Home  / Peristiwa
Kenapa Maluku Kerap Diguncang Gempa?
Jumat, 15 November 2019 | 13:55:50
Foto: BMKG
Lokasi sebaran Gempa Swarm Jailolo di Halmahera Barat, Maluku.
Gempa di dengan magnitudo 7,1 mengguncang Maluku Utara pada Kamis malam, 14 November 2019, sekitar pukul 23.17. Lokasi gempat tepatnya terjadi di barat laut Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara (Malut).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga sempat memberikan peringatan dini tsunami, tapi sudah dicabut dini hari tadi. Setelah gempa tersebut, terjadi beberapa gempa susulan hingga pagi ini.

Dalam unggahan akun Instagram @dongenggeologi, dijelaskan mengapa Maluku kerap diguncang gempa besar. Kawasan perairan Maluku yang memanjang hingga ke kepulauan Filipina memang rawan gempa karena tergencet dua lempeng di kedua sisinya.

"Seiring waktu lempeng Samudra Maluku yang menunjam seluruhnya akan berada di bawah kedua lempeng yang mendesaknya. Nantinya lempeng tersebut terbenam ke dalam astenosfer," bunyi keterangan tersebut.

Wilayah ini disebut divergent double sunduction. Dalam situs geologi.co.id dijelaskan bahwa daratan Maluku dibentuk oleh jepitan tiga lempeng tektonik utama. Lempeng Eurasia mendorong dari sisi barat, lempeng Laut Filipina dari sisi timur dan lempeng Australia dari sisi selatan.

"Interaksi ketiga lempeng dimanifestasikan oleh tiga mikrolempeng. Di sisi barat, ada mikrolempeng Sangihe, yang turut membentuk lengan utara pulau Sulawesi dan kepulauan Sangihe. Sementara di sisi timur ada mikrolempeng Halmahera yang menjadi pondasi bagi pulau Halmahera," tulis keterangan dalam situs tersebut.

Mikrolempeng Sangihe dan Halmahera ditumbuhi gunung-gunung berapi. Ada 10 gunung berapi aktif yang tumbuh di atas mikrolempeng Sangihe dan enam gunung berapi aktif di mikrolempeng Halmahera.

Di bawah kedua mikrolempeng tersebut terdapat lempeng tektonik mikro ketiga, yakni mikrolempeng Laut Maluku. Mikrolempeng ini terjebak dan telah terbenam sepenuhnya di bawah mikrolempeng Sangihe dan Halmahera.

"Jejak-jejak keberadaan mikrolempeng laut Maluku masih bisa ditelusuri berdasarkan distribusi kedalaman sumber gempa-gempa tektonik yang ditimbulkan oleh gerakannya," menurut keterangan tersebut.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan bahwa gempa yang mengguncang Malut semalam merupakan jenis gempa menengah akibat adanya deformasi atau penyesaran dalam Lempeng Laut Maluku. Berdasarkan hasil analisis meknisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).  

Sementara itu, Kepala Bidang pencegahan Bencana BPBD Sulawesi Utara, Sri Intan mengatakan bahwa sudah ada 59 gempa susulan setelah gempa di Jailolo, Malut bermagnitudo 7,1 yang terjadi semalam.

"Tercatat ada 59 gempa susulan," katanya di Manado, Jumat, 15 November 2019, seperti dikutip dari VIVAnews.

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Dibantai Vietnam 0-3, Indonesia Gagal Raih Emas SEA Games
Vietnam Dijanjikan Miliaran Rupiah Jika Kalahkan Indonesia
Emas Melebihi Target, Menpora Pastikan Anggaran Bonus Aman
Pengunjung Pameran Seni Ketahuan Makan Pisang Senilai Rp1,6 M
Ops Antik Muara Takus 2019, Polresta Pekanbaru dan Jajaran Ungkap 82 Kasus Narkotika

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad