Gempa Bumi dari Selatan Pulau Jawa
Rabu, 24 Juni 2020 | 22:08:29
(Istockphoto/ Enot-poloskun)
Ilustrasi gempa bumi.
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan masyarakat mesti waspada terhadap sinyal gempa bumi dari selatan Pulau Jawa. Sebab, zona gempa khususnya di selatan Pacitan, Sukabumi, dan Lebak dinilai cukup aktif.

Hal itu disebabkan oleh terjadinya gempa akhir-akhir ini di wilayah tersebut, menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami, Daryono. Salah satunya gempa tektonik yang mengguncang wilayah selatan Pacitan pada 22 Juni 2020 bermagnito 5,0 pukul 02.33 WIB dini hari.

"Zona gempa di selatan Pulau Jawa khususnya di selatan Pacitan, Sukabumi, dan Lebak cukup aktif. Hal ini tampak dari seringnya wilayah tersebut terjadi gempa akhir-akhir ini," kata Daryono dikutip dari keterangan rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (24/6) malam.

Menurut Daryono, gempa itu memiliki kedalaman menengah dan memiliki spektrum guncangan yang luas serta mampu memberikan efek getaran ke wilayah yang sangat jauh dari pusat gempa.

Sebab guncangan gempa sempat mengarah ke timur mencakup wilayah Pacitan, Wonogiri, Trenggalek, Nganjuk, Ponorogo, Tulungagung sampai ke Malang dan Karangates.

Selain itu guncangan gempa juga mengarah ke barat yaitu di Klaten, Sukoharjo, Yogyakarta, Bantul, Maguwoharjo, Sleman, Purworejo, Banjarnegara sampai Purwokerto.

"Hasil monitoring BMKG terhadap aktivitas kegempaan sejak bulan Mei 2020 menunjukkan bahwa di wilayah selatan Pacitan terdapat kluster aktivitas gempa yang lebih aktif daripada wilayah sekitarnya. Artinya, di wilayah ini memang terjadi peningkatan aktivitas kegempaan," jelas Daryono.

Selain itu, aktivitas gempa signifikan dengan magnitudo di atas M 5,0 selama period bulan Maret hingga Mei 2020 menurut BMKG juga menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan.

Tak hanya gempa dangkal kurang dari 60 kilometer yang jumlahnya meningkat, tetapi juga gempa berkedalaman menengah antara 60 sampai 300 kilometer juga terjadi peningkatan.

"Meningkatnya aktivitas gempa yang terjadi akhir-akhir ini tentunya patut diwaspadai. Gempa signifikan yang terjadi tersebut di atas dapat menjadi alarm yang mengingatkan kita bahwa zona gempa Samudra Hindia selatan Jawa aktivitasnya meningkat," tutur Daryono.

Daryono pun kembali membeberkan hasil monitoring BMKG terhadap aktivitas gempa terkini di selatan Pacitan menunjukkan bahwa dalam sepekan terakhir telah terjadi gempa sebanyak lima kali yaitu dengan kekuatan M 3.8 dan M 2.9 pada 16 Juni 2020, gempa M 4.7 pada 18 Juni 2020, dan gempa M 3.2 dan M 5.1 pada 21 Juni 2020.

"Sejarah juga mencatat bahwa wilayah selatan Pacitan sudah beberapa kali dilanda gempa kuat dan beberapa di antaranya memicu tsunami," ujar Daryono.

Berikut rentetan peristiwa gempa kuat dan tsunami di selatan Pacitan yang berhasil dihimpun BMKG:

1. Gempa Pacitan 4 Januari 1840
Gempa ini mengguncang seluruh wilayah di Pulau Jawa. Tak lama berselang, muncul gelombang laut tinggi di pantai selatan Jawa termasuk Pantai Pacitan yang diyakini sebagai tsunami.

2. Gempa Pacitan 20 Oktober 1859
Peristiwa ini juga memicu tsunami yang menerjang Teluk Pacitan dan kala itu menelan dua korban jiwa yaitu awak Kapal Ottolina.

3. Gempa Pacitan 10 Juni 1867
Gempa ini menyebabkan guncangan kuat mencapai skala intensitas VIII-IX MMI. Sebanyak 500 orang meninggal dunia dan ribuan rumah rusak.

4. Gempa Pacitan 11 September 1921
Gempa bermagnitudo M 7,6  dirasakan sampai Pulau Sumatra dan Sumbawa. Gempa ini menyebabkan banyak rumah rusak di Pulau Jawa lalu disusul tsunami yang teramati di Pantai Selatan Jawa.

5. Gempa 27 September 1937
Gempa ini memiliki guncangan bermagnitudo M 6,8. Dampak gempa ini menyebabkan guncangan hebat yang mencapai VIII-IX MMI dan 2.200 rumah roboh.

"Catatan gempa kuat masa lalu semacam ini dapat menjadi data dukung kesiapsiagaan kita, bahwa gempa kuat memiliki periode ulang dengan periodesitas tertentu. Sehingga gempa kuat yang terjadi di suatu wilayah sangat mungkin dapat berulang kembali kejadiannya," tutur Daryono.

"Informasi ini sekadar pengingat kita bahwa potensi gempa itu ada dan harus direspon dengan langkah mitigasi yang cepat dan tepat untuk meminimalisir risiko jika terjadi gempa kuat," sambungnya.

Maka dari itu, Daryono menghimbau kepada pemerintah daerah untuk melakukan upaya sosialisasi mitigasi misalnya dengan cara tidak membangun permukiman dan tempat usaha di pantai rawan tsunami.

"Selain itu masyarakat pesisir perlu memahami konsep evakuasi mandiri, dengan menjadikan gempa kuat yang dirasakan di pantai sebagai peringatan dini tsunami," pungkasnya.

(CNNIndonesia.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
LIPI Respons Riset ITB soal Potensi Tsunami 20 Meter di Jawa
Penanganan Abrasi di Pulau Terluar, Gubri Sebut 139 Kilometer Sudah Masuk RPJMN
Bupati Rohil H Suyatno Kukuhkan Paguyuban Kesenian Etnis Jawa Setyo Budoyo di Bagan Sinembah
Waspada, Ada KPK Palsu Peras Kepala Daerah Jelang Pilkada
Waspada Terhadap Pungli, Polsek Teluk Meranti Sosialisasi Saber Pungli Rutin ke Masyarakat

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad
free web site hit counter