Home  / Peristiwa
Awal Mula Terbongkarnya Jasad Dicor di Lantai Musala, Pelaku Niat Fitnah Tetangga
Jumat, 8 November 2019 | 19:59:38
©2019 Merdeka.com/Muhammad Permana
Pelaku Pembunuhan Mayat Dicor Di Musala.
Kasus jasad dicor di lantai musala yang terjadi di Jember begitu mengejutkan. Korban atas nama Surono (50) sudah dibunuh dengan keji, jasadnya malah 'ditanam' di lantai musala.

Pelaku sendiri bukan orang lain. Dua pelaku yang kini telah mendekam di balik jeruji besi Polres Jember adalah Busani (45) istri korban serta Bahar Mario (27) anak kandung korban.

Kemudian yang menjadi pertanyaan, bagaimana jasad korban bisa ditemukan. Logikanya jika jasad sudah dicor di lantai musala maka baunya saja tidak akan tercium apalagi tulang belulangnya bisa ditemukan.

Fakta terungkap berawal dari pertanyaan para tetangga perihal keberadaan Surono yang sudah 7 bulan tak terlihat. Kepada para tetangga Busani mengatakan jika suaminya tengah merantau ke Lombok, Nusa Tenggara Barat.

"Memang dulu, beberapa tahun yang lalu, Pak Surono pernah bekerja ke luar daerah dan luar negeri sebagai TKI," ujar Iwan Joyo Suprapto, salah seorang tetangga Surono kepada Merdeka.com.

Kebohongan tersebut juga diceritakan Busani kepada Jumarin, tetangganya yang juga menjadi selingkuhannya. Beberapa saat kemudian, Busani dan Jumarin akhirnya nekat melangsungkan pernikahan secara siri.

"Saat pernikahan siri antara B (Busani) dan saksi J (Jumarin), pelaku BHR (Bahar) juga ikut datang dan merestui," tutur Kapolres Jember, Alfian Nurrizal.

Bahar Diberitahu Busani Telah Dicerai Jumarin

Beberapa bulan menjalani biduk rumah tangga, Jumarin akhirnya menceraikan Busani. Alasannya, istri Jumarin yang bekerja di Malaysia secara mendadak pulang.

Merasa dicampakkan, Busani kesal karena Jumarin lebih memilih istri pertamanya. Akhirnya, Busani menghubungi Bahar yang merantau bekerja di Bali dan menceritakan perceraian tersebut.

Pada 3 November 2019, Bahar pulang ke desanya di Jember dengan perasaan sakit hati terhadap Jumarin.

Bahar Berniat Fitnah Jumarin


Dendam atas perlakuan terhadap Busani, ibunya, Bahar berencana memfitnah Jumarin. Hal itu diungkap Kepala Dusun Juroju, Misri alias Pak Edi. Misri mengaku diberitahu Bahar bahwa ayahnya, Surono telah dibunuh Jumarin. Jasadnya berada di bawah lantai musala rumahnya.

"Bahar cerita ke saya, bahwa di dalam rumahnya, terpendam mayat ayahnya yang dibunuh oleh Jumarin. Persisnya di bawah lantai musala," ungkap Misri.

Sebelum ditetapkan menjadi tersangka, kepada salah satu tetangganya, Bahar bercerita bahwa dia bermimpi didatangi arwah sang ayah. Dalam mimpi tersebut, sang ayah bercerita kepada Bahar bahwa dirinya dikubur di salah satu sudut rumah.

"Kedua pelaku ini memang pintar ngomong, pandai berkelit. Makanya harus ada teknik khusus dalam interogasi pertanyaan," ujar salah satu penyidik yang enggan disebut namanya.

Kepala Dusun Lapor ke Polisi

Mendapat cerita tentang pembunuhan dari Bahar, spontan Misri melapor ke Polsek Ledokombo, yang kemudian diteruskan ke Polres Jember. Mendapat laporan pembunuhan, Polres Jember dengan dibantu tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim pada hari Senin (04/11) lalu, terjun ke rumah Surono.

Selama beberapa jam dilakukan penggalian hingga akhirnya ditemukan jasad Surono yang sudah terkubur selama tujuh bulan lebih. Jasad tersebut dibungkus sarung dan sudah dalam kondisi tidak utuh lagi. Disampingnya, ditemukan linggis yang dijadikan alat untuk menghilangkan nyawa Surono.

Semula, rencana Bahar untuk menakut-nakuti Jumarin nampak berjalan sukses. Berkembang isu, bahwa Jumarin membunuh Surono, sang juragan perkebunan kopi, agar bisa menikahi Busani. Jumarin yang ketakutan, akhirnya mengamankan diri ke Polsek Ledokombo.

"Mengamankan diri, bukan ditahan. Dia sebagai saksi, khawatir, sebab keluarga korban cukup banyak di sana," ujar AKP Wardoyo Utomo, Kapolsek Ledokombo, saat dikonfirmasi terpisah.

Kepada polisi, Bahar bersikeras jika Jumarin-lah yang telah membunuh ayahnya. Namun, polisi tak langsung percaya kepada pengakuan Bahar bahwa pembunuhnya adalah Jumarin. Melalui interogasi mendalam, posisi Bahar mulai terjepit.

Dari semula ingin menolong ibunya, Bahar malah balik menuduh bahwa Busani punya andil dalam kematian Surono. Busani yang dituduh anak kandungnya ini, akhirnya balik menuduh Bahar lah yang seorang diri menghabisi Surono. Motifnya ekonomi, yakni ingin menguasai harta Surono.

"Bahar juga ada rasa kecewa, karena pada panen kopi bulan Agustus 2019, yang hasilnya mencapai lebih dari Rp 100 juta, Bahar merasa tidak mendapat bagian. Hanya dinikmati oleh Busani dan Jumarin," tutur Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal.

TKP Berada di Desa Terpencil

Semula, tidak ada yang menyangka jika di rumah Surono yang ada di Dusun Juroju, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Jember, bersemayam sebuah mayat hasil pembunuhan. Mayat tersebut tidak lain adalah Surono sendiri, sang pemilik rumah, yang dibunuh secara keji oleh istri dan anak kandungnya sendiri.

Rumah tersebut agak terpencil. Dari perkampungan terdekat, untuk menuju rumah Surono harus melewati sebuah sungai kecil yang dihubungkan oleh sebuah jembatan dari bambu. Karena itu, tidak banyak yang tahu, jika Surono sudah tiada sampai akhirnya kasus pembunuhan tersebut terbongkar.

Sebagaimana desa-desa lain di Kecamatan Ledokombo, Desa Sumbersalak ini dikenal sebagai salah satu kantong pengiriman TKI. Salah satu anak pasangan Surono-Busani, yakni Nur Fatim alias Fatimah, juga sempat pergi merantau ke Malaysia untuk bekerja sebagai pekerja migran atau TKI.

(merdeka.com)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.riaueditor.com
BERITA TERKAIT:
Driver Ojol yang Bawa Paksa Jasad Bayi dari RS Akan Dipolisikan
Dipicu Solidaritas, Rombongan Ojol Nekat Bawa Paksa Jasad Bayi dari RS
Gelagat Mencurigakan Tukang Gali Kubur di Malam Jenazah PNS Kementerian PU Dicor
Ini Detik-detik Pelaku Bunuh PNS Kementerian PU di Mobil, Korban Dijerat dari Belakang
Alasan PNS Kementerian PU Dibunuh dan Jenazahnya Dicor, Berawal dari Jual Beli Mobil

Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BERITA TERBARU
Karirpad